Fakta Terungkap, Terbongkar Lokasi Asli KKN Desa Penari, Sosok Ini Sebut Roh Bima dan Ayu Masih Ada

Fakta Terungkap, Terbongkar Lokasi Asli KKN Desa Penari, Sosok Ini Sebut Roh Bima dan Ayu Masih Ada

Fakta Terungkap, Terbongkar Lokasi Asli KKN Desa Penari, Sosok Ini Sebut Roh Bima dan Ayu Masih Ada
Tribunjogja.com
Fakta Terungkap, Terbongkar Lokasi Asli KKN Desa Penari, Sosok Ini Sebut Roh Bima dan Ayu Masih Ada 

Budayawan itu mengungkapkan bahwa benar ada sebuah situs purba yang disakralkan, lokasinya di pinggir hutan dan jauh dari pemukiman.

Daerahnya memang dikelilingi oleh hutan, dan masih banyak hewan sejenis kera yang berkeliaran.

Lokasi desa tersebut berjarak sekitar 2 KM dari desa Kemiren, Banyuwangi.

Sama seperti dalam cerita KKN di Desa Penari, budayawan tersebut mengungkap bila adanya sebuah makam yang dihiasi kain-kain sesuai dengan cerita.

Kain tersebut awalnya berwarna putih namun karena kotor kini berubah menjadi hitam.

"Awalnya kainnnya putih, karena kotor jadinya hitam," ujar pria yang mengenakan kaus Forum Budaya Purnama itu.

Bima, tokoh disebut dalam cerita KKN di Desa Penari.
Bima, tokoh disebut dalam cerita KKN di Desa Penari. (twitter @@SimpleM81378523)

Saat ditanya soal kebenaran bahwa kampung itu pernah digunakan untuk KKN, pria itu mengaku tidak mengetahui pernah atau tidaknya kegiatan tersbeut dilakukan di desa itu.

Namun pria itu amat meyakini, ciri-ciri lokasi sesuai dengan desa yang ada di cerita KKN di Desa Penari.

"Kalau KKN belum tahu. Kalau saya meyakini ciri-cirinya sama dengan yang saya maksud ini," kata pria itu.

Budayawan itu pun lantas menyebut beberapa kesamaan ciri-ciri desa yang dimaksud.

Termasuk pula soal penari 'gaib'

Agenda Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Pejabat Pemprov Sumsel, Selasa 17 September 2019

Ramalan Bintang - Cinta Hari Selasa 17 September 2019; Aries Mulailah dengan Berpikir Positif

Sebut Ibunya Tak Siap Kesulitan Ekonomi, Sikap Barbie Kumalasari Terbongkar, Ungkit Harta Pemberian!

"Pondasinya, batunya, sumber airnya, terus disakralkan, penari yang gaib yang dalam hari-hari tertentu itu kelihatan oleh orang-orang tertentu juga," jelasnya.

Tak hanya mengaku bila lokasi tersebut amat mirip dengan cerita KKN di Desa Penari, namun budayawan tersebut menyebut juga pernah mengalami hal yang tak masuk akal.

Ia mengaku pada malam hari pernah mendengar suara musik gamelan di lokasi tersebut.

Budayawan tersebut juga menceritakan, di desa itu dulunya pernah ada seorang sesepuh yang ahli dalam pengobatan nonmedis.

Namun diketahui sesepuh tersebut telah meninggal dunia.

"Di sana itu dulu ada seorang sesepuh, tapi sudah meninggal. Inisialnya J," katanya.

"Sesepuh itu, spiritualnya tinggi, penyembuh dari penyakit nonmedis itu luar biasa," tuturnya.

Kemudian, diceritakan pula kebiasaan sesepuh tersebut yang kerap menyuguhkan kopi kepada para tamunya.

"Biasanya dia akan selalu menyuguhkan kopi bagi tamunya," kata pria berkacamata tersebut.

Ia juga menjelaskan, kalau sesepuh tersebut mengharuskan setiap tamunya meminum kopi tersebut, meski hanya seteguk.

Sama seperti di dalam cerita, kopi tersebut disebut-sebut sebagai media sang sesepuh untuk mengobati pasiennya yang menderita penyakit nonmedis.

Tak sampai situ, sangking misterinya cerita KKN di Desa Penari ini, banyak beberapa pihak yang ingin menguak dimana lokasi tepatnya KKN Desa Penari tersebut.

Sebab dalam cerita KKN di Desa Penari, hanya memberikan informasi bahwa lokasi tersebut berada di Desa D.

Karenanya banyak yang masih penasaran dimana letak lokasi asli Desa D itu.

Budayawan itu pun lantas menyebut bila Desa D yang dimaksud ialah Kampung Dukuh.

"Inisialnya D, namanya kampung Dukuh itu," ungkap pria tersebut.

Pria berambut ikal itu merasa yakin bahwa desa yang ia maksud ciri-cirinya sesuai dengan apa yang ada di cerita.

"Di desa itu ada selendangnya, sumber airnya, ada batu yang disakralkan, ada situs bekas pendopo, terus penari-penari gaib, suara gamelan gaib itu ya di situ (Desa Dukuh) itu. Semua masyarakat tahu," pungkas pria berkaus Forum Budaya Purnama itu.

Penulis: Shafira Rianiesti Noor
Editor: Welly Hadinata
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved