Cegah Asap Melalui Kelola Gambut

Saat ini, salah satu perbincangan warga di Kota Palembang yang mulai marak ter­ka­­it dengan kondisi memburuknya kualitas udara di Ibukota Provinsi Su

SRIPOKU.COM/ODI ARIA SAPUTRA
Jembatan Ampera tertutup kabut asap, Kamis (19/9/2019) pago. BREAKING NEWS : Kabut Asap di Palembang Makin Parah, Kualitas Udara Masuk Kategori BERBAHAYA 

SRIPOKU.COM - Saat ini, salah satu perbincangan warga di Kota Palembang yang mulai marak ter­ka­­it dengan kondisi memburuknya kualitas udara di Ibukota Provinsi Sumatera Se­la­tan.

Jika kita membuka laman Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) maka terlihat adanya kecenderungan pada waktu tertentu sudah masuk da­lam ategori Tidak Sehat.

Penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Pa­lembang juga mulai terganggu karena sempat tertunda akibat jarak pandang yang kurang memadai.

Pihak Pemerintah Kota Palembang juga telah menge­lu­ar­kan regulasi terkait opsi untuk memundurkan jadwal masuk dan mem­perpen­dek ma­sa belajar bagi siswa sekolah.

Adanya kabut asap yang kita alami dan rasakan saat ini lebih banyak disebabkan oleh kebakaran lahan gambut yang berada di kebun, hutan, areal pertanian dan wi­la­yah lainnya. Jika kebakaran terjadi pada lahan mineral maka api akan meng­ha­bis­kan bahan bakar berupa vegetasi yang berada di atas tanah saja. Apabila dalam ke­adaan kering maka hanya sedikit mengeluarkan asap. Hal berbeda dengan ke­ba­karan lahan gambut dimana selain api membakar tutupan lahan di atas tanah, juga ber­gerak menghabiskan tanah gambut yang berada di bagian bawah. Adanya la­birin yang berisi oksigen ketika gambut kering, membuat api terus menyala de­ngan arah pergerakannya di bawah tanah sulit untuk diduga. Asap yang dihasilkan men­jadi lebih banyak.

Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, saat ini pengelolaan lahan gambut dilakukan dengan menggunakan pendekatan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). De­ngan konsep ini maka suatu areal dikelola sebagai satu kesatuan wilayah baik gam­but dan non gambut yang dibatasi oleh sungai dengan sungai atau sungai de­ngan laut. Bila merujuk pada pendekatan ini maka terdapat 36 KHG di Sumatera Se­latan dengan total luasnya mencapai 2,1 juta hektar. Berarti mencakup seperlima wilayah Sumatera Selatan.

Tata Kelola Lahan Gambut
Sebagai satu kesatuan kawasan, pemanfaatan ruang KHG di Provinsi Sumatera Selatan semestinya mengikuti karakteristik yang unik dari lahan gambut. Dalam kon­teks ini maka ada keterhubungan hidrologis antara puncak/kubah gambut de­ngan kaki/pinggiran gambut. Artinya, kondisi air yang ada di puncak /bagian hu­lu akan sangat mempengaruhi kualitas, kuantitas, dan ketersediaan air yang ber­ada di kaki/bagian hilirnya. Dengan demikian, apabila terjadi gangguan/ke­rusakan pada satu bagian maka akan mempegaruhi bagian yang lainnya dalam satu areal KHG.

Da­lam kondisi alaminya, lahan gambut di Sumatera Selatan umumnya dalam ben­tuk hutan rawa gambut, Sebagai ekosistem hutan rawa gambut maka berada dalam ke­adaan basah dan hampir sepanjang tahun tergenang. Namun dalam proses pe­ngelolaan lahan, umumnya disertai dengan upaya pengeringan lahan gambut agar dapat ditanam. Makanya banyak kita jumpai adanya. saluran air / kanal yang di­ba­ngun pada lahan gambut yang akan ditanami. Kanalisasi ini menyebabkan air yang ada di puncak kubah akan mengalami penyusutan dan akhirnya menjadi rusak dan cepat kering. Kondisi imi membuat lahan gambut tersebut menjadi mudah untuk terbakar.

Pada banyak kasus, dijumpai pula kanal-kanal yang dibuat berlawanan arah dengan arah kontur. Dengan pembuatan kanal yang memotong kontur maka akan mem­percepat proses keluarnya air sehingga proses pengeringan lahan gambutpun men­jadi lebih dipercepat. Padahal dalam pengelolaan lahan gambut (peatland mana­ge­ment) diupayakan untuk dapat menahan air selama mungkin tetap berada di dalam lahan gambut. Pergerakan aliran air dari puncak kubah menuju kaki kubah dibuat ber­putar mengikuti arah kontur sehingga memerlukan waktu yang lebih lama untuk sampai di pinggir kubah dan selanjutnya masuk ke sungai/anak sungai. Melalui cara ini maka lahan gambut dapat dipertahankan untuk selalu basah sehingga sulit un­tuk terbakar.

Upaya Restorasi Ekosistem Gambut
Bila kita mencermati kasus kebakaran di lahan gambut dalam beberapa rentang wak­tu maka banyak dijumpai kejadian kebakaran yang berulang setiap tahunnya di lokasi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa adalah suatu keniscayaan untuk se­gera melakukan perbaikan (restorasi) ekosistem gambut yang telah terbakar. Dengan upaya untuk mengkondisikan kembali ekosistem lahan gambut yang telah ter­bakar mendekati kondisi alaminya maka secara bersamaan juga akan me­mi­ni­malkan potensi untuk kembali terbakar.

Secara konsepsi, telah disiapkan rencana 3R yaitu Rewetting (Pembasahan), Reve­ge­tation (Penanaman Kembali), dan Revilatisation Livileihood (Revitalisasi Peng­hidupan Masyarakat). Implementasi dari konsep ini sudah berjalan dalam beberapa tahun belakangan ini. Terkait efektifitas dan tingkat keberhasilannya maka tentu perlu dievaluasi.

Idealnya konsep 3R ini dapat dijalankan secara terpadu di suatu KHG. Setelah di­lakukan pembasahan, maka dapat dilakukan penanaman. Dengan cara ini maka persentase hidup tanaman dapat lebih tinggi dengan adanya upaya pengkondisian lahan sebelumnya. Untuk setiap tahapan kegiatan tentu harus juga melibatkan masyarakat setempat dalam pelaksanaan maupun pemeliharaannya. Selain itu men­jadi penting juga untuk dapat menciptakan nilai tambah sebanyak bagi peng­hidupan masyarakat dari penerapan 3R di lapangan. Melalui cara ini maka se­sungguhnya secara paralel kita berupaya mencapai kondisi dimana “gambut ter­jaga” dan “masyarakat sejahtera”.

Apabila konsep 3R ini dapat berjalan sesuai dengan rencana maka jumlah hotspot dan frekuensi kejadian kebakaran dapat ditekan atau dikurangi. Nah, adanya kon­disi kabut asap yang semakin pekat dan adanya penetapan status siaga darurat ben­cana asap dari kebakaran kebun, hutan, dan lahan di Provinsi Sumatera Selatan mengindikasikan perlunya penyelesaian akar masalah ini secara menyeluruh, termasuk persoalan terkait tata kelola lahan gambut dan upaya restorasinya. Se­la­ma akar masalahnya belum disentuh dan diselesaikan secara tepat maka selama itu pula kita akan selalu dipaksa untuk menghirup asap akibat kebakaran kebun, hutan, dan lahan yang berbahaya bagi kesehatan. Aktifitas keseharian kitapun akan ter­ganggu dan terhambat. (Oleh: Dr. Syafrul Yunardy, S.Hut., M.E./Ketua Umum Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Provinsi Sumatera Selatan (ForDAS Sumsel)

Like Facebook Sriwijaya Post Ya...

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved