Human Interest Story

Ricky Antusias Buat Alas Kaki

Walau sempat tak mengerti Ricky masih tetap semangat dan tertawa saat diajari oleh gurunya cara yang benar dalam membuat alas kaki dari kain

Ricky Antusias Buat Alas Kaki
TRIBUN SUMSEL/MELISA WULANDARI
Beberapa penyandang disabilitas didampingi guru pembimbing membuat keset kaki saat mengikuti pelatihan keterampilan vokasional menuju kemandirian dan entrepreneurship di YPAC Palembang, Selasa (21/10). 

RICKY Sagala seorang siswa di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Palembang antusias mengikuti pelatihan keterampilan vokasional pemuda disabilitas menuju kemandirian dan entrepreneurship di Balai Pertemuan Yasmine Palembang, Selasa (22/10).

Dia mengikuti pelatihan keterampilan membuat keset atau alas kaki, salah satu dari 4 keterampilan yang diadakan di kegiatan pelatihan keterampilan vokasional pemuda disabilitas menuju kemandirian dan entrepreneurship.

Walau sempat tak mengerti Ricky masih tetap semangat dan tertawa saat diajari oleh gurunya cara yang benar dalam membuat alas kaki dari kain. "Bu benar gak kayak ini," tanya dia kepada gurunya.

"Salah ini harus begini, di langkah 2. Ditarik yang kencang kainnya biar hasilnya bagus dan gak kendor ya Ki," kata guru Ricky saat mengajari dirinya.

Ricky pun mengangguk dan meneruskan menyusun kain agar membentuk alas kaki yang bagus. Dia mengaku saat dibincangi Tribun pengalaman membuat alas kaki kain ini tidak begitu sulit. "Gak sulit kok, seru banget kan diajari," kata anak kedua dari empat bersaudara ini.

Ketua YPAC Palembang Yulia Helmi mengatakan, kegiatan ini bukan kegiatan rutin namun merupakan kegiatan yang dibiayai oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI kepada YPAC Palembang. "Kebetulan kami mendapat tawaran dari Kemenpora RI bidang pemberdayaan pemuda disabilitas, mau mengadakan pelatihan apa dan diberi biaya sebesar Rp 50 juta," ujarnya.

"Pesertanya dari usia 16-30 tahun, jadi boleh alumni YPAC Palembang atau SMA. Kegiatan ini bertujuan kedepannya agar mereka bisa mandiri, bisa berwirausaha bisa juga dibantu orangtua. Selain itu kan bisa meningkatkan perekonomiannya juga," ujarnya.

Daripada setelah tamat sekolah tidak bekerja dengan berwirausaha para penyandang disabilitas ini bisa mandiri. "Kegiatan ini juga bisa menambah kepercayaan diri mereka juga, meraih masa depan yang baik. Pelatihan ini juga melibatkan guru-guru YPAC ada juga yang dari luar seperti keterampilan membuat roti," katanya.

Di pelatihan keterampilan vokasional pemuda disabilitas menuju kemandirian dan entrepreneurship ini terdapat 4 keterampilan yang diajarkan yakni keterampilan membuat keset, keterampilan menganyam, keterampilan tata boga dan keterampilan membuat minuman jahe.

YPAC Palembang ini melayani pendidikan dan rehab medik. Pendidikan seperti sekolah biasa dari SD hingga SMA. "Kami punya 4 macam kecacatan di sini, tuna daksa (cacat tubuh), tuna wicara (bisu dan tuli), cacat mental (sedang IQ di bawah 50 dan ringan IQ 50-75)," katanya.

"Untuk rehab medik jadi kalau anak-anak perlu psioterapi, perlu latihan untuk melenturkan badan, terapi wicara ada juga klinik autis ada sedikit autis tidak boleh masuk kelas dulu," katanya. (elm)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved