Selama Sepekan Kedepan Sumsel Terkena Radiasi Matahari

Pada bulan September, Matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan Bumi selatan hingga bulan Desember.

Selama Sepekan Kedepan Sumsel Terkena Radiasi Matahari
SRIPOKU.COM/IGUN BAGUS SAPUTRA
Seorang warga melintas di atas jembatan Ampera dengan memakai payung di bawah cuaca terik. 

PALEMBANG, SRIPO -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi dalam waktu sekitar sepekan ke depan kondisi cuaca di Indonesia, termasuk Sumsel bakal diselimuti suhu terik. Tak tanggung-tanggung, cuaca terik yang bakal menerpa Sumsel mencapai 39 derajat Celcius.

Kasi Data dan Informasi BMKG Kenten Palembang, Nandang mengatakan, berdasarkan persebaran suhu panas yang dominan berada di selatan Khatulistiwa. Hal ini erat kaitannya dengan gerak semu Matahari. Pada bulan September, Matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan Bumi selatan hingga bulan Desember.

Kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari.Selain itu pantauan dalam dua hari terakhir, atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari.

"Dalam sepekan kita akan memasuki masa musim peralihan dari musim kemarau keusim hujan. Hal ini menyebabkan kondisi cuaca menjadi terik," ujar Nandang, Selasa (22/10).

Ia menjelaskan, dalam 3 hari terakhir udara dirasakan sangat panas dan tidak nyaman. Data suhu maksimum Stasiun Klimatologi Kelas I palembang tanggal 20 Oktober 2019 tercatat 36,2 derajat Celcius , kelembaban udara terendah saat ini Tanggal 22 Oktober 2019 tercatat 39% (kering).

Udara terasa panas saat ini disebabkan oleh posisi Matahari yang baru saja bergulir ke Selatan setelah berada tegak lurus pengamat di pulau Sumatera.

Kondisi ini menyebabkan kelembaban udara di permukaan sangat rendah. Suhu udara tinggi dan kelembaban rendah menyebabkan udara gerah, panas menyengat dan sangat tidak nyaman.

"Ditambah lagi dengan peluang hujan yang masih rendah karena aliran masa udara dari Timuran masih kuat, sehingga mempersulit pertumbuhan awan hujan," jelasnya.

Menurutnya, kondisi karakteristik cuaca musim peralihan biasanya di tandai Suhu udara terasa panas di siang hari, dan hujan lebat secara tiba-tiba disertai petir dan angin kencang. Diperkirakan kondisi ini akan berlangsung hingga bulan November Dasarian ke 2 tahun 2019.

"BMKG mengimbau masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi," jelas Nandang.

Dengan kondisi cuaca terik menerpa Sumsel, membuat peluang curah hujan di Bumi Sriwijaya menjadi rendah. Kondisi ini diprakirakan masih berlangsung hingga dua dasarian ke depan.

Prakiraan probabilistik curah hujan dasarian III Oktober 2019 menunjukkan bahwa sebagian wilayah OKU Timur, OKI, Ogan Ilir, Palembang dan sekitarnya masih berpeluang mendapatkan curah hujan yang minim (<50 mm).

Sementara itu wilayah Musi Rawas Utara, Musi Rawas dan Lubuk Linggau berpeluang 60% mendapatkan curah hujan antara 50 - 100 mm.

Prakiraan probabilistik curah hujan dasarian I November 2019, menunjukkan peluang peningkatan curah hujan seiring dengan diprakirakan masuknya musim hujan 2019/2020.

"Sebagian besar wilayah Sumatera Selatan dengan peluang >60% mendapatkan curah hujan antara 50 - 100 mm meluas hingga ke bagian tengah, " ungkapnya. (oca)

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved