Breaking News:

Informasi Haji 2019

Jemaah Haji Saat Tiba di Muzdalifah Langsung Dibagikan Kantong Berisi Batu kerikir

Usai melaksanakan wukuf di Arafah, jemaah haji digeser menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit

ist
Jemaah haji Bermalam di Muzdalifah hingga tengah malam setelah melaksanakan prosesi wukuf di Arafah 

Laporan Wartawan Sripoku.com/Muhammad Husin 

SRIPOKU.COM, MUZDALIFAH –Setelah  jemaah haji Indonesia, khususnya Embarasi Palembang menjalankan prosesi wukuf di Arafah, secara bertahap dan pasti , jemaah didorong menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit (bermalam) hingga tengah malam, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Jemaah Haji Sumsel, khususnya Kloter 2 Palembang bergerak ke Muzdalifah pukul 21,00 Waktu Arab Saudi (WAS).

Pada kesemptan ini, jemaah haji mengambil batu krikil untuk melakukan lempar jumrah Aqobah di Mina.  Untuk tahun ini, begitu tiba di Muazdalifah, sebegian besar jemaah haji tak lagi repot harus mencari  batu, lantaran muasasah (pengelola Haji di Arab Saudi) sudah menyediakan kantong-kantor kecil berisi batu kerikir. Namun ada juga yang harus mencari sendiri karena tidak kebagian.

“Kami masuk Muzdalifah seikit terlembat, jadi ada jemaah yang tidak kebagian kantong berisi baru kerikir,” ungkap H Victory, kepada contributor sripoku.com di Muzdalifah,  Minggu (10/8) pukul 24,30 WAS atau pukul 04,30 WIB.

Jemaah haji di Muzdalifah menunggu giliran untuk digeser ke kawasan Mina dan persiapan untuk melempar jumroh
Jemaah haji di Muzdalifah menunggu giliran untuk digeser ke kawasan Mina dan persiapan untuk melempar jumroh (ist)

Menurut petugas Haji Indonesia yang mengawasi prosesi Muzdalifah mengatakan, penyediaan kantong berisi batu oleh pihak maktab/muasasah bertujuan agar keselamatan jemaah terjamin karena pernah ada kejadian jemaah mengalami  kecelakaan ditabrak mobil saat sibuk mencari batu hingga ke jalan.  Sementara di kawasan Muzdalifah sendiri ,  setiap maktab di batasai  zona dengan pagar dan satu pintu pagar masuk dan satu pintu pagar keluar. Tujuannya, sama untuk keselamatan jemaah agar  mabid tidak sampai di jalan karena lalu lalang bus sangat padat.

Masing-masing kantong rata-rata berisi 100 butir lebih batu kerikil, yang digunakan untuk melempar jumroh, yang  ditandai dengan tiga tugu. Yakni Ula, Wustho dan Aqobah. Bagi jemaah haji yang mengambil nafar awal, jumlah batu yang dibutuhkan untuk melempar jumrah sebanyak 49 batu, sedangkan yang mengambil nafar tsani, jemaah haji membutuhkan 70 batu.

Pembimbing Ibadah dari KBIH Varita Pusri H Ali Hanafiah yang mengiringi jemaah haji mengatakan, mengatakan,   Muzdalifah (Masy’aril Haram), merupakan tempat yang secara  khusus disebut Allah SWT dalam Al-Qur’an, bahkan ditempat tersebut kita dianjurkan untuk menyebut nama Allah SWT. Sekaligus bermakna Muzdalifah merupakan  miniature Padang Maksar, dimana setelah manusia dibangkitkan dari kubur, lalu dikumpulkan untuk menunggu perhitungan (hisab).

“Muzdalifah sarat dengan nilai-nilai, yang intinya menyadarkan jemaah haji bahwa semua manusia akan dihisab, tanpa terkecuali. Makanya, sebaik bekal adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Dan ibadah haji mengajarkan itu semua,” katanya. (sin)

Penulis: Husin
Editor: muhammad husin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved