Human Interest Story

Ingin Disapa Mas Menteri

Nadiem mengaku terkaget-kaget dengan protokoler yang saat ini melekat dengan dirinya.

Ingin Disapa Mas Menteri
KOMPAS.com/Ihsanuddin
Bos Gojek Nadiem Makarim datang ke Istan Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019) dengan mengenakan baju putih lengan panjang. 

SAAT Presiden Joko Widodo menunjuk pendiri perusahaan rintisan Gojek, Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) periode 2019-2024 di Jakarta, Rabu (23/10), banyak pihak yang sangsi. Tapi banyak juga yang percaya Nadiem Makarim, pemuda usia 35 tahun itu, membawa perubahan positif bagi pendidikan dan pemajuan kebudayaan di Indonesia.

Penunjukan Nadiem sebagai menteri itu dinilai banyak pihak mematahkan stigma bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selalu berasal dari organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah. Selain itu kementerian yang mengurusi pendidikan rata-rata dijabat kalangan akademisi perguruan tinggi bergelar profesor. Namun Nadiem adalah seorang pebisnis lulusan magister dari Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Saat serah terima jabatan dengan menteri sebelumnya, Muhadjir Effendy, Nadiem mengaku terkaget-kaget dengan protokoler yang saat ini melekat dengan dirinya. Ia juga terlihat masih belum terbiasa memberikan salam khas pejabat, yang menyebutkan salam dari masing-masing agama yang ada.

"Pas masuk mobil, ada ajudan yang mengikuti. Saya kaget, eh ternyata saya baru ingat jadi menteri sekarang," kata Nadiem sambil tersenyum.

Sebagai menteri termuda pada Kabinet Indonesia Maju, Nadiem enggan dipanggil "Pak Menteri", ia lebih memilih dipanggil dengan sebutan "Mas Menteri".

Pemuda kelahiran Singapura pada 4 Juli 1984 itu kini membawahi urusan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, ditambah lagi dengan urusan kebudayaan. Kemenristekdikti yang sebelumnya menaungi pendidikan tinggi berubah nomenklatur yakni Kemenristek/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan urusan pendidikan tinggi kembali ditangani Kemendikbud.

Nadiem mengatakan dirinya tidak punya program 100 hari ke depan, yang ada hanya dirinya yang belajar dan menjadi murid yang baik. "Saya selalu ditanya apa rencana 100 hari, sejujurnya saya tidak punya rencana 100 hari. Tapi saya akan duduk dan mendengar serta berbicara dengan pakar-pakar yang ada di hadapan saya saat ini," ujar Nadiem. (ant)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved