Runway Tertutup Kabut Asap, Air Asia Gagal Landing

Rini menyebutkan, perjalanan kemudian dilanjutkan ke Johor Baru dengan waktu tempuh selama 45 menit.

Runway Tertutup Kabut Asap, Air Asia Gagal Landing
SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Ilustrasi kabut asap yang menutupi Kota Palembang. 

PALEMBANG, SRIPO -- Rasa cemas menyelimuti Rini Azhar dan teman-teman saat pesawat Air Asia Airbus 320 yang ditumpanginya dari Kualalumpur menuju Palembang terpaksa harus dialihkan ke Johor Baru, setelah sebelumnya berputar di langit Palembang selama 18 menit.

Rini mengatakan, jadwal keberangkatan pesawat yang ditumpanginya pukul 06 pagi dan diperkirakan tiba pukul 09.00. Namun dikarenakan kabut asap dan jarak pandang rendah membuat pilot pesawat yang ditumpanginya menginformasikan bahwa pesawat tidak bisa mendarat.

"Di dalam pesawat sebelumnya diinformasikan bahwa akan mendarat, tapi kok lama sekali tidak mendarat. Sudah cemas takutkan malah saya sempat tanya ke penumpang lain ada apa, barulah hampir 20 menit dapat informasi dialihkan ke Johor Baru karena tak bisa mendarat," ujarnya, Senin (23/9/2019).

Rini menyebutkan, perjalanan kemudian dilanjutkan ke Johor Baru dengan waktu tempuh selama 45 menit. Setibanya di bandara penumpang tidak diperkenankan untuk turun sembari menunggu informasi untuk keberangkatan kembali menuju ke Palembang.

"Pilot pun saat menginfokan kembali belum bisa menjanjikan apakah bisa mendarat atau tidak nanti karena harus memantau kondisi di Palembang dan akhirnya tetap berangkat. Alhamdulillah kami landing pukul 10.30an," jelasnya.

Selama di pesawat Rini dan penumpang lainnya berdoa dan berharap besar agar pesawat yang ditumpanginya rapat mendarat di Bandara SMB II dengan selamat.

Sementara itu, General Manager Air Nav Palembang, Ari Subandiro membenarkan jika memang ada penerbangan yang harus dialihkan karena buruknya kondisi jarak pandang di Bandara SMB II Palembang.

"Tibanya harusnya 06.51 tapi dialihkan karena jarak pandang yang tidak memenuhi syarat dan baru tiba di Palembang pukul 10.33," ujarnya.

Terkait jarak pandang, lanjut Ari, sifatnya dinamis karena disaat-saat tertentu bisa memburuk namun beberapa saat bisa membaik. "Ini tergantung dengan hembusan angin, biasanya saat angin bertiup kencang jarak pandang cepat membaik," ujarnya.

Sesuai ketentuan untuk standar jarak pandang yang dapat didarati oleh maskapai penerbangan minimal 800 meter. Kemudian, pihaknya akan mengikuti aturan yang ada dalam proses pemberian informasi jarak pandang. "Yang kita akan lakukan menginformasikan ke maskapai yang menuju ke Palembang jika jarak pandang terbatas," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Rahmaliyah
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved