Agar Gawai Tak Hanya Jadi Sarana Hiburan Anak-anak

Banyak orangtua yang cemas melihat buah hati mereka asyik memainkan gawai selama berjam-jam. Membuat batasan durasi waktu merupakan cara yang biasanya

Agar Gawai Tak Hanya Jadi Sarana Hiburan Anak-anak
http://sains.kompas.com/
Ilustrasi - Banyak orangtua yang cemas melihat buah hati mereka asyik memainkan gawai selama berjam-jam. 

SRIPOKU.COM - Banyak orangtua yang cemas melihat buah hati mereka asyik memainkan gawai selama berjam-jam. Membuat batasan durasi waktu merupakan cara yang biasanya diterapkan agar anak tidak kecanduan gadget.

Sebenarnya cukup beralasan jika orangtua membuat batasan penggunaan gawai, karena kebanyakan masyarakat, termasuk anak-anak, masih memanfaatkan gadget hanya untuk bermain, ketimbang membuat sesuatu yang kreatif.

Kecanduan Bermain Gawai Pada Anak Ternyata Sama dengan Kecanduan Narkoba, Ini Penjelasannya

4 Pencegahan Anak Kecanduan Gawai Dimulai dari Orangtua

“Selama ini masyarakat Indonesia lebih banyak menjadi konsumen teknologi, belum menjadi inovator atau pencipta,” kata pengamat pendidikan dan sains, Indra Charismiadji dalam diskusi bertajuk “Sains Digital Dari dan Untuk Anak Indonesia” yang digelar oleh Kalbe Farma di Jakarta (6/9/2019).

Ia menambahkan, pendidik dan orangtua di Indonesia kebanyakan masih menganggap gawai sebagai hal negatif dan sebagai sarana hiburan.

“Karena orangtua biasanya tidak tahu apa positifnya dari gawai. Ini karena gawai hanya dipakai untuk hiburan, tidak dimanfaatkan sesuai tujuannya,” kata Indra.

Menurutnya, banyak orangtua yang tidak tahu bahwa laptop dan komputer adalah alat kerja masa kini.

Jika anak-anak dibangkitkan rasa ingin tahunya, diberi tantangan, tentu mereka bisa memanfaatkan gawai untuk sesuatu yang lebih produktif. Misalnya saja mengajak anak membuat games sederhana.

“Jadi, anak kita geser dari pengguna menjadi pecipta, dan ini kuncinya ada di orangtua,” ujarnya.

Laporan Forum Ekonomi Dunia 2018 menyebutkan, 65 persen anak yang sekarang duduk di bangku SD, nantinya akan bekerja di bidang yang sekarang bahkan belum ada.

“Hanya 35 persen pekerjaan yang masih tersisa, yang 65 persen dituntut untuk jadi pencipta kerja, bukan pencari kerja,” kata Indra.

Halaman
12
Editor: Bejoroy
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved