Upaya Penanganan Kebakaran di Lahan Gambut

Musim kemarau yang berkepanjangan di tahun 2019 mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah tidak hanya di Sumatera Selatan,

SRIPOKU.COM/BERI SUPRIYADI
Ilustrasi - Musim kemarau yang berkepanjangan di tahun 2019 mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah tidak hanya di Sumatera Selatan, namun juga terjadi di sebagian besar pulau Sumatera dan Kalimantan. 

SRIPOKU.COM- Musim kemarau yang berkepanjangan di tahun 2019 mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah tidak hanya di Sumatera Selatan, namun juga terjadi di sebagian besar pulau Sumatera dan Kalimantan. Intensitas curah hujan yang ada di bulan Juli dan Agustus 2019 sangat kecil bahkan di beberapa waktu, sama sekali tidak terjadi hujan. Kejadian keba­kar­an hutan dan lahan baik yang “disengaja” atau terbakar secara alami sebagai pengaruh musim kemarau yangpanjang,sangat berdampak kepada kegiatan ekonomi, sosial maupun ling­kung­an. Antisipasi dan kegiatan penanggulangan pun telah dilaksanakan oleh berbagai pihak yang ber­­kepentingan baik dari pemerintah, swasta, masyarakat maupun sukarelawan.

Anshori Soal Api di Lahan Gambut: Sengaja Dibakar untuk Mengurung Ikan

Sumsel Maksimalkan Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian

Peristiwakejadian kebakaran hutan dan lahan terutama di lahan gambut mengakibatkan ru­sak­nya fungsi ekosistem gambut. Gambut yang merupakan jenis tanah yang sangat mudah terbakar dan sulit untuk dilakukan pemadaman, apabila ada kesalahan dalam pengelolaan lahan gambut.Kegiatan penanggaulangan kebakaran terutama di lahan gambut akan membutuhkan biaya yang sa­ngat besar apabila terjadi dalam skala besar. Tingkat kesulitan yang tinggi dan sulitnya akses menjadi faktor penghambat dalam kegiatan penanggulangan kebakaran. Ditambah lagi dengan su­litnya mendapatkan air untuk kegiatan pemadaman serta faktor angin yang tidak menentu.

Dalam kegiatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan berbagai tehnik dan strategi diterapkan seefektif mungkin. Mulai dari pemadaman dari darat maupun dari udara menggunakan heli­kop­ter. Selain itu dilakukan sekat kanal, sekat bakar basah maupun pembasahan gambut (rewetting). Me­­tode dan strategi diterapkan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan skala kebakarannya.

Sekat kanal dilakukan dengan cara pembendungan pada saluran air baik saluran alami maupun buatan dengan tujuan untuk mempertahankan tinggi muka air di saluran tersebut. Pembendungan dibuat dengan menggunakan material yang tersedia di lapangan sehingga mempermudah dalam pembuatannya, seperti material gambut, karung pasir, cerocok kayu dan terpal atau material la­in­nya. Pembuatan sekat kanal akan efektif apabila dilakukan pada musim penghujan sehingga kondisi saluran masih terisi oleh air.

Sekat bakar basah adalah merupakan metode pembuatan sekat bakar dengan cara memisahkan ba­han yang mudah terbakar dan yang susah terbakar. Sekat bakar dapat dibuat manual dengan cangkul atau dengan cara mekanis dengan alat berat. Lebar sekat bakar diupayakan selebar mu­ng­kin untuk menghindari rambatan dan lompatan api. Pada lahan gambut, sekat bakar dapat di­buat dengan mengeruk gambut sampai bertemu lapisan yang basah, sekitar 30 – 50 cm sehingga fungsi sekat dapat optimal.

Metode pembasahan gambut (rewetting) merupakan upaya yang paling tepat dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Upaya pembasahan gambut dapat dilakukan de­ngan pembanjiran lahan gambut dengan menutup semua saluran air yang ada. Penutupan saluran air diharapkan dapat menaikkan level air dan dapat meluap sampai membasahi lahan gambut pada elevasi tertentu.

Pada musim kemarau seperti saat ini, air di lahan akan mengalami penguapan (evapotranspirasi) yang cukup signifikan sehingga gambut akan mengalami kekeringan. Penguapan ini adalah ke­jadian alami yang tidak dapat dihindari dan dimodifikasi secara teknis. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dilakukan sistem injeksi air. Sistem ini pada dasarnya adalah upaya untuk me­nambah volume air di lahan gambut dengan cara mengambil dan mentransfer air dari sumber air menuju ke tempat yang diinginkan. Biasanya lahan gambut terletak diantara 2 (dua) daerah alir­an sungai, yang dapat difungsikan sebagai sumber air pada saat musim kemarau.

Sistem injeksi air dilakukan dengan menggunakan pompa air dengan kapasitas tertentu untuk me­mindahkan air dari elevasi rendah menuju ke tempat yang elevasinya lebih tinggi, sehingga mencukupi ketersediaan air di lahan. Tujuan dari sistem injeksi air ini adalah untuk mengisi em­bung-embung air, saluran kanal, dan pembasahan lahan. Skema injeksi air dapat dijabarkan sebagai berikut: pompa air dari sungai menuju ke embung besar atau kanal utama, dari embung be­sar atau kanal utama dipompa kembali ke kanal cabang, ke embung kecil atau bisa langsung ke lahan untuk pembasahan. Perhitungan kapasitas dan kebutuhan pompa sangat menentukan keberhasilan dari kegiatan injeksi kanal.

Kelebihan dari sistem injeksi air ini adalah air dapat tercukupi walaupun dalam musim kemarau dan efektif dalam kegiatan pembasahan lahan gambut. Seperti contoh di PT. SHP (PT.Sumberr Hijau Permai) --perusahaan yang penulis selalu amati beberapa waktu belakangan ini, pompa u­kur­an 10 inchi dapat menghasilkan injeksi air sebanyak kurang lebih 3,000 liter per menitnya, sehingga dalam 1 hari pompa dapat menginjeksi sebanyak 4 juta liter. Untuk pompa dengan u­kur­an 5 inchi dapat menghasilkan injeksi air sebanyak kurang lebih 1,500 liter per menitnya, sehingga dalam 1 hari pompa dapat menginjeksi sebanyak 2 juta liter. Kekurangan dari sistem in­jeksi air ini adalah pompa biasanya berukuran sangat besar sehingga mempersulit dalam mo­bilisasi unitnya. Selain itu ketersediaan sumber air juga jadi permasalahan tersendiri dalam sistem ini.

PT. Sumber Hijau Permai adalah perusahaan yang bergerak di bidang hutan tanaman industri sangat fokus dalam penanganan bahaya kebakaran hutan dan lahan. Dalam berbagai kejadian kebakaran di kabupaten Musi Banyuasin, PT.SHP ikut serta terlibat dalam kegiatan penang­gu­langan bahaya kebakaran hutan dan lahan sebagai bentuk kepedulian dalam upaya penyelamatan fungsi ekosistem gambut. PT.WSP beberapa kali membantu mengirimkan Regu Pemadam Ke­bakaran yang terlatih, melakukan patroli rutin dan monitoring, melakukan water bombing meng­gunakan helikopter dan bekerjasama menyediakan alat berat excavator untuk pembuatan sekat bakar dan peralatan lainnya.

Dalam sistem injeksi air ini perlu pembenahan lebih lanjut agar dapat diterapkan dengan efektif dan efisien, sehingga dapat optimal membantu dalam hal penanggulangan bahaya kebakaran hu­tan dan lahan terutama di lahan gambut. Diharapkan ada langkah-langkah strategis terstruktur dan massif baik dari Pemerintah, TNI, Polri, Masyarakat dan pihak swasta khususnya pemegang Izin untuk kedepan melakukanpenanggulangan dan upaya pemadaman karhutla agar tidak terjadi kembali bencana di setiapmusim kemarau. (Oleh : Bowo Suratmanto/Praktisi Water Management)

Like Facebook Sriwijaya Post Ya...

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved