Ariel Tatum Idap Penyakit Borderline Personality Disorder, Kenali Tanda-tanda dan Cara Mengatasinya
Ariel Tatum Idap Penyakit Borderline Personality Disorder, Kenali Tanda-tanda dan Cara Mengatasinya
Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Sudarwan
Ariel Tatum Idap Penyakit Borderline Personality Disorder, Kenali Tanda-tanda dan Cara Mengatasinya
SRIPOKU.COM - Aktris Ariel Tatum sempat menghilang dari industri hiburan Tanah Air.
Ternyata, selama ini Ariel Tatum memfokuskan diri untuk memperbaiki kesehatan mentalnya.
Ariel Tatum menderita Borderline Personality Disorder (BPD) atau kepribadian ambang akut, yang menyebabkan dirinya sulit untuk berkegiatan dan menjalin hubungan dengan orang lain.
Dilansir dari Tribunnews melalui Grid.id, Gangguan mental pertama kali diketahui Ariel Tatum ternyata sejak dirinya berusia dini.
Bahkan Ariel Tatum langsung berinisiatif mencari ahli untuk berkonsultasi masalah mentalnya.
"Untuk pertama kalinya aku cari psikolog untuk diriku sendiri usia 13 tahun, ngumpet-ngumpet dari orang tua. Ada uang jajan sendiri, jadi aku tahu ada saving money, udah cari tahu cari klinik langsung," ungkap Ariel Tatum saat dipantau Grid.ID mengisi seminar Let's End The Shame, di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (19/10/2019).
• Jika Lolos Liga I, Skuad SFC Akan Dibanjiri Bonus 10 Kali Lipat, Bagaimana dengan 8 Besar?
• Tak Ikut Kawal Pelantikan Presiden-Wakil, Kader Pengurus PDIP Sumsel Dititipi Instruksi Khusus
• Makan Banyak Tapi tak Pernah Gemuk, Waspada Penyakit Tiroid Mengintai Anda, Perhatikan Ciri-cirinya
Tetapi, dalam usahanya mencari ahli demi kesehatan mentalnya, Ariel Tatum justru tak menemukan jalan keluar sama sekali.
"Coba satu coba sampai lima dokter, aku nggak menemukan jalan keluarnya. Aku rasanya kayak nggak ada jalan keluar. Ada dokter yang aku cerita sedikit langsung judge aku bipolar, stres doang, sampai ada yang bilang trauma past life. Pokoknya satu kali sering langsung judge," ungkap Ariel Tatum.
Tak menemukan jalan keluar, Ariel Tatum mencari tahu mengenai kondisi mentalnya melalui internet, tapi yang didapatkannya masih tetap nihil.
"Aku stres, akhirnya aku cari tahu sendiri di internet. Tapi yang keluar malah menakutkan, kenapa pusing, oh kamu kanker. Aku cari bipolar disorder menakutkan juga hasilnya," ungkap Ariel Tatum.
Hingga akhirnya Ariel Tatum menemukan dokter yang benar-benar ahli mengatasi kesehatan mentalnya.
"Terus pas aku SMA aku pindah ke Sanatorium. Profesor Sasanto di Rumah Sakit Dharmawangsa. Di situ aku nyaman bertahun-tahun di situ. Aku bangga sama diriku sendiri punya self awareness yang tinggi sejak kecil karena udah mulai cari tahu," ungkap Ariel Tatum.
Meski belum sembuh betul, tetapi Ariel Tatum giat untuk memberikan penyuluhan, seminar, dan talkshow untuk mengingatkan lagi kesadaran kepada banyak orang mengenai kesehatan mental.
Apa itu Borderline Personality Disorder?
Dilansir dari Alodokter, Borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang adalah gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati serta citra diri yang senantiasa berubah-ubah, dan perilaku yang impulsif. Seseorang yang mengalami BPD memiliki cara pikir, cara pandang, serta perasaan yang berbeda dibanding orang lain pada umumnya.
Akibatnya, timbul masalah dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan menjalin hubungan dengan orang lain, seperti hubungan dalam keluarga dan di lingkungan pekerjaan. Gangguan ini umumnya muncul pada periode menjelang usia dewasa. Dengan penanganan berupa psikoterapi dan pemberian obat, penderita borderline personality disorder dapat membaik seiring bertambahnya usia.
Gejala BPD (Borderline Personality Disorder)
Gejala gangguan kepribadian ini biasanya muncul pada masa remaja menjelang dewasa dan bertahan saat usia dewasa. Gejala yang muncul dapat berupa gejala yang ringan hingga berat.
Gejala tersebut dapat digolongkan menjadi empat bagian, yang terdiri dari:
Kondisi mood atau suasana hati yang tidak stabil. Kondisi ini biasanya bertahan selama beberapa jam. Seperti merasa hampa atau kosong, serta kesulitan mengendalikan amarah.
- Gangguan pola pikir dan persepsi. Seperti tiba-tiba ada pemikiran bahwa dirinya buruk, serta perasaan takut akan diabaikan sehingga melakukan perbuatan yang ekstrim.
- Perilaku impulsif. Perilaku ini cenderung membahayakan diri sendiri, atau melakukan tindakan ceroboh dan tidak bertanggung jawab. Contohnya melukai diri sendiri, mencoba bunuh diri, melakukan hubungan seks tanpa pengaman, penyalahgunaan alkohol, atau makan berlebihan.
- Menjalin hubungan yang intens, namun tidak stabil. Kondisi ini ditandai dengan bisa sangat mengidolakan seseorang dan tiba-tiba menganggap orang tersebut bersikap kejam atau tidak peduli.
Tidak semua penderita BPD mengalami seluruh gejala tersebut. Sebagian hanya mengalalami beberapa gejala. Tingkat keparahan, frekuensi, serta durasi terjadinya gejala pada setiap penderita berbeda-beda, tergantung dari kondisi gangguan yang dialami.
Penyebab BPD (Borderline Personality Disorder)
Penyebab pasti borderline personality disorder belum dapat diketahui dengan jelas. Beberapa faktor yang diduga dapat memicu terjadinya kondisi ini adalah:
- Lingkungan. Sejumlah faktor lingkungan yang negatif diduga dapat menimbulkan gangguan kepribadian ini. Contohnya adalah riwayat pelecehan dan penyiksaan semasa kecil, atau dicampakkan oleh orangtua.
- Genetik. Menurut beberapa penelitian, gangguan kepribadian dapat diturunkan secara genetik.
- Kelainan pada otak. Menurut penelitian, penderita BPD memiliki perubahan struktur dan fungsi pada otak, terutama pada area yang mengatur impuls dan emosi. Pada penderita BPD juga diduga terdapat kelainan fungsi dari zat kimia otak atau neurotransmitter yang berperan dalam pengaturan emosi.
- Ciri kepribadian tertentu. Beberapa tipe kepribadian lebih berisiko untuk mengalami BPD, misalnya kepribadian agresif dan impulsif.
Faktor-faktor di atas dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami BPD. Namun, bukan berarti seseorang pasti akan mengalami gangguan kepribadian BPD bila memiliki faktor risiko tersebut. BPD juga tidak mustahil dialami oleh seseorang yang tidak memiliki satu pun dari faktor risiko di atas.
Pengobatan BPD (Borderline Personality Disorder)
Setelah diagnosis BPD ditetapkan, sebaiknya pasien memberi tahu hasil diagnosis pada keluarga, teman, atau orang yang dipercaya. Banyak gejala BPD mempengaruhi hubungan pasien dengan lingkungan sekitar, sehingga dengan melibatkan mereka dalam penanganan kondisi ini, akan membuat pengobatan pasien berjalan lebih efektif.
Terdapat beberapa jenis terapi psikoterapi yang bisa efektif dalam menangani kasus BPD, di antaranya adalah:
- Dialectical behavior therap (DBT)
Terapi ini dilakukan melalui dialog dengan tujuan agar pasien dapat mengendalikan emosi, menerima tekanan, dan memperbaiki hubungan dengan orang lain. Terapi ini dapat dilakukan sendiri atau di dalam sebuah grup konsultasi bersama seorang terapis.
- Mentalization-based therapy (MBT)
Terapi ini menitikberatkan metode berpikir sebelum bereaksi. MBT membantu penderita BPD mengenali perasaan dan pikirannya sendiri dengan menciptakan perspektif alternatif dari situasi yang tengah dihadapi. Terapi ini dilakukan dalam jangka panjang (sekitar 18 bulan) dan diawali dengan rawat inap guna mengadakan sesi individu setiap hari. Setelah jangka waktu tertentu, dapat dilanjutkan dengan rawat jalan.
- Schema-focused therapy
Terapi ini membantu penderita BPD mengenali kebutuhan yang tidak terpenuhi pada periode awal hidup yang dapat memicu pola perilaku hidup negatif. Terapi akan memfokuskan kepada usaha pemenuhan kebutuhan tersebut melalui cara yang lebih sehat agar terbangun pola perilaku hidup yang positif. Sama seperti terapi DBT, terapi ini dapat dilakukan secara perorangan maupun di dalam grup konsultasi.
- Transference-focused psychotherapy (TFP) atau terapi psikodinamis
Terapi ini membantu penderita BPD mengenali kebutuhan yang tidak terpenuhi, yang dapat memicu pola perilaku hidup negatif. Terapi akan memfokuskan kepada usaha pemenuhan kebutuhan tersebut melalui cara yang lebih sehat agar terbangun pola perilaku hidup yang positif. Sama seperti terapi DBT, terapi ini dapat dilakukan secara perorangan maupun di dalam grup konsultasi.
- General psychiatric management
Terapi ini membantu pemahaman terhadap masalah emosi yang terjadi dengan mempertimbangkan perasaan interpersonal. Terapi dapat dipadukan dengan pemberian obat, terapi kelompok, penyuluhan pada keluarga, atau bahkan perorangan.
- Pelatihan sistem untuk prediktabilitas emosional dan pemecahan masalah atau systems training for emotional predictability and problem-solving (STEPPS)
Terapi ini merupakan terapi kelompok bersama anggota keluarga, teman, pasangan, atau pengasuh sebagai bagian dari kelompok terapi yang berlangsung selama 20 minggu. Terapi ini juga digunakan sebagai terapi tambahan bersama psikoterapi lainnya.
• Jika Lolos Liga I, Skuad SFC Akan Dibanjiri Bonus 10 Kali Lipat, Bagaimana dengan 8 Besar?
• Tak Ikut Kawal Pelantikan Presiden-Wakil, Kader Pengurus PDIP Sumsel Dititipi Instruksi Khusus
• Makan Banyak Tapi tak Pernah Gemuk, Waspada Penyakit Tiroid Mengintai Anda, Perhatikan Ciri-cirinya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ariel-tatum-idap-penyakit-borderline-personality-disorder-kenali-tanda-tanda-dan-cara-mengatasinya.jpg)