Human Interest Story

Petani Masih Enggan Garap Lahan

Meskipun harga naik namun tidak sebanding dengan biaya perawatan yang dikeluarkan.

Petani Masih Enggan Garap Lahan
SRIPO/WAWAN SEPTIAWAN
Tampak pasokan sayur di Pasar Tradisional Nendagung Kota Pagaralam mulai sedikit. Hal ini disebabkan musim kemarau yang berpengaruh pada hasil produksi dan harga sayur sendiri, Senin (7/10/2019). 

MUSIM kemarau yang sudah memasuki bulan keenam di Tahun 2019 ini, tidak hanya mengakibatkan musibah kebakaran hutan dan lahan serta asap dibarengi dengan ISPA. Namun dampak kekeringan akibat kemarau ini, juga telah membuat beberapa jenis komuditas sayur di Kota Pagaralam mengalami kenaikan harga hingga 100 persen. Anehnya, justru kenaikan itu disikapi dingin oleh petani. Bahkan, petani mengaku belum diuntungkan dengan kenaikan itu.

Kenaikan itu disebabkan pasokan sayur di sejumlah pasar tradisional tidak begitu banyak. Kondisi inilah yang mempengaruhi interaksi jual-beli sayur meningkat, tetapu barang sedikit sehingga berlaku hukum pasar karena masih sedikit petani menanam sayur pada musim kemarau ini. Banyak lahan yang tidak bisa diolah karena kekurangan air, bahkan kekeringan. Hal ini membuat petani lebih memilih untuk tidak menanam sayur karena jika dipaksakan akan menambah biaya perawatan karena harus menyiram tanaman sayur tersebut.

Bujang (41), petani kacang buncis di kawasan Kerinjing mengatakan, dirinya tidak terlalu gembira meskipun harga Buncis naik hingga 100 persen. Pasalnya meskipun harga naik namun tidak sebanding dengan biaya perawatan yang dikeluarkan.

"Setiap hari saya harus mengangkut air dari kawasan permukiman diladang saya pak. Saya mengangkut menggunakan motor jadi harus mengeluarkan biaya tambahan," ujarnya.

Selaian biaya, tenaga juga harus ekstra agar tanaman buncis bisa terus hidup dan bisa dipanen. Karena jika tidak disiram maka dipastikan akan mati.

"Jadi wajar jika saat ini harga sayur naik, karena memang tidak banyak petani sayur yang menanam sayur dimusim kemarau ini," katanya.

Pantauan sripoku.com, Senin (7/10/2019) menyebutkan, saat ini dikawasan pasar Dempo Permai kenaikan harga paling signifikan dialami komuditas sayuran jenis kacang Buncis dan sayur Selada.

Rus (51) salah satu pedagang sayur mengatakan, kenaikan harga beberapa jenis sayuran ini akibat pasokan yang kurang dari para petani

"Saat ini harga kacang Buncis sebelumnya kami jual Rp 10.000 perkilo tapi sekarang Rp 20.000 karena modal belinya naik akibat pasokan dari petani yang kurang," katanya.

Sedangkan harga sayur lainnya seperti Selada saat ini mencapai Rp4.000 perikat, kol Rp 5.000 belum lagi sayur lainnya yang semua mengalami kenaikkan.

Sementara kehidupan di perdesaan, jumlah warga yang nyaris tidak bekerja sebagai petani penggarap lahan dan peladang. Pasalnya, lahan yang kering dan sumber air yang cukup menjadi alasan petani untuk tidak menggarap lahan. Kondisi ini memicu pengangguran di pedesaan, terlebih banyak warga yang bermigrasi ke pekerjaan lain, seperti bekerja ke bangunan dan lain-lain. (one)

Penulis: Wawan Septiawan
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved