Laporan Eksklusif

Nenek Moyang Wong Sumsel Orang Gunung

Aliran-aliran sungai dan Gunung Dempo menjadi saksi sebaran situs-situs megalitik di wilayah Pasemah atau Besemah (Pagaralam dan Lahat).

Nenek Moyang Wong Sumsel Orang Gunung
SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT
GOA HARIMAU --- Juru pelihara Goa Harimau, Dodi membersihkan salah satu replika kerangka manusia purba berasal dari ras Austromelanesoid dengan Mongoloid, yang masih terjaga di Gua Harimau, Desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji Kabupaten OKU. 

PALEMBANG, SRIPO -- Sebaran megalit, batu yang telah mendapatkan pahatan dan sentuhan seni manusia di masa lalu di sepanjang aliran Sungai Lematang dan anak sungai Selangis membentang dari Timur dan Barat menghadap Gunung Dempo Pagaralam.

Aliran-aliran sungai dan Gunung Dempo menjadi saksi sebaran situs-situs megalitik di wilayah Pasemah atau Besemah (Pagaralam dan Lahat).

Suku Pasemah yang berkembang menjadi sub etnik seperti Gumay, Ogan Ulu, Semendo, Lampung Selatan hingga ke Bengkulu yang berada di kawasan Bukit Barisan sebagian besar menggantungkan kehidupan dengan cara bercocok tanam, berkebun dan memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber kehidupan.

Tim Ekspedisi Sriwijaya (Sripo-Tribun) selama satu pekan (26 Agustus- 1 September) mencoba menyusuri peradaban di masa lalu yang masih dilakukan masyarakat Besemah hingga saat ini.

Keberadaan situs megalitik yang diperkirakan telah berusia sekitar 3000-4000 tahun lalu, menjadi bukti bahwa di masa itu ada orang di masa lalu yang telah mendiami kawasan Besemah terlebih dahulu. Aktivitas manusia purba di masa lalu mereka tuangkan ke dalam arca (patung batu) dengan pahatan berbagai kegiatan mereka di masa lampau. Seperti di Desa Tanjung Sirih Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat, di kawasan yang berada di Bukit Barisan itu tersebar lima situs megalitik seperti Batu Lumpang, Batu Macan, Batu Putri Gendong Anak, Batu Kursi dan Batu Manusia (satria).

Keberadaan Arca tersebut dituangkan manusia purba untuk menggambarkan aktivitas mereka di masa lalu. Dimana pada peradaban itu sudah ada manusia yang menggendong anak, hewan serta sudah ada manusia lampau menjadi penjaga atau ksatria.

"Situs megalitik di sini (Tanjung Sirih) sudah berusia sekitar 4.000 tahun. Sudah ada sebelum kisah Serunting Sakti (si pahit lidah)," ujar Hamli, Juru Pelihara Situs Megalitik Tanjung Sirih.

Ia menjelaskan, menurut orang-orang tua di Desa Tanjung Sirih di kawasan yang terdapat sebaran megalit tersebut merupakan dataran paling tinggi. Dimana sekitar kawasan itu dulunya merupakan sungai besar. "Menurut sejarahnya begitu. Jadi sebaran megalit ini tempat yang tinggi dikelilingi sungai besar," jelasnya.

Setelah dari Desa Tanjung Sirih, tim Ekspedisi Sriwijaya melanjutkan perjalanan ke situs megalitik Tinggihari Lahat. Di situs yang tersebar di tiga wilayah itu manusia purba menggambarkan juga menggambarkan aktivitas kehidupan mereka.

Namun dari sisi pahatan, arca di kawasan tersebut tampak lebih rapih dan detail. Arca manusia di kawasan Tinggihari pada umumnya sudah lebih maju dan telah mengenal budaya. Mereka di gambarkan telah memakai kalung, manik-manik dan rompi atau pakaian adat.

Halaman
123
Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved