Penjualan Menurun, Pasokan Bahan Baku Jadi Kendala Ukiran Khas Palembang

penjualan ini anjlok dikarenakan kendala susahnya mencari bahan baku ukiran yang berasal dari kayu tembesu yang usianya tua.

Penjualan Menurun, Pasokan Bahan Baku Jadi Kendala Ukiran Khas Palembang
SRIPOKU.COM/Jati
Penjualan menurun, Pasokan Bahan Baku jadi kendala Ukiran Khas Palembang 

Laporan wartawan Sripoku.com, Jati Purwanti 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Penjualan ukiran kayu khas Palembang rupanya mengalami penurunan sejak akhir Juni lalu. Angka penurunan pun cukup tinggi yaitu hingga sekitar 20 persen.

Pemilik usaha ukiran kayu Palembang Dwita Art, Eskariyanti Hafsha Utami, mengungkapkan penjualan ini anjlok dikarenakan kendala susahnya mencari bahan baku ukiran yang berasal dari kayu tembesu yang usianya tua.

"Cara mengakalinya agar ukiran tetap ada ya pakai kayu tembesu muda. Itu pun harus beli langsung di Jambi. Di toko kami memang sedang sudah mencari stok sehingga ya pesanan harus ditunda dulu," jelasnya saat dijumpai di tokonya yang berada di kawasan Sentra Ukiran Kayu di Jalan Faqih Jalaluddin, Palembang, Rabu (14/8/2019).

Sebenarnya, kata dia, bila pasokan bahan baku selalu ada dia bisa memenuhi permintaan ukiran kayu, baik untuk konsumen di Palembang atau menyediakan produk di agen atau reseller tetap tokonya yang tersebar di OKU, OKU Timur dan Muara Enim.

Dengan kondisi begini dia pun harus bersiasat dengan menaikkan harga jual beragam produk ukiran meski dengan nominal yang tidak terlalu tinggi. Hal tersebut dilakukan agar ongkos produksi tidak banyak berpengaruh terhadap omzet toko.

"Supaya produk selalu ada ya harus menaikkan harga. Apalagi, kan kalau di reseller tetap produk harus selalu tersedia," lanjutnya.

Saat ini pun di toko ukiran ini hanya melayani pembelian ukiran padahal sebelumnya juga melakukan pengecatan ukiran langsung.

Tak hanya soal bahan baku, saat ini pun usahanya terkendala pasokan cat pewarna alami untuk ukiran yang berasal dari getah malau yang harus dibeli langsung dari Padang, Sumatra Barat.

Terkadang jika terpaksa sekali ukiran tersebut dicat menggunakan sirlak damar meski warna yang dihasilkan kurang bagus.

"Masih butuh malau tapi ya memang langka dan mahal jadi begini," lanjut Eskariyanti.

Sekadar informasi tambahan, meski kini banyak produk meubel modern yang dijual di pasaran namun minat masyarakat memiliki ukiran kayu khas Palembang ini masih cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan seringnya pesanan ukiran kayu yang diminta masyarakat. Tidak hanya masyarakat lokal namun peminat ukiran ini pun sudah tersebar di beberapa negara Asia.

Beragam ukuran kayu dalam beragam bentuk mulai dari kotak tisu, kotak perhiasan, meja rias hingga lemari pun. Harga yang ditawarkan untuk produk ukiran ini pun beragam yakni mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

"Terakhir pesanan datang dari teman di Vietnam. Kalau untuk lokal masih cukup banyak peminat ukiran ini." ujar Eskariyanti.(mg3)

Penulis: Jati Purwanti
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved