Siswa SMA Taruna Palembang Meninggal

Kadisdik Sumsel Bantah Abaikan Pengawasan dan Lalai Mengawasi MOS SMA Taruna Indonesia Palembang

Kadisdik Sumsel Bantah Abaikan Pengawasan dan Lalai Mengawasi MOS SMA Taruna Indonesia Palembang

Kadisdik Sumsel Bantah Abaikan Pengawasan dan Lalai Mengawasi MOS SMA Taruna Indonesia Palembang
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Drs Widodo MSi 

Kadisdik Sumsel Bantah Abaikan Pengawasan dan Lalai Mengawasi MOS SMA Taruna Indonesia Palembang

Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan Drs Widodo MSi menyatakan pihaknya tidak mengabaikan pengawasan, seolah dipersalahkan atas kelalaian kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah) hingga menewaskan siswa SMA Taruna bernama Delwyn Juliandro, Sabtu (13/7/2019) lalu.

"Kalau pengawasan, kita tidak mengabaikan. Bulan lalu kita ketemu dengan para Kepsek swasta di Hotel Herper. Disosialisasikan soal MOS untuk tidak melakukan kekerasan," ungkap Widodo, Selasa (16/7/2019).

Widodo menyambut baik rencana Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Pusat yang berencana bakal datang ke Disdik Sumsel, Rabu (17/7/2019).

"Dari kemarin-kemarin komisioner KPAI Pusat menanyakan permasalahan ini via call ke saya. Saya jelaskan."

"Tadi ngebel lagi, rencana besok mau ke kantor. Monggo, silahkan kita cek lapangan. Tidak masalah, jadi semuanya akan terang."

"Tidak ada persepsi subjektif. Besok pihak KPAI Pusat akan melihat secara orisinil. Bisa ketemu polisi, masyarakat sekitar sekolah, pihak sekolah, yayasan, panitia MOS, teman almarhum. Bisa komprehensif sehingga tidak simpang siur," terang Widodo.

Kalau dibilang soal sosialisasi, Widodo mengaku pihaknya sudah berulang kali setiap tahun terkait agar tidak melakukan unsur kekerasan pada MOS.

"Masalahnya muncul karena sekolahan ini menyiapkan siswanya untuk masuk TNI, Polri sehingga banyak ngarah ke fisik."

"Seperti platformnya semi militer. Namun tidak demikian pembenarannya. Memang masa lalu sekolah ini melibatkan TNI."

"Ada suratnya ke Korem yang kemudian menugaskan personel untuk memberikan pelatihan," kata Widodo.

Namun dalam kronologi tewasnya DB siswa baru SMA Taruna Indonesia Palembang ini, korban yang sudah kelelahan diterjemahkan bermalas-malasan oleh pembinanya.

"Sementara pembina ini yang baru lulus diberi tugas berat. Di sini juga yang tidak tepat guru BK yang sepatutnya ngurusi mental siswa, ini malah melatih fisik seperti olahraga."

"Saya gak tahu rekrutmen tersangka bisa menjadi guru fisik memberikan latihan. Nah ini masalahnya ke guru, alangkah gimana itu kok dikaitkan ke saya," ujar Widodo.

Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved