Buya Menjawab

Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Berkurban atas nama orangtua, ayah, ibu yang telah meninggal dunia dibolehkan dan sampai pahalanya. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. berwasiat kepada Al

Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal
SRIPOKU.COM/WELLY HADINATA
Ilustrasi - Sapi kurban. 

SRIPOKU.COM - Assalamu’alaikum.Wr.Wb
BUYA, apa boleh berkurban atas nama orangtua, ayah atau ibu yang telah meninggal dunia? Apa sampai pahalanya. Mohon penjelasan, Buya. Terimakasih.
08571867XXXX

Panduan Tata Cara Berkurban pada Idul Adha 2019 dan Hal yang Dianjurkan Bagi Orang yang Berkurban

Begini Tata Cara Berkurban pada Idul Adha 2019 dan Hal yang Dianjurkan Bagi Orang yang Berkurban

Jawab:
Wa’alaikumussalam.Wr.Wb.
Berkurban atas nama orangtua, ayah, ibu yang telah meninggal dunia dibolehkan dan sampai pahalanya. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. berwasiat kepada Ali Ibn Abi Thalib supaya sepeninggal Rasul Saw. potongkan kurban buat beliau.

Sudah lazim pula dikalangan kaum muslimin di Indonesia, memotong hewan qurban atas nama orangtua mereka yang sudah mati. Ini juga bermuara kepada hadits shahih yang diriwayatkan Tirmizi bahwa Khalifah Ali bin Abu Thalib ra. jika berkurban, beliau menyembelih dua ekor domba, satu beliau niatkan untuk Nabi Muhammad Saw. dan yang satunya untuk dirinya sendiri. Ketika ditanya tentang perbuatannya ini, beliau menjawab yang artinya, "Aku telah diperintahkan oleh Rasulullah Saw. untuk melakukannya, maka aku tidak akan pernah meninggalkannya". (HR. Tirmizi)

Dalam sunan Abu Dawud, dalam hal yang sama menceritakan jawaban Khalifah Ali bin Abu Thalib yang artinya: "Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah berwasiat kepadaku untuk menyembelih kurban atas namanya, dan sekarang aku sedang berkurban atas namanya". (HR. Abu Dawud)

Sedekah untuk orangtua atau keluarga yang sudah mati bukan saja dalam bentuk, makanan, materi, tapi juga bisa dalam bentuk ayat-ayat suci Al-Quran, tahlil, tasbih, dan lain-lain sesuai petunjuk Rasulullah saw.

"Dari Abu Dzarr bahwasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala, dimana mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka menyedekahkan kelebihan harta mereka". Rasulullah saw. bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang dapat kalian sedekahkan! Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh orang berbuat baik adalah sedekah, mencegah dari perbuatan munkar adalah sedekah, bahkan di dalam salah seorang di antara kamu sekalian itu bersetubuh dengan istrinya juga termasuk sedekah". Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah seseorang itu melampiaskan nafsunya juga mendatangkan pahala? Beliau menjawab: "Bagaimana pendapatmu seandainya ia melampiaskan nafsunya pada yang haram, bukankah yang demikian itu mendatangkan dosa? Demikian sebaliknya bila ia melampiaskan nafsunya pada yang halal maka ia mendapatkan pahala". (HR.Muslim)

Apabila tasbih (ucapan Subhaanallah), tahmid (ucapan Alhamdulillaah),takbir (ucapan Allaahu akbar), tahlil (ucapan Laailaaha illallaah) adalah dapat di sedekahkan, maka selain makanan dan materi, ayat-ayat suci Al-Quran, (bacaan-bacaan) tersebut pun dapat disedekahkan buat orang yang telah mati.

Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Al-Syaukani berkata; "Kebiasaan di sebagian negara mengenai perkumpulan atau pertemuan di Masjid, rumah, di atas kubur, untuk membaca Al-Quran yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia, tidak diragukan lagi hukumnya boleh (jaiz) jika di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran, meskipun tidak ada penjelasan (secara dzahir-eksplisit) dari syari'at. Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram (muharram fi nafsih), apalagi jika di dalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan ibadah seperti membaca Al-Quran atau lainnya. Dan tidaklah tercela menghadiahkan pahala membaca Al-Quran atau lainnya kepada orang yang telah meninggal dunia. Bahkan ada beberapa jenis bacaan yang didasarkan pada hadits shahih seperti (bacalah surat Yasin kepada orang mati di antara kamu). Tidak ada bedanya apakah pembacaan Surat Yasin tersebut dilakukan bersama-sama di dekat mayit atau di atas kuburannya, dan membaca Al-Quran secara keseluruhan atau sebagian, baik dilakukan di Masjid atau di rumah". (Al-Rasa'il Al-Salafiyah, 46) Rasulullah saw. menyatakan dalam Hadis beliau: "Barang siapa membaca Yaasin karena mengharap ridla Allah swt. niscaya Allah swt. ampuni dosa-dosanya yang telah lalu, maka baca olehmu (surah Yaasin) atas orang yang mati daripada kalian" (HR. Al-Baihaqi melalui Ma'qal ibnu Yasar)

Apa-apa yang dikemukakan di atas, termasuk badal hajipun tidak diragukan lagi akan sampai pahala dan manfa'atnya untuk orang yang telah mati sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullh saw. yang artinya, "Dan dari Ibnu Abbas, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw. bertanya: "Sesungguhnya ayahku telah meninggal dunia, padahal dia berkewajiban haji, bolehkah aku menghajikannya? Nabi Muhammad saw. menjawab: "Bagaimana pendapatmu, seandainya ayahmu meninggal dengan menanggung hutang, bolehkah engkau membayarkan hutang dia?" Dia menjawab; "ya". Nabi Muhammad saw. bersabda: "Oleh karena itu, hajikanlah dia" (HR. Daruquthni). (*)

Keterangan:
Konsultasi agama ini diasuh oleh Buya Drs H Syarifuddin Yakub MHI.
Jika Anda punya pertanyaan silahakan kirim ke Sriwijaya Post, dengan alamat Graha Tribun, jalan Alamasyah Ratu Prawira Negara No 120 Palembang. Faks: 447071, SMS ke 0811710188, email: sriwijayapost@yahoo.com atau facebook: sriwijayapost

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved