Kasus Ijazah Ilegal, Tersangka Ajukan Penangguhan Penahanan

Kasus penerbitan ijazah ilegal karena izin perguruan tinggi yang telah habis ini ditangani Ditreskrimum Polda Sumsel.

Kasus Ijazah Ilegal, Tersangka Ajukan Penangguhan Penahanan
ISTIMEWA
Ditreskrimum Polda Sumsel merilis hasil penyidikan yang dilakukan atas laporan seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Harapan Palembang yang menetapkan pembina dan ketua yayasan tersangka, Kamis (31/10/2019). 

PALEMBANG, SRIPO -- Kuasa Hukum Sofyan Sitepu dan Maimunah Sitorus, pemilik Yayasan Perguruan Tinggi Harapan Palembang yang dijadikan tersangka kasus ijazah ilegal akan mengajukan penangguhan penahanan karena kedua kliennya sakit.

"Klien kami, Bapak Sofyan dan Maimunah sedang sakit. Pak Sofyan sakit diabetes melitus dan jantung, sedangkan Ibu Maimunah juga sakit diabetes melitus," kata Kurnianas Halim, SH., M.Hum, kuasa hukum kedua tersangka saat dimintai keterangan di kantor Kejaksaan Negeri Palembang, Kamis (31/10/2019).

Kasus penerbitan ijazah ilegal karena izin perguruan tinggi yang telah habis ini ditangani Ditreskrimum Polda Sumsel.

Kasus ini pun dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Palembang.

"Selaku kuasa hukum, kita akan mengajukan surat penangguhan penahanan karena kondisi kedua klien kita tidak memungkinkan untuk menjalani proses hukum," kata Kurnianas.

Sebelumnya, Sofyan dan Maimunah dilaporkan terkait pendirian program studi di perguruan tinggi tanpa izin.

Informasi yang dihimpun dari Ditreskrimum Polda Sumsel, pelapor adalah alumni yang menyebut prodi di kampus mereka tak terdaftar dan tak diakui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

Dalam laporannya, para alumni mengaku sudah menerima ijazah setelah lulus.

Terakhir diketahui program Akademi Perekaman Medis, Informatika dan Akademi Farmasi Harapan Palembang tidak ada izin.

"Karena tidak ada izin, kompetensi para alumni ini tidak diakui oleh Kemenristekdikti. Para alumni bilang tidak bisa daftar kerja dan merasa dirugikan," kata Direktur Reskrimum Polda Sumsel, Kombes Yustan Alpiani.

Setelah menerima laporan para alumni yang berjumlah 65 orang tersebut, dari hasil pemeriksaan, diketahui kedua tersangka bertanggungjawab atas kasus ini.

Sofyan Sitepu sebagai pemilik perguruan tinggi dan yayasan, sedangkan sang istri sebagai Ketua Yayasan di Perguruan Tinggi Harapan Palembang.

Kedua tersangka menyelenggarakan Perguruan Tinggi Akademi Perekaman, Medis dan Akademi Farmasi Harapan sejak tahun 1998 dan izin berakhir pada tahun 2000. Setelah izin berakhir kedua tersangka tidak lagi memperpanjang izin dari Departemen Kesehatan, sementara Izin Program Studi baru dikeluarkan di tahun 2004 dan berakhir tahun 2009. (mg27)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved