8 Kejahatan Prada DP Pembunuh Vera, Sempat Nonton TV Disamping Mayat Vera, 2 Saksi Hilang Misterius

8 Kejahatan Prada DP Bunuh Vera, Sempat Nonton TV Disamping Mayat Vera, 2 Saksi Hilang Misterius

8 Kejahatan Prada DP Pembunuh Vera, Sempat Nonton TV Disamping Mayat Vera, 2 Saksi Hilang Misterius
Kolase Sripoku.com
8 Kejahatan Prada DP Pembunuh Vera, Sempat Nonton TV Disamping Mayat Vera, 2 Saksi Hilang Misterius 

Selanjutnya Imelda saksi ke-7 yang hadir di Persidangan Militer I-04 memberikan kesaksian dalam persidangan. Ternyata meninggalnya Vera Oktaria dengan cara dibekap bukanlah hal yang pertama, bahkan pada saat masih berhubungan terdakwa prada DP masih melakukannya.

Pantauan Sripoku.com, Selasa (6/8/2019) hadir dengan menggunakan pakaian Putih bercorak hitam dan celana hitam Imelda memberikan keterangan kepada Oditur.

Imelda mengatakan bahwa mengenal keduanya karena rumahnya dekat dengan korban Vera Oktaria.

"Saya tau mereka berdua pacaran karena Vera dekat dengan saya. Waktu itu hubungan mereka putus nyambung. Bahkan waktu itu mereka sempat bertengkar di rumah Vera. Dan ada teriakan minta tolong,"ujar Imelda saat memberikan kesaksian.

Mendengar suara tersebut sontak dirinya langsung ke sumber suara dan melihat ternyata Prada DP membekap Vera dengan posisi Deri di atas tubuh Alm Vera di atas kasur tepatnya di ruangan tengah rumah Alm Vera.

Melihat ada yang datang Deri pun melepasan bekapan lalu terdakwa pergi dari rumah Vera. Sementara itu, Terdakwa Prada DP bertanya kepada saksi atas hal itu

"Darimana mana kamu hal itu terjadi. Setahu saya pada saat itu kamu baru datang dengan ibu korban,"kata Deri

Lalu Imelda menjawab 'Memang bener seperti itu,"jawabnya.

yang menjadi bahan pembicaraan pada saat sidang pertama masuk dalam persidangan untuk memberikan kesaksian ke-8 pada sidang terdakwa Prada DP di Peradilan Militer I-04.

4. Biaya Sekolah Prada DP Dibayari Vera Oktaria

Tak hanya mengakui hubungannya dengan Prada DP, Serli juga mengungkap fakta mencengangkan.

Pasalnya, biaya sekolah DP dibayari oleh kekasihnya yang dibunuh dan dimutilasi itu.

Di hadapan Serli, Prada DP menyebut jika korban, Vera Oktaria, membuatnya kecewa.

Berdasarkan cerita yang didengar Serli, Prada DP kecewa karena korban tak kunjung mau datang ke rumah untuk dikenalkan ke orangtua terdakwa.

"Dia cerita dengan saya, Fera itu yang biayai sekolahnya si DP. Hp yang dipakai Fera itu dari dia, Fera kan sering di rumah. DP sering ke rumah Fera bawa makanan, tapi Fera tidak pernah mau kalau diajak ke rumah DP," jelas saksi.

Serli pun mengatakan bahwa Prada DP mengaku sudah putus hubungan dengan Vera Oktaria.

"Saya sudah putus, saya sudah kesal," ucap Serli menirukan kata-kata Prada DP waktu itu.

5. Adanya Kekerasan di Alat Vital Kekasih Prada DP

(KOMPAS.com/AJI YK PUTRA)
(KOMPAS.com/AJI YK PUTRA) ()

Sebelumnya disampaikan bahwa Vera Oktaria meninggal dunia lantaran lemas kekurangan oksigen.

Belakangan ini, dokter forensik menambah keterangan bahwa terdapat tanda kekerasan pada alat viral korban.

Melansir dari laman Kompas.com, Dokter Forensik Polda Sumatera Selatan, Kompol Mansyuri menemukan tanda kekerasan di bagian alat viral jenazah Vera Oktaria (21).

Tanda kekerasan itu ditemukan ketika autopsi jenazah korban pada 10 Mei 2019 lalu di RS Bhayangkara Palembang,

Dari hasil pemeriksaan di vagina korban, Mansyuri tidak menemukan bercak sprema, tetapi mendapati tanda kekerasan di bagian selaput darah.

"Di selaput darah vagina korban ada luka lecet arah jam 12 dan jam 3. Kalau tidak ada kekerasan biasanya licin saja, kemungkinan mengalami kekerasan," kata Mansyuri, saat menjadi saksi ahli di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Selasa (13/8/2019).

Namun, hal tersebut bukan yang menjadi penyebab korban meninggal dunia.

"Kemudian, ditemukan ada tanda mati lemas. Sehingga korban mengalami kehabisan nafas. Tidak ditemukan tanda kehamilan di tubuh korban," ujar dia.

Dokter forensik itu juga menduga bahwa Prada DP memutilasi beberapa jam setelah korban tewas.

"Jika ada resapan darah berarti dimutilasi dalam keadaan hidup. Namun, waktu itu tidak ada resapan darah," ungkap deokter forensik yang menangani autopsi kekasih Prada DP yang dimutilasi itu.

6. Tanya Harga Speedboat

Pantauan Sripoku.com, Kamis dengan memakai kaos hitam dan celana jins biru, Nurdin saksi ketiga memasuki ruangan Garuda, Pengadilan Militer I-04 Palembang Jalan OPI Raya.

"Saya pernah menyapu dan memberisihkan di depan kamar 06 H-1 (tempat Prada DP dan korban menyewa kamar) mencium aroma tak sedap seperti bau sampah. Namun saya tak hiraukan karena biasanya bau sampah,"ujar Nurdin saat memberikan keterangan.

Lalu Nurdin melanjukan membersihkan ruangan yang belum dibersihkan. Kemudian keesokkan harinya ia mulai curiga kenapa mereka belum juga keluar dari ruangan.

 SMA Negeri 6 Palembang Optimis akan Meraih Juara Nasional Lomba Sekolah Sehat Berkarakter

 Menantu Kepala Desa di PALI Ini Mengaku Bisa Bangun Rumah dan Beli Motor Nmax dari Bisnis Narkotika

 Aniaya Anak Tetangganya, Bapak di Kecamatan Kertapati Palembang Ini Diadukan ke Polisi

Tak mempunyai nyali yang besar ia memanggil RT dan RW untuk melihat di kamar tersebut. Setelah memanggil RT dan RW dirinya baru memanggil pihak berwenang dan membuka kamar tersebut. Sontak polsek memberitahukan ada seorang mayat yang meninggal di kamar tersebut.

Awalnya tak menyadari bahwa Prada DP dan korban yang menginap disitu lalu, setelah keesokan harinya baru mengingat bahwa Prada DP lah yang menyewa kamar tersebut.

"Sebelum penemuan mayat korban, Terdakwa Deri Pramana sempat ngobrol empat mata menanyakan Harga Speedboat ke Karang Agung. Saya bilang memang harganya segitu, karena ibu pernah menyewanya,"kata Nurdin.

Kemudian pembicaraan pun berganti dan Nurdin menanyakan kerja dimana? Dijawab Prada DP kerja di koral.

Mendengar pernyataan tersebut Nurdin sangat antusias dan menghapiri Deri. Melihat gelagat pemilik hotel tak sesuai harapan langsung terdakwa kabur menggunakan motor korban.

7. Beli Tas dan Koper

Rafida, seorang perempuan yang menjual tas dan koper kepada terdakwa yang rencanya dalam dakwaan sidang pertama terdakwa berniat menghilangkan jejak dengan cara memasukkan tubuh korban ke dalam koper tersebut.

Dirinya mengatakan bahwa kenal terhadap terdakwa dan sempat menanyakan niatan Deri Perdana membeli tas tersebut.

"Dia (Prada Dp) 2 kaki membeli tas ditempat saya yang pertama membeli tas ransel dukung 2 buah yang berwarna ada hujau dan biru dan yang terakhir tas koper besar,"kata Rafida

Ia mengatakan sempat bertanya pada saat pembelian tas pertama ''Untuk apa tas tersebut dibeli" dijawablah Prada DP 'untuk kawan''.

Lanjut Rafida Pada saat transaksi tersebut sebelumnya terdakwa menggunakan motor matic korban menuju tokonya.

Lalu, terjadilah tawar menawar dari harganya 150.000 ditawar terdakwa 95.000.

Kemudian pukul 11.30WIB terdakwa datang kembali lagi siang dan beli koper besar dengan merk Polo berlist.

Lalu penjual tas tersebut kembali bertanya untuk apa.

"Mau belikan mamak tas untuk ke lampung," jawab Deri.

 Jessica Wongso Divonis 20 Tahun, Begini Kabar Arief Soemarko Suami Mirna Pasca 3 Tahun Kematian

 Selain Muzdalifah, Rumah Lapis Emas Inul Daratista Tak Kalah Mewah, Kamar Mandinya Jadi Sorotan

 Deretan Artis Ini Miliki Hubungan dengan Karyawan TV Swasta, Ada yang Jodoh Setelah Wawancara

Rafida menambahkan pada saat pertemuan kedua terdakwa masih menawar tas tersebut dari harga 350.000 dan ditawar 300.000 dikasih.

Dari keteranganya dalam 2 kali kunjungan Prada DP kesana ekpresi raut muka Deri tampak keliatan santai.

8. Dua saksi kunci hilang misterius

Ada dua saksi kunci yang tidak hadir dalam sidang, padahal merupakan saksi kunci.

Melansir Kompas, kedua saksi yang hilang tersebut adalah Dodi Karnadi (36) paman Prada DP.

Serta Muhammad Hasanudin, teman dari Dodi. Dodi adalah orang pertama yang mengetahui Prada DP memutilasi dan membunuh Fera.

Sedangkan, Hasanudin yang membawa terdakwa ke salah satu pondok pesantren di Serang Banten.

Oditur CHK Mayor D Butar Butar dalam sidang mengatakan, mereka telah empat kali melayangkan surat panggilan kepada kedua saksi untuk hadir di persidangan.

Namun, sampai sekarang tak ada jawaban dari kedua saksi tersebut.

Sementara Sosok Imam Si Penyuruh dan Pembakar Mayat Vera diketahui telah meninggal.

Diketahui sosok Imam yang pada dakwaan dalam sidang sebelumnya, disebut sebagai orang yang menyarankan Prada Deri Pramana/Prada DP untuk membakar jenazah Vera Oktaria demi menghilangkan jejak.

Identitas Imam terungkap saat Elsa Eliza yang merupakan bibi Prada DP memberikan kesaksian di pengadilan militer I-04 Jakabaring Palembang, Selasa (6/8/2019).

"Imam adalah teman Sahir suami saya. Kalau dibilang dekat juga tidak terlalu. Paling kalau main ke rumah sebentar, habis itu pulang," ujarnya di persidangan.

"Imam juga pernah ke rumah saya. Kira-kira satu minggu setelah kejadian itu (Vera meninggal),"ujarnya.

Saat oditur Mayor Chk Andi Putu SH menanyakan apakah Elsa mengetahui kondisi Imam saat ini, dia mengaku tahu.

"Saya tahu kabar Imam sudah meninggal," ujarnya.

Selain mengungkapkan sosok Imam, Elsa juga bercerita tentang apa yang dilakukan Prada DP setelah mengaku membunuh Vera Oktaria.

Kemudian, Elsa kembali melanjutkan kesaksiannya. Dia menuturkan, mendapat informasi bahwa Prada Deri berada di sungai lilin pada 8 Mei 2019 lalu.

Kabar tersebut diterimanya melalui sambungan telepon dari Dodi Karnadi yang merupakan kakak ipar Elsa.

"Waktu tiba di sungai lilin, saya lihat ada Deri dan Imam di rumah Dodi," ujarnya.

Dilanjutkannya, saat itu Elsa dan suaminya tiba di rumah Dodi sekitar pukul 15.00 WIB. 

Hampir satu jam mereka disana.

Di situlah sempat terjadi percakapan antara Elsa dan Prada Deri.

"Waktu ketemu, sambil nangis langsung saya tanyakan kenapa kamu lari dari pendidikan. Dia jawab tante Idak tau masalahnya. saya tanya lagi, tapi dia jawab sudahlah,"cerita Elsa.

Elsa juga sempat bertanya mengenai keberadaan Vera yang saat itu diketahui telah menghilang.

"Saya tahu kabar Vera hilang dari keponakan saya (kakak perempuan Deri) yang nelepon dan bilang ibu Vera mencari dia. Saya tanya, kamu tahu tidak Vera ada dimana. Dia jawab tidak tahu," ujarnya.

Sekitar satu jam pertemuan itu terjadi.

Kemudian Elsa dan suaminya memutuskan untuk pulang.

Namun, betapa terkejutnya Elsa saat di tengah perjalanan pulang mendengar perkataan suaminya yang mengungkapkan pengakuan Deri telah membunuh Vera.

"Di jalan, saya diceritakan suami bahwa Deri sudah membunuh Vera," ujarnya.

Mengetahui kabar tersebut, Elsa lantas menghubungi orang tua Deri yang sedang dalam perjalanan menuju ke sungai lilin.

Elsa meminta agar orang tua Deri datang ke rumahnya dulu untuk memberitahu mengenai apa yang telah dilakukan Deri terhadap Vera.

"Ibu Deri mau ketemu anaknya. Akhirnya kami ke sungai lilin lagi dan ketemu sama Deri jam 21.00 malam," jelasnya.

Suasana haru terjadi saat itu. Deri langsung menangis tersedu-sedu di hadapan ibunya.

Dia juga meminta maaf karena tidak bisa membanggakan ibunya.

"Setelah itu kami pulang. Deri sempat ikut sama kami. Tapi dia dan Dodi minta diturunkan di simpang. Sedangkan Imam pulang naik motor. Setelah itu saya tidak tahu lagi mereka mau kemana, karena saat ditanya mereka tidak menjawab dengan jelas," ungkapnya

Namun, Dodi sempat meminta uang ke Elsa sebesar Rp.2 juta dengan alasan akan diberikan ke Prada Deri.

"Saya baru denger kabar sekitar dua Minggu kemudian. Kemungkinan kalau Deri sudah ada di Banten. Tapi alamatnya, saat itu saya kurang tahu dimana," katanya.

Editor: Welly Hadinata
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved