Produksi Meningkat, Pengusaha Batu Bata Di Pali Justru Terkendala Masalah Air

Musim Kemarau Produksi Batu Bata Meningkat Namun Sulit Air, Pemborong Diharapkan Beli Barang Asli PALI

SRIPOKU.COM/REIGAN P
Pengusaha Batu Bata di Desa Karta Dewa Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI saat memproduksi batu bata untuk dipasarkan. 

Musim Kemarau Produksi Batu Bata Meningkat Namun Sulit Air, Pemborong Diharapkan Beli Barang Asli PALI

SRIPOKU.COM, PALI -- Pengusaha Batu Bata di Desa Karta Dewa Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sedikit bisa tersenyum seiring musim kemarau saat ini tengah terjadi, Minggu (22/9/2019).

Pasalnya, produksi batu bata milik pengusaha ini sedikit mengalami peningkatan, meski mereka harus kesulitan mencari air untuk dijadikan bahan baku membuat batu bata.

Amrin pengusaha Batu Bata di Desa Karta Dewa Kecamatan Talang Ubi menuturkan, bahwa dalam satu bulan produksi batu bata di bangsal (tempat cetak batu bata) miliknya sedikit mengalami peningkatan.

Dimana, menurut dia, sebelum musim kemarau, Bangsal miliknya bisa menghasilkan 1500 jumlah batu bata perbulannya. Sedangkan saat ini bisa memproduksi hingga 2 ribu keping bata.

Buronan Pembunuh DJ Virgiawan di Diskotik DA Palembang, Keok Ditembak Tim Hunter Polresta Palembang

Download Lagu Ari Lasso - Cinta Terakhir Terpopuler Sepanjang Masa, Lengkap dengan Video & Lirik

Kabut Asap Makin Pekat, Kapal yang Keluar Masuk di Perairan Sungai Musi Diberlakukan Ganjil Genap

"Namun, dimusim kemarau kita kesulitan air. Dalam satu hari kita membeli air satu tangki ukuran 5 ribu liter seharga Rp 150 ribu," ungkap Amrin, Minggu.

Menurutnya, sebelum batu bata bisa dipasarkan, ada beberapa proses tahapan yang harus disiapkan, seperti membuat adukan tanah, dicetak baik manual serta mesin pres, dijemur (cengkrang) dan disusun ditempat pembakaran atau pengasapan.

Proses tersebut bisa membutuhkan waktu 3-4 hari

"Satu batu bata itu kita jual seharga Rp 550. Kendala kita kalau musim kemarau batu cepat kering namun susah air. Sedangkan musim hujan, air banyak namun susah kering," jelasnya.

Sementara, Herman pengusaha Batu Bata lainnya menambahkan, saat ini di Bagsal miliknya masih banyak stok batu bata yang belum laku terjual.

Hal ini lantaran, kata dia, masyarakat seakan enggan membeli batu batu untuk membangun, mengingat musim kemarau selain getah sulit keluar, harga karet juga masih belum naik.

"Pembeli itu kalau dari warga itu musiman. Yang banyak ialah dari pemborong atau kontraktor misalnya membangun sebuah sekolah atau gedung. Namun mereka banyak membeli batu bata dari luar daerah," katanya.

Dari itu, ia berharap kepada para pemborong untuk melakukan pembangunan mengunakan batu bata, agar bisa membeli barang asli dari warga Bumi Serapat Serasan, sehingga roda perekonomian masyarakat bisa berputar.

"Kita berharap para pemborong bisa menggunakan barang asli dari PALI, misalnya Batu Bata dan jangan membeli dari luar daerah," ujarnya.(cr2)

Penulis: Reigan Riangga
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved