Wawancara Eksklusif

Alasan Dewi Tanjung Polisikan Novel Baswedan, Tak Mungkin Cari Sensasi Nyawa Taruhannya

Novel Baswedan, merupakan orang keenam yang dilaporkannya kepada aparat kepolisian.

Alasan Dewi Tanjung Polisikan Novel Baswedan, Tak Mungkin Cari Sensasi Nyawa Taruhannya
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Jurnalis Antikorupsi bersama pegawai KPK melakukan aksi damai di halaman Gedung Merah Putih, KPK, Jakarta, Rabu (12/4/2017) malam. Aksi tersebut sebagai bentuk dukungan moral kepada penyidik KPK Novel Baswedan yang tengah mendapatkan perawatan pascainsiden air keras dan menuntut pimpinan KPK agar terus melindungi pegawainya dari segala bentuk teror. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

NAMA Dewi Tanjung belakangan ini ramai diperbincangkan. Politisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu menjadi pembicaraan, karena melaporkan penyidik KPK, Novel Baswedan, telah merekayasa insiden penyiraman air keras ke wajahnya. Laporan itu dibuat ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya. Upaya pelaporan itu bukan pertama kali yang dilakukan oleh Dewi Tanjung.
Sebelumnya, dia pernah melaporkan advokat Eggy Sudjana, mantan ketua MPR RI, Amien Rais, ulama, Bachtiar Nasir, tokoh Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, dan warga masyarakat, Lisa Amartatara. Novel Baswedan, merupakan orang keenam yang dilaporkannya kepada aparat kepolisian. Lantas, apa yang menjadi alasan melaporkan Novel dan siapa Dewi Tanjung?

Berikut wawancara ekslusif Tribun dengan Dewi Tanjung, Minggu (10/11).

Apa latar belakang sampai akhirnya melaporkan Novel Baswedan kepada aparat kepolisian?
Tidak ada yang melatarbelakangi. Itu, cuma rasa empati kepada kasus ini. Di awal saya simpati, empati saya tinggi sama Novel Baswedan. Bisa dilihat di status-status saya membela dia. Mengutuk keras. Kenapa saya sampai seperti ini? Saya melihat masyarakat itu gaduh dan timbul kecurigaan. Kegaduhan di masyarakat, karena ketidakjelasan kasus hukum ini. Dari situ saya mulai mempelajari. Saya pelajari.

Timbul kegaduhan di masyarakat soal insiden penyiraman Novel Baswedan yang tidak kunjung terungkap. Masyarakat mana yang gaduh?
Bisa dilihat di media sosial. Di media sosial itu juga banyak yang tidak percaya kasus ini. Dan, mereka butuh kepastian. Mereka butuh kepastian.

Sempat menaruh empati kepada Novel Baswedan, karena mengalami penyiraman air keras?
Di media sosial di Facebook saya dua tahun yang lalu. Jadi empati saya tinggi. Di saat dia berjuang memberantas korupsi, tiba-tiba mendapat perlakuan ini.

Berawal dari rasa empati, lalu, malah balik melaporkan Novel Baswedan, karena menilai ada kejanggalan. Kejanggalan seperti apa?
Saya melihat ada rekaman CCTV yang di rilis oleh Tempo. Saya perhatikan di situ, pernyataan awal Novel Baswedan situasi di situ sepi tidak ada orang, tetapi di dalam rekaman CCTV ternyata ada dua orang memakai mukena. Lalu, saya pelajari di berita-berita yang beredar bahwa pelaku itu memakai mug atau cangkir karena ditemukan oleh tim labfor ada cangkir kaleng di lokasi. Saya pelajari, akhirnya saya peragakan sendiri cangkir dengan botol lebih mana efek air itu keluar ternyata cangkir. Sekarang kita berlogika, apabila kita pegang cangkir lalu naik motor, motor tidak pelan-pelan banget loh itu agak sedikit kencang. Pasti begitu dia siram itu air tumpahan akan semua keluar dari cangkir dan mengenai wajah. Lalu, saya kan menghitung jarak dia terkena itu di lempar air keras. Jadi, maksud saya itu di situ saya mulai bingung. Novel katanya berlari kembali ke masjid, Saya baca dari media ada 30 meter ada 50 meter, tapi yang 50 meter atau 30 meter lah kita taruh. Jarak dia dalam kondisi kesakitan, kepanasan, dia lari ke sana tidak mungkin dia dalam kecepatan, karena dia memakai gamis.
Nah, kalau dia lari, dia akan jatuh terjerembab. Karena posisi kita kesakitan, fokus tidak ke badan lain, tetapi ke muka. Fokus ke rasa sakit. Dia lari katanya mencuci muka di tempat wudhu teriak-teriak minta tolong. Itu yang saya baca di media. Nah, lalu baru datang orang, orang baru keluar untuk menolong dia. Sekarang, logika dari jarak dia lokasi penyiraman ke tempat wudu itu pasti memakan waktu, tentu si air keras sudah bereaksi ke kulit dia
Iya, kita kesiram air panas saja melepuh. Ini air keras di atas air panas. Nah, jadi disaat itu kan ada jeda waktu dia sampai ke tempat wudu. Itu air keras sudah bereaksi terutama kepada kulit tipis itu mata. Kenapa? Kalau kita perawatan wajah, mata ditutupi. Karena tidak boleh kena cream wajah.
Satu lagi bukti, waktu saya diwawancara di Kompas TV. Aiman kasih bukti beton saja hancur, di tempat kejadian perkara, tetapi muka Novel tidak. Harusnya kulit lebih sensitif. Jadi berawal dari situ saya mulai berani dengan segala risiko yang akan saya dapat. Contoh dengan perban dia, kepala dia yang diperban, hidung diperban, mata tidak diperban tahu-tahu buta parah sampai tidak bisa lihat. Saya bilang, Novel kan sudah melakukan operasi OKP, stential membran plasenta, berarti harusnya kornea atau selaput sudah membaik. Tetapi, kenapa memburuk
Berarti kalau seumpama dia memburuk, berarti bahasa itu, loh rumah sakit tidak bagus. Harusnya kan bagus, karena itu yang saya sempat bingung. Lalu, statement dari pengacara Novel bilang, Novel itu membaca saja sampai didekatkan ke mata karena sudah 30 persen dia mempunyai penglihatan. Tetapi, kalau jalan kenapa kencang orang buta. Katanya yang satu sudah buta permanen, satu lagi tinggal 30 persen seberapa sih kekuatan 30 persen melihat. Maksud saya ini secara kasat mata yang saya pelajari.

Akhirnya, melaporkan kejanggalan ini. Apa pelaporan sepengetahuan partai politik dan bagaimana sikap partai politik setelah pelaporan?
Iya, jadi tidak ada atas nama partai, tidak ada instruksi partai di luar ini semua. Makanya saya sedikit kecewa ditulis saya itu politisi PDI P. Padahal saya berbicara atas nama rakyat. Jadi kan saya tidak enak dengan partai yang tidak tahu apa-apa. Karena tidak ada hubungan dengan partai, partai tidak ikut campur. Tidak ada hubungan dengan partai. Dan saya sudah mengeluarkan statement di awal wawancara di SPKT tidak ada hubungan dengan partai, tetapi tetap di tulis.

Sejumlah pihak memandang upaya pelaporan ini merupakan bentuk mendeskreditkan KPK dan mengkriminalisasi Novel, bagaimana tanggapannya?
Saya tidak ada hubungan dengan KPK. Ini tidak ada hubungan dengan KPK. Makanya, saya cukup bingung, KPK kok mengeluarkan statement mereka pasang badang. KPK ini milik negara bukan milik Novel Baswedan. KPK milik negara bukan milik Novel Baswedan. Harusnya, KPK bekerja untuk negara bukan untuk Novel Baswedan. Dalam perkara ini, KPK tidak boleh berpihak. Karena saya tidak menuduh KPK, saya tidak menuduh Novel. Dari awal perkataan saya dugaan rekayasa. Ini dugaan. Bahasa hukum adanya rekayasa kejanggalan-kejanggalan yang saya terima. Semakin hari-semakin aneh.

Berselang beberapa hari dari pelaporan Novel Baswedan, advokat OC Kaligis mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Apa tidak terkesan, pelaporan ibu dan upaya pengajuan gugatan OC Kaligis itu merupakan bentuk serangan kepada Novel?
Saya tidak mengerti. Saya tidak paham itu. Saya tidak ikuti. Saya kecewa saja, mereka-mereka yang katanya bela korupsi, malah mengeluarkan statement ini itu kan bukan domain mereka mengeluarkan pendapat.

Kenal Novel Baswedan dan apakah pernah bertemu?
Tidak kenal. Secara pribadi saya tidak mengenal Pak Novel. Tidak mungkin beliau mau kenal saya, perempuan biasa bukan siapa-siapa. Saya ini bukan siapa-siapa. Saya itu hanya kader. Kader yang mencalonkan diri sebagai caleg DPR RI dari Bogor, tetapi gagal. Kalau ketemu langsung. Nah ini satu kebingungan saya pada 2018, pada waktu itu di Bandara. Saya melihat Novel Baswedan. Itu buta di kanan. Di Cengkareng. Itu dia kayak memakai sesuatu di kanan. Saya mengantarkan teman. Papasan saja. Saya tunjuk teman saya, itu penyidik KPK, Novel. Di Kanan. Tetapi, waktu kemarin di TV di kiri terus. Saya bilang sama teman, mungkin kayak kontrakan bisa pindah-pindah. Terminal 3 Garuda. Saya menunggu teman, teman datang habis saya antar teman saya satu lagi ke Bangka, saya tunggu teman dari luar kota, ketemu terus saya tunjuk, itu loh KPK, pada waktu itu begitu.

Kalau bertemu dengan Novel apa yang akan disampaikan?
Pertama saya tentu mengeluarkan rasa empati saya atas musibah yang dialami. Kita mencari fakta kebenaran hukum, ya, kalau memang pihak Novel bertemu dengan saya syukur Alhamdulillah. Saya sebagai warga negara yang baik hanya ingin tahu.

Selain Novel Baswedan, anda pernah melaporkan sejumlah orang ke kepolisian?
Iya, people power. Begitu Eggi Sudjana mengeluarkan bahasa provokasi mau people power, saya laporkan Eggi tanggal 23 April 2019. Tidak lama lagi saya laporkan Amien Rais, Bachtiar Nasir, Habib Rizieq. Jadi empat. Tidak lama, Lisa. Kasus Lisa yang menghina PDI Perjuangan atas kongres di Bali.

Sebelum melaporkan Novel Baswedan, Anda tahu risiko yang akan diterima?
Iya. tidak ada orang yang menyuruh saya. Saya melaporkan Novel ini bukan karena ngawur, bukan karena saya mau mengerjain polisi, ini bukan hal kecil. Risikonya saya, keselamatan saya, nyawa saya dan saya akan dituntut balik. Tidak mungkin saya bermain-main di kasus ini. Tidak mungkin saya mencari sensasi di kasus ini. Seperti statement ini, Dewi Tanjung ini mencari sensasi dari kasus saya. Saya sebelum melaporkan Novel Baswedan, saya sudah terkenal menjebloskan Eggy ke penjara. Selama 30 hari masuk pesantren. Jadi, tidak ada dan saya sudah terkenal di media sosial dan youtube saya kan semua viral. Salah besar kalau saya numpang nama dari Novel Baswedan. Kecil banget saya numpang tenar dari Novel Baswedan, saya hanya mencari fakta kebenaran agar kasus ini kejelasan dan kedudukan jelas di mata masyarakat tidak terjadi kegaduhan dan kecurigaan
Salah besar orang-orang ini menuduh saya mengkriminaliasi Novel, lalu menyeret ke KPK itu salah besar. Karena tidak ada hubungan dengan KPK. Lalu, salah besar Novel mengatakan saya ngawur. Lalu, saya mau mengerjai polisi. Nanti terbalik loh, dia atau saya yang mau mengerjai polisi. Makanya, kenapa saya melaporkan ke polisi, karena yang bisa menyelidiki ini polisi.

Pasca melaporkan, apakah sudah pernah menerima teror atau ada orang yang nongkrong terus di dekat kediaman rumah?
Iya, kalau dicaci maki sama pendukung Novel sudah pasti. Sampai saat ini Alhamdulillah belum. Karena tidaklah ya, kalau sampai itu terjadi kan orang bisa melihat saya berseteru dengan siapa saat ini. Jadi kalau sampai itu terjdi saaya serahkan sama Allah SWT. termasuk Allah yang membacking saya melindungi saya selama ini dalam menegakkan kebenaran mencari fakta kebenaran. (gle/wly)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved