Berita Palembang

Kabut Bercampur Asap Landa Provinsi Sumatera Selatan, Khususnya Palembang, Ini Penjelasan BMKG

Kabut Bercampur Asap Landa Provinsi Sumatera Selatan, Khususnya Palembang, Ini Penjelasan BMKG

Kabut Bercampur Asap Landa Provinsi Sumatera Selatan, Khususnya Palembang, Ini Penjelasan BMKG
Dokumentasi BMKG Sumsel
Kabut yang terjadi di Palembang, Jumat (30/8/2019). 

Kabut Bercampur Asap Landa Provinsi Sumatera Selatan, Khususnya Palembang, Ini Penjelasan BMKG

Laporan wartawan Sripoku.com, Rahmaliyah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Di pengujung bulan Agustus, beberapa Wilayah di Provinsi Sumatera Selatan, khususnya di Kota Palembang mulai rata diguyur hujan.

Meskipun demikian kondisi cuaca masih cukup panas dirasakan oleh masyarakat saat menjelang siang hari.

Berdasarkan penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel Stasiun Meteorologi SMB II Palembang bahwa potensi hujan mulai muncul seiring melemah/hilangnya Badai Tropis Bailu dan transisi ke badai tropis.

Selanjutnya akan menyebabkan adanya sirkulasi di Selat Karimata dan perlambatan massa udara di wilayah Sumsel yang cukup uap air untuk pertumbuhan awan hujan.

Bahkan, pada citra radar cuaca Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang 27 Agustus kemarin teramati adanya Barisan Awan Hujan (Cumulonimbus) dengan rentang sepanjang 100-200 Km yang memasuki wilayah Sumsel.

Kepala Seksi Observasi Dan Informasi BMKG Sultan Mahmud Badaruddin II, Bambang Beni Setiadji mengungkapkan, fenomena ini disebut Mesoscale Convective System (Sistem Konvektif Skala Meso) yang indikasinya awan-awan hujan yang berbaris akan membentuk seperti busur panah dan disertai angin kencang.

Kabut Asap Mulai Melanda, Pelajar Sudah Saatnya Pakai Masker

Kabut Asap Selimuti Palembang, Hindari Penerbangan Pagi

Bila Kabut Asap Tebal, Disdik Sumsel dan Disdik Palembang akan Mundurkan Jam Belajar Sekolah

Angin kencang ini disebabkan perbedaan suhu dan tekanan udara yang signifikan antara daerah yang telah terpapar dan yang akan terpapar hujan.

Seiring aktifnya Badai Tropis yang baru (Badai Tropis Podul) sejak 27 Agustus kemarin, beberapa hari ke depan kondisi Sumsel akan kembali keadaan normal musim kemarau dengan kondisi lapisan udara atas yang kering dan berangin kencang yang akan memperlambat pertumbuhan awan.

"Badai Tropis Podul diperkirakan akan berakhir 31 Agustus-1 September 2019. Kami menghimbau untuk mewaspadai adanya Kabut Asap (Smog) 29-31 Agustus 2019 dikarenakan setelah beberapa bagian wilayah Sumsel terpapar hujan apabila kondisi pada malam harinya cerah akan berpotensi adanya Kabut Radiasi yang akan bercampur Asap dari karhutbunla pada pagi harinya," jelasnya.

Dikatakan Bambang Beni Setiadji, Umumnya Kabut Asap (Smog) terjadi pada pagi hari (04.00-07.00 WIB) dengan jarak pandang kurang dari 1 (satu) Km yang mengganggu transportasi terutama penerbangan.

Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved