Berita PALI

Harga Getah tak Menentu, Petani Karet di Kabupaten PALI Semakin Terpuruk Diperparah Kejadian Ini

Harga getah yang kian tak menentu ditambah musim kemarau, membuat nasib para petani karet di Kabupaten PALI semakin terpuruk,

SRIPOKU.COM/REIGAN RIANGGA
Salah seorang petani karet di Kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI saat tengah menyadap karen yang daunnya berguguran. 

Laporan wartawan sripoku.com, Reigan Riangga

SRIPOKU.COM, PALI -- Harga getah yang kian tak menentu ditambah musim kemarau, membuat nasib petani karet di Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) semakin terpuruk, sehingga demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga tak jarang dari mereka kerja sampingan, seperti nyambi jual ikan, Kamis (25/7/2019).

Selain itu, diduga akibat musim kemarau menyebabkan daun karet berguguran, sehingga secara otomatis berimbas merosotnya produksi getah yang secara otomatis penghasilan petani pun ikut terjun bebas.

Petani Karet asal Kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI, Sunar menuturkan, bahwa harga getah kualitas mingguan di pasaran dalam minggu lalu bisa mencapai Rp 7.500/kg, namun kali ini hanya dihargai Rp 7.000/kg.

"Harga getah turun lagi minggu ini, hanya dihargai Rp 7.000/kg, belum lagi produksinya jauh menurun hingga 50 persen akibat gugur daun," ungkap Sunar, Kamis.

Tentu dengan kondisi ini, Sunar mengakui bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, dirinya nyambi jualan ikan keliling.

"Kalau hanya mengandalkan hasil sadapan, pasti tidak cukup. Karena penghasilan kami saat ini tidak lebih Rp 200 ribu setiap minggunya, sementara anak sekolah ada tiga orang. Jadi setelah menyadap, saya berkeliling jual ikan sekitar desa," katanya.

Salah Paham, Dua Pekerja Kebersihan DAM Pasar Induk Jakabaring Palembang Berkelahi, Begini Jadinya

Pemuda di Lahat Ini Nekat Membeli Sabu dari Penghuni Lapas Kelas II Lahat

Gelar Kegiatan Amal, Hipmi Ogan Ilir Gelar Operasi Bibir dan Langit Sumbing Gratis untuk Warga

"Biasanya penghasilan perbulan mencapai Rp 3 juta, namun saat ini ditambah nyambi jual ikan untuk mencapai penghasilan hingga Rp 2 juta itu sudah cukup sulit," jelasnya menambahkan.

Dirinya mengaku tidak mengetahui faktor penyebab sehingga terjadinya gugur daun.

"Bisa jadi karena jamur karena musim kemarau. Namun, wajar saja gugur daun terjadi tidak kenal musim. Untuk itu kami berharap ada upaya pemerintah untuk atasi masalah ini," ujarnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Ahmad Joni mengakui, bahwa untuk fluktuasi harga getah, pihaknya tidak bisa lalukan intervensi.

Namun untuk jamur daun memang di wilayah PALI juga terindikasi terpapar penyakit itu. Hanya saja untuk penanggulanganya pihaknya tengah berkoordinasi dengan provinsi.

"Ada 78.000 hektar perkebunan karet di PALI, namun yang terpapar jamur daun sebagian besar pohon karet yang sudah produksi namun tidak terawat dengan baik. Bantuan pupuk telah diberikan dari pemerintah provinsi yang kita kawal penyalurannya ke kelompok tani yang mengajukan. Namun untuk penanganan jamur daun, kita menunggu instruksi dari Pemprov," terang Ahmad Jhoni.

Penulis: Reigan Riangga
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved