Terima Penghargaan Karena Jasanya, Inilah Cerita Cek Molek Tentang Perang 5 Hari 5 Malam

Cek Molek menjadi salah satu orang yang berjasa dalam perjuangan lima hari lima malam yang terjadi di Palembang, tahun 1947 lalu.

Terima Penghargaan Karena Jasanya, Inilah Cerita Cek Molek Tentang Perang 5 Hari 5 Malam
Tribunsumsel.com/Linda Trisnawati
Nyayu Khodijah atau yang akrab disapa Cek Molek didampingi anaknya Nyayu Hamidah usai menerima penghargaan di acara Hari Pahlawan yang diadakan di Benteng Kuto Besak (BKB), Minggu (10/11/2019). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Nyayu Khodijah atau yang akrab disapa Cek Molek kini usianya sudah 90 tahun. Cek Molek merupakan salah satu veteran yang ada di Sumatera Selatan.

Cek Molek menjadi salah satu orang yang berjasa dalam perjuangan lima hari lima malam yang terjadi di Palembang, tahun 1947 lalu.

"Saya menjadi petugas Palang Merah Indonesia (PMI) sejak 1945 sampai 1947. Di tahun 1947 itu terjadinya perang lima hari lima malam," kata Cek Molek usai menerima penghargaan di acara Hari Pahlawan yang diadakan di Benteng Kuto Besak (BKB), Minggu (10/11/2019).

Cek Molek yang memiliki 20 anak ini pun menceritakan, bahwa ia menjadi petugas PMI pada masa perang lima hari lima malam. Tugasnya adalah membantu  menyelamatkan para korban terluka dalam berjuang.

Pada saat itu, ia telah menikah dan memiliki anak dua orang. Meskipun telah memiliki dua orang buah hati yang masih kecil ia pun tetap ikut menjadi petugas PMI membantu para korban. Banyak korban terluka bahkan meninggal dunia. Namun ia bersyukur tidak terluka pada perang itu.

"Hanya saja, saya harus sering meninggalkan anak-anak demi tugas sebagai PMI. Memang banyak yang melarang saya, menyuruh saya untuk tidak ikut karena khawatir. Namun saya tetap ikut," kenangnya.

Pada masa perang yang berlangsung lima hari lima malam itu, rumah Cek Molek juga menjadi dapur umum. Kala itu, ayahnya adalah Kepala Kampung atau Lurah. Hingga kini Cek Molek tetap menempati rumah tersebut yang merupakan warisan dari orang tua nya, yang berada di 19 Ilir.

"Kini saya menjadi satu-satunya perempuan saksi mata Perang Lima Hari Lima Malam yang masih hidup. Tadinya ada 10 teman saya, tapi sudah meninggal," katanya.

Menurutnya, dimasa itu tidak lah mudah, maka rasa terimakasih terhadap para pejuang yang telah memperjuangkan kemerdekaan harus selalu dilakukan.

Pemerintah setempat harus lebih memberikan banyak perhatian lagi bagi para Veteran ini. Setidaknya itu adalah harapan Cek Molek dan juga Nyayu Hamidah (61), anaknya ke-7 yang turut menampinginya.

Nyayu Hamidah mengatakan, pemerintah kurang memberikan perhatiannya bahkan jauh dari kata mensejahterakan. Hanya pernah mendapatkan umroh pada 2011 di masa pemerintahan Gubernur Sumsel sebelumnya.

"Kali ini baru dapat penghargaan Plakat dan Kursi Roda. Hingga kini saya belum punya rumah sendiri yang ada rumah warisan orang tua. Rumah orang tua ini tentu ahli warisnya bukan saya sendiri, untuk itu kami berharap ada bantuan rumah dari pemerintah," harapnya.

Cek Molek memiliki 20 anak diantaranya 10 laki-laki dan 10 perempuan. Suami Cek Molek sudah meninggal. Cek Molek Saat ini sudah memiliki cucu 150 orang, buyut 75 orang dan cicit 5 orang. Cek Molek mendapatkan uang pensiunan Veteran Rp 2 juta. ( TS/Linda)

Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved