Human Interest Story

Cerita Miris Ibu yang Memilik Bayi di Tengah Kabut Asap, Was-was Setiap Kali Lihat Jendela Rumah

Tiga buah kipas angin yang berada di kamar dan ruang tamu tak hentinya dihidupkan untuk meminimalisir kabut asap yang mulai masuk ke dalam rumahnya

Cerita Miris Ibu yang Memilik Bayi di Tengah Kabut Asap, Was-was Setiap Kali Lihat Jendela Rumah
sripoku.com/rahmaliyah
Kondisi kabut asap yang terjadi di Kota Palembang, Jumat (11/10/2019) 

WAKTU menunjukkan pukul 05.20 pagi, Octavia seorang pegawai swasta di Palembang tampak was-was melihat suasana diluar rumah jendela kamar rumahnya yang berada di Kawasan Jakabaring Palembang. Pada, Senin (14/10) pagi, hatinya pun seketika kecewa dan takut tatkala melihat ke depan komplek rumahnya yang masih tampak gelap akibat kepungan asap imbas dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Kepulan asap putih sedikit demi sedikit masuk ke dalam ruangan melalui celah-celah rumah. Tiga buah kipas angin yang berada di kamar dan ruang tamu tak hentinya dihidupkan untuk meminimalisir kabut asap yang mulai masuk ke dalam rumahnya.

Mengetahui kondisi kabut asap yang makin pekat, ia pun langsung mendekap anaknya sembari berbisik "dek nggak usah keluar rumah dulu ya hari ini dengan nenek" ujarnya kepada bayi perempuannya yang berusia 8 bulan.

Sebagai seorang ibu wanita karir, ia sangat tegas dalam menjaga kesehatan sang anak. Tak bisa mengawasi anak selama 24 jam, membuat kegundahan tersendiri bagi dirinya. Hampir setiap siang, ia pun selalu menelepon ke mertunya menanyakan keadaan anaknya apakah terpapar kabut asap atau tidak.

"Siang itu selalu nelepon nanya kabar anak. Pada saat kabut asap seperti ini hati kita selalu sedih, takut anak kita terkena penyakit," tegasnya.

Dengan kondisi seperti ini, Octavia melarang ibu mertuanya membawa anaknya keluar rumah dan sang bayi pun terpaksa harus seharian bermain di kamar bersama mertuanya.

Ia khawatir, apabila anaknya keluar rumah akan terhisap kabut asap dan menyebabkan timbulnya penyakit.

"Tiap hari itu was-was, waktu lihat ke luar rumah asap lagi asap lagi. Kalau kita orang tua ini tidak masalah, kasihan anak bayi," jelasnya.

Senada, Lili ibu muda lainnya juga mengaku kelimpungan pada saat musim asap seperti ini. Buah hatinya yang masih berusia satu tahun mau tidak mau harus selalu berada di kamar untuk menghindari terpapar asap. Kamar tidur yang memiliki Air Conditioner (AC), membuat ibu muda ini sedikit lega. Secara tidak langsung anaknya mendapatkan udara lebih segar pada saat kondisi kabut asap seperti ini.

"Anak saya tidak keluar rumah seharian. Pokoknya mainnnya di kamar saja, untung di kamar ada AC jadi pernapasan anak sedikit terbantukan," jelasnya.

Pegawai swasta di kota Palembang ini mengaku heran atas ketidakseriusan pemerintah dalam menanggulangi kabut asap. Pemerintah jangan membiarkan kondisi ini berlarut dan mau mengambil tindakan setelah ada korban dampak kabut asap tersebut.

"Asap ini bukan bencana alam, tetapi kelalaian. Kemana pemerintah? Kenapa tidak bisa menangangi kabut asap. Kasian anak-anak kita," ungkap Lili. (oca)

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved