Islam Transitif: Mentransformasikan Universalisme Islam

Universalisme Islam adalah karakteristik Islam sebagai agama samawi yang agung. Risalah Is­lam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan suku bangsa

Islam Transitif: Mentransformasikan Universalisme Islam
Edisi Cetak Sriwijaya Post
Edisi Cetak Sriwijaya Post. 

SRIPOKU.COM - “...dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya se­bagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS. Saba’ [34] : 28).

Universalisme Islam adalah karakteristik Islam sebagai agama samawi yang agung. Risalah Is­lam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan suku bangsa serta pelbagai lapisan masyara­kat.Karenanya, semua manusia harus tunduk kepadanya. Universalisme Islam menampakkan di­ri dari berbagai manifestasi penting, dan yang terbaik adalah ajaran-ajarannya.

Ajaran-ajaran Is­lam yang mencakup aspek akidah, syariah dan akhlak (yang seringkali disempitkan oleh seba­gi­an masyarakat menjadi hanya kesusilaan dan sikap hidup). Hal ini dapat dilihat dari lima tu­ju­an um­um syariah (Ad-Dharuriah al-Khamsah), yaitu: menjamin keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Amalan Serta Doa Sebelum Tidur Sesuai Ajaran Rasulullah dan Posisi Tidur yang Baik Dalam Islam

Running Eksklusif - Raden Fatah Sebarkan Islam di Pasemah

Selain itu risalah Islam menampilkan nilai-nilai kemasyarakatan (social va­lues) yang luhur, yang bisa dikatakan sebagai tujuan dasar syariah, yaitu: keadilan, ukhuwah, ke­be­basan (kemerdekaan), dan kehormatan. Semuanya ini akhirnya bermuara pada keadilan sosial dalam arti yang sebenarnya.

Islam, sebagai sebuah agama yang mengandung nilai-nilai universal tersebut di atas semestiya dapat menjadi ‘lokomotif’ pergerakan kolektif dalam membangun peradaban yang memanu­sia­kan manusia, memberikan kemudahan-kemudahan dalam pemenuhan hajat hidup, mensejah­ter­a­kan jiwa dan raga, berkeadilan, serta memberikan maslahat bagi alam semesta (living Things dan unliving things). Namun dalam realitas sosial (dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara), nilai-nilai samawi yang agung itu belumlah mampu membumi secara utuh, belum pula mengakar ko­koh dalam pemahaman invidual maupun komunal yang diharapkan mampu menjiwai gerak hidup dan kehidupan. Sudah tentu, keadaan demikian tidak akan mampu memberikan dampak signifikan secara internal maupun eksternal, apalagi bagi masyarakat global. Padahal dalam ren­tang sejarah (fase-fase tertentu), Islam dan umatnya pernah mengukir tinta emas kege­mi­lang­an dalam dakwah dan peradaban.

Banyak penelitian yang telah dilakukan, baik dari kalangan pemikir muslim maupun kaum ori­en­talis guna mencari tahu apa faktor-faktor pendukung kemajuan Islam dan Peradabannya di masa lam­pau, dan apa pula faktor-faktor penyebab kemunduran itu sendiri. Mulai dari Ibnu Tai­miy­yah, Jamaluddin al-Aghani, Fazlur Rahman, Nurcholis Madjid, Kunto Wijoyo dan masih banyak la­gi lainnya. Dedikasi yang telah mereka lakukan telah sampai pada “benang merah” kedua sisi; kemajuan dan kemunduranitu sangat bergantung pada pembacaan, pemaknaan, pemahaman, dan pe­nerapan sumber ajaran agama (al-Quran dan Hadis). Itu artinya, tidak ada yang salah dengan sum­ber yang agung itu, yang keliru dan mesti diluruskan adalah cara kita membaca, memaknai, dan memahami, sebab ketiganya sangat berdampak pada implementasinya. Asumsinya adalah bah­wa ayat-ayat al-Quran dan Hadis itu diturunkan maupun dituturkan tentu tidak dalam konteks so­sial yang kosong. Oleh sebab itu ada Asbab al-Nuzul dan Asbab al-Wurud sebagai barome­ter­nya.

Selaras dengan tugas pokok dan fungsi diciptakannya manusia sebagai khalifah, bertujuan agar ter­wujudnya hidup yang seimbang; bahagia di dunia dan di akhirat. Karena kehadiran Islam mem­bawa misi rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam). Misi tersebut tidak akan ter­ca­pai dengan petunjuk nilai semata, yang hanya melahirkan kesalehan personal akan tetapi me­mer­lukan konstruksi keilmuan emperis agar terwujudnya kesalehan saintifik yang secara lang­sung dapat melahirkan pelbagai produksi yang memfasilitasi perangkat kehidupan umat manusia da­lam melakukan berbagai aktivitas pembangunan peradaban yang berbasis kesejahteraan, kea­dil­an, dan kemaslahatan alam semesta. Dari kasalehan saintifik inilah pada gilirannya mewujudkan kesalehan sosial seutuhnya.

Cita-cita mulia tersebut hanya dapat diwujudkan bila pemahaman terhadap Islam dalam pemba­ca­an dan pemahaman transitif. Pemaknaan Islam dalam konteks transitive verb dapat dimak­na­kan sebagai sebuah agama yang mengajarkan umatnya untuk bergerak keluar dari lingkaran in­di­vidual menuju hamparan kolektivitas sosial kemanusiaan dalam berbagai terobosan dalam rang­ka pemenuhan kebutuhan dan pengembangannya yang berbasis pada kemaslahatan, baik dalam kon­teks lokal maupun global. Pemaknaan Islam yang digandengkan dengan kata transitif menge­de­pankan ajaran Islam universal yang tidak berhenti pada kata “aku” dan “kami” semata, akan te­tapi bergerak keluar menuju kata “kalian”, “dia”, “mereka” yang berkolaborasi menjadi “kita” da­lam berbagai dimensi pergerakkannya untuk merealisasikan keselamatan, keamanan, keda­mai­an, kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaan.

Kata Islam yang mengandung makna transitif dengan berbagai derivasinya terdapat dalam lima ayat dalam al-Quran; QS. Al-Baqarah:233, QS. An-Nisa: 65, QS. An-Nur: 27, dan 61, QS. Al-Anfal: 43. Semua ayat tersebut menunjukkan sebuah aktivitas yang bergerak keluar (transitive), ten­tu saja dengan cara merealisasikan ajaran Islam dalam berbagai dimensi kemanusiaan yang me­nyejahterakan (humanitarian welfare), bukan diam atau hanya bergerak dan berputar-putar di dalam (intransitive). Pemahaman keislaman intransitive yang berkembang selama ini menye­bab­kan umat “asyik” dengan persoalan internal, yang salah satu akibatnya umat Islam menjadi orang­-orang yang selfish, bahkan dalam mengejar kebahagiaan ukhrawi sekalipun. Pada saat yang sama juga, tidak dapat dinafikan serbuan berbagai rekayasa budaya global tentu saja se­ma­kin membuat umat ini berada dalam ketertinggalan dan asyik dalam kesendiriannya (Ansari Ya­ma­mah, 2019: 9).

Bila menelisik al-Quran dan Hadis Nabi SAW., banyak sekali ayat-ayat dan juga Hadis yang da­pat dijadikan sebagai landasan terminologis Islam transitif, antara lain dalam QS. Al-Qashash:77 yang artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah ke­padamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu buat kerusakan di muka bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”. Demikian juga Ha­dis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang artinya: “Tidaklah beriman kepa­daku o­rang yang menghabiskan malamnya dalam keadaan kenyang dan ia tahu bahwa tetangganya sedang kelaparan”.

Secara terminologis, ayat tersebut menunjukkan adanya perintah kepada umat Islam untuk ber­ge­rak melakukan pencarian dan penemuan dalam rangka menyiapkan dan memfasilitasi kepen­ting­an yang seimbang bagi masa depan akhirat dengan cara memproduksi, menghargai, dan men­di­stri­busikan keselamatan, keamanan, kedamaian, kesejahteraan, dan kemaslahatan bagi umat ma­nusia, sekaligus memproteksi seluruh bentuk kehidupan. Sama juga halnya dengan Hadis Nabi SAW tersebut dengan tegas menggambarkan, bahwa kebahagiaan dan kenyamanan itu tidak bo­leh hanya dinikmati sendirian, akan tetapi juga harus didistribusikan dalam gerakan total pro­duksi yang tidak hanya untuk kemaslahatan kemanusiaan, tetapi juga untuk segala bentuk inter­ak­si sebuah kehidupan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pemaknaan Islam, dalam hal ini Islam Transitif merupakan sebuah gerakan kolaborasi akal dan realitas kemanusiaan dalam upaya menemukan re­kayasa sains dan teknologi dalam gerakan total produksi, mendistribusikan dan memelihara ketersambungan geneologis kehidupan dalam tataran sosial kultural, ekonomi, politik, agama, dan bahkan ketersambungan bagi semua makhluk yang hidup atau mati sekalipun (living and unliving things). (Oleh: Otoman/Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang)

Like Facebook Sriwijaya Post Ya...

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved