Mengapa Tak Ada Darah dari Bekas Luka Wiranto? Ternyata Masuk Lambung, Dokter Jelaskan Bahayanya
Mengapa Tak Ada Darah dari Bekas Luka Wiranto? Ternyata Masuk Lambung, Dokter Jelaskan Bahayanya
Mengapa Tak Ada Darah dari Bekas Luka Wiranto? Ternyata Masuk Lambung, Dokter Begini Dampaknya
SRIPOKU.COM-Mengapa Tak Ada Darah dari Bekas Luka Wiranto? Ternyata Masuk Lambung, Dokter Bilang Menkopolhukam dalam Bahaya bahkan alami masa-masa kritis.
Itulah sebabnya Mengapa Tak Ada Darah dari Bekas Luka Wiranto, meskipun luka yang dialami Wiranto meskipun terbilang parah bahkan nyaris menghilangkan nyawa dari politis Parpol Hanura ini, tak kucurkan darah
Seperti diketahui, luka yang dialami Wiranto dan tak ada bekas darah yang mengucur dari bekas luka maupun di baju Menkopolhukam itu, menimbulkan dugaan publik bahwa serangan yang dilakukan Abu Rara alias Syahrial Alamsyah itu, hanya rakayasa, meski kemudian dijelaskan ternyata Darah Masuk Lambung.
Bahkan, cuitan di sejumlah media sosial pun marak mengatakan, jika apa yang dialami Wiranto sang Menkopolhukam itu hanya setingan, seperti beberapa waktu lalu Hanum Rais dan sejumlah netizen lainnya.
Wiranto Ditusuk atau ditikam Abu Rara yang diduga terpapar ISIS di kawasan Brebes Banten Kamis (10/10/2019) siang, dalam sejumlah foto dan video, Wiranto diserang Abu Rara yang menyelenap dan muncul dari arah kiri dengan menggunakan Kunai atau Belati Mata Dua ala Ninja yang menembus perut kirinya.
Melihat video dan sejumlah foto terlihat Abu Rara dengan menggengam Kunai dengan mata ke dalam, menusukkan pisau atau Kunai yang matanya memang tidak begitu panjang, tetapi memiliki dua mata dan tajam itu ke perut kiri Wiranto Ditusuk hingga membuat Menkopolhukam itu kritis.
Namun karena tidak tampak ada bercak darah dari bekas luka itulah yang kemudian membuat penusukan terhadap Wiranto hanya setingan.
Seperti diketahui, Menteri Polhukam Wiranto mengalami musibah itu saat ia berada di Pandeglang, Banten.
Ketika baru saja turun dari mobil yang membawanya, Wiranto mendadak diserang dua orang tak dikenal, Wiranto Ditusuk.
Wiranto langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk penanganan pertama sebelum diterbangkan ke Jakarta.
Sementara kedua pelaku sudah diamankan oleh pihak berwajib.

Luka Bekas Belati Mata Dua alias Kunai Telak Mengenai Lambung Hingga Sobek
Teka-Teki terjawab sudah, tidak ada istilah rekayasa dari penusukan Wiranto. Menkopohukam itu benar-benar mengalami luka yang sangat gawat lebih dari yang dibayangkan.
Sebab, seperti dijelaskan Tenaga Ahli Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Ali Ngabalin, bahwa, dari keterangan dokter sekaligus Direktur RSPAD Gatot Subroto, Terawan menegaskan, luka itu parah karena melukai lambung dari dua sisi, sehingga darah bukan mengucur keluar tetap malah ke dalam.
Hal ini dilansir TribunWow.com, keterangan Terawan yang dijelaskan Ali Ngabalin dalam tayangan 'Apa Kabar Indonesia Pagi' unggahan kanal YouTube Talk Show tvOne, Jumat (11/10/2019).
Dari keterangan Terawan yang dijelaskan oleh Ali Ngabalin terungkap bahwa luka yang dialami Wiranto tersebut cukup dalam, itulah sebabnya darah memang tidak mengucur keluar, justru mengalir ke Lambung.
"Jadi kedalamannya sekitar 10 centimeter, kalau dari luar memang darahnya tidak terlalu banyak," jelas Ali Ngabalin dari tribun aceh.
Dijelaskan Ali Ngabalin berdasarkan keterangan dari Dokter Terawan, Luka tusuk itu menembus organ usus Wiranto sehingga darah mengalir di dalam tubuh sang jenderal.
Darah tidak mengalir keluar, tetapi ke dindang perut, justru hal inilah yang sangat membayakan nyawa Wiranto.
"Dara tidak mengalir keluar, tetapi karena dalam dinding perut itu, senjata tajam itu menembus usus kecil, diperkirakan darah yang tertampung itu sekitar 3 liter," terang Ali Ngabalin soal luka Wiranto.

Maka itula, akibat insiden penusukan itu, Wiranto disebut sempat mengalami masa kritis hingga akhirnya dioperasi selama 4 jam.
"Jadi memang ada masa yang sangat kita khawatirkan kemarin," imbuhnya.
Selain kedalaman luka, Ali Ngabalin juga menjelaskan panjang luka di perut Wiranto.
"Jadi memang ditusuk di perut sebelah kiri sini?" tanya pembawa acara.
"Iya, sobek ya, dari kiri ke kanan, dua tusukan itu sekitar 6 centimeter," ujar Ali Ngabalin.
"Nah itu, jadi menembus perut dan masuk sampai ke usus kecil, menurut keterangan dokter seperti itu."
Penjelasan Soal Darah Wiranto Saat Ditusuk, Benny Mamoto Patahkan Isu Penyerangan Hanya Rekayasa
Menkopolhukam Wiranto diserang di Pandeglang, Banten pada Kamis (10/10/2019) siang.
Akibat serangan itu Wiranto menderita dua luka tusukan.
Atas kejadian ini media sosial dibanjari pemberitaan mengenai Wiranto.
Publik ramai sekali membahas soal penusukan terhadap Wiranto.
Namun menariknya, dari sekian banyak komentar atas penusukan Wiranto, sejumlah orang justru menilai bahwa aksi tersebut merupakan rekayasa.
Putri Amien Rais, Hanum Rais, satu diantaranya

Berikut postingannya:
"Setingan agar dana dradikalisasi terus mengucur.
Dia caper. Krn tdk bakal dipakai lg
Play victim. mudah dibaca sbg plot
Diatas berbagai opini ygberedar terkait berita hits siang ini. Tdk byk yg benar2 serius menanggapi. Mgkn krn terlalu byk hoax-framing yg slama ini terjadi" kicau Hanum Rais.
Atas cuitan itulah Kini Hanum Rais dilaporkan oleh Relawan Jam'iyyah Jokowi-Maruf Amin ke Bareskrim Polri.
Hanum Rais dilaporkan karena dianggap telah menyebarkan berita bohong terkait peristiwa penusukan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto pada Kamis (10/10/2019) melalui akun Twitter.
Koordinator Jam'iyyah Jokowi-Ma'ruf Amin, Rody Asyadi mengatakan, pihaknya melaporkan Hanum karena melihatnya sebagai figur publik, sehingga tidak boleh sembarangan dalam memberikan pernyataan.
"Banyak masyarakat yang sudah simpatik (dengan peristiwan penusukan Wiranto), tapi dia memberikan statement bahwa ini hanya rekayasa, settingan, hanya untuk menggelontorkan dana deradikalisasi," ujar Rody di Bareskrim Polri, Jumat (11/10/2019).
Ada pula yang malah senang Wiranto ditusuk

Psikolog Sosial Hening Widyastuti mengatakan penyerangan Wiranto dan komentar publik erat kaitannya dengan kasus politis yang sifatnya rentan dan sensitif.
"Pak Wiranto menjabat sebagai Menko Polhukam, ada kaitan secara langsung atau tidak langsung, yang bertanggung jawab dengan situasi kondisi keamanan saat ini yang tidak stabil di Indonesia," ujar Hening Widyastuti.
"Kasus demo di mana-mana, serang-menyerang lewat media sosial maupun di lapangan antara pendukung yang satu dan yang lain, belum kasus kemanusiaan di Papua, dan lain sebagainya," kata Hening Widyastuti.
Ada yang berpendapat kasus penusukan Wiranto hanya rekayasa karena tak melihat adanya darah.
Tenaga Ahli Deputi IV KSP Ali Mochtar Ngabali atau Ali Ngabalin memaparkan penjelasan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto terkait darah dan luka yang diderita oleh Wiranto.
Menurut Ali Ngabalin dari keterangan dokter, Wiranto menderita luka tusukan dengan kedalam sekitar 10 sentimeter.
"Menurut keterangan pak Terawan dua tusukan, kedalamanya sekitar 10 cm, " kata Ali Ngabalin.
Menurut keterangan dokter, kata Ali Ngabalin, darah yang keluar dari tubuh Wiranto akibat luka tusuk itu memang tidak banyak.
"kalau dari luar darahnya memang tidak terlalu banyak , tetapi karena dalam dinding perut itu senjata tajam menembus usus kecil, diperkirakan darah yang tertampung itu sekitar 3 liter, jadi memang ada masa yang kita khawatirkan kemarin," kata Ali Ngabalin dikutip dari tayangaan Dua Sisi Tv One.
Dokter menjelaskan, lanjut Ali Ngabalin, luka sobek pada perut kiri Wiranto sepanjang 6 sentimeter.
"Tersobek dari kiri ke kanan dua tusukan itu sekitar 6 centi jadi menembus perut sampai ke usus kecil menurut keterangan dokter," kata Ali Ngabalin.
Kepala Pusat Riset Kajian Terorisme Benny Mamoto juga menanggapi isu penusukan terhadap Wiranto hanya sebuah rekayasa.
Benny Mamoto memintaa publik untuk tidak berkomentar terlalu dini.
"Dengan beredarnya berbagai komentar termasuk di medsos, kalau boleh terlalu dini ataupun dengan tujuan tertentu ini sebaiknya direm, " kata Benny Mamoto di Dua Sisi TV One.
"Semua kasus terorisme akan digelar di pengadilan, disitulah akan ada pembuktian secara terbuka, ketika nanti hasil di pengadilan pembuktian bertolak belakang dengan yang ditulis, ada UU ITE, ini yang kami ingatkan," tambahnya.
Menurut Benny Mamoto, spekulasi bahwa kasus penyerangan terhadap Wiranto hanya rekayasa tidak bisa dibenarkan sebelum adanya pembuktian dari polisi.
"Naaah, betul, berbagai macam kometar itu terlalu dini, jadi marilah kita tunggu, kita tunggu konferensi pers dari polri soal pengungkapan jaringan, ini perlu waktu, " kata Benny Mamoto.
Benny Mamoto menjelaskan bahwa serangan terorisme selalu saja ada pesan yang disampaikan.
"Karena teror tujuannya adalah menimbulkan ketakutan, ada message yang dikirim, melihat sederhananya, begitu murahnya hanya sebuah pisau, tidak harus mati tapi dampaknya karena yang diserang adalah simbol, buktinya semua koran headline halaman pertama, jangan anggap teror itu harus bom, dampaknya yang diperlukan," jelas Benny Mamoto.
Benny Mamoto menyebut aksi yang dilakukan Abu Rara cukup cermat.
Pasalnya menurut Benny Mamoto melihat dari video dan foto yang beredar, pelaku sempat berinteraksi dengan petugas pengamanan Wiranto.
"Dari foto yang beredar, tersangka sempat beriteraksi dengan petugas, itu menunjukan dia cukup cermat untuk masuk ke ring yang lebih dalam,
Dia berkomunikasi dengan aparat supaya tidak curiga, bayangkan kalau dia diam matanya lihat kanan kiri aparat sudah langsung melihat dia," kata Benny Mamoto soal kasus penusukan Wiranto di Pandeglang, Banten.(TribunNewsmaker/*)
Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Teka-teki Soal Darah Dari Perut Wiranto Terkena Tusukan Mulai Terkuak, Ini Penjelasan Dokter, https://kupang.tribunnews.com/2019/10/13/teka-teki-soal-dara-dari-perut-wiranto-terkena-tusukan-mulai-terkuak-ini-penjelasan-dokter?page=4.