Berita PALI

Warga Desa di Bantaran Sungai Sebagut Kecamatan Penukal PALI Mulai Kesulitan Mendapatkan Air Bersih

Warga desa di tepian Sungai Sebagut Kecamatan Penukal Kabupaten PALI terancam kesulitan air bersih apalagi memasuki musim kemarau saat ini.

Warga Desa di Bantaran Sungai Sebagut Kecamatan Penukal PALI Mulai Kesulitan Mendapatkan Air Bersih
SRIPOKU.COM/REIGAN RIANGGA
Warga Desa Purun Kecamatan Penukal Kabupaten PALI saat memanfaatkan air dari aliran Sungai Sebagut yang mengering dan air berwarna keruh untuk kebutuhan sehari-hari. 

Laporan wartawan sripoku.com, Reigan

SRIPOKU.COM, PALI - Aliran Sungai Sebagut yang membentang di sepanjang areal Kecamatan Penukal Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) kini mulai mengalami kekeringan, Minggu (14/7/2019).

Dengan kondisi Sungai Sebagut kering ini, warga desa di tepian sungai tersebut terancam kesulitan air bersih apalagi memasuki musim kemarau saat ini.

Hal ini lantaran, Sungai Sebagut yang selama ini menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga sudah tampak kotor dan keruh.

Namun, beberapa warga tetap saja masih memanfaatkan air sungai itu untuk mandi, mencuci dan keperluan sehari-hari lainnya.

Sani (50) Warga Desa Purun Kecamatan Penukal mengaku tidak ada pilihan lain untuk tetap menggunakan air dari Desa Sebagut, karena sumur mereka mulai sedikit airnya.

Selain itu, kata dia, sambungan air PDAM tidak bisa diandalkan karena hanya beberapa hari sekali menyala.

Bupati OKU Timur Sarankan Petani Tanam Palawija untuk Memutuskan Mata Rantai Serangan Hama Wereng

Danau Aur di Kecamatan Sumber Harta Jadi Wisata Alam Andalan Kabupaten Musirawas

Polresta Palembang Gelar Pra Rekonstruksi Kematian Delwyn Berli Siswa SMA Taruna Indonesia

"PDAM itu nyala tidak lama dan hanya dimiliki oleh rumah tangga tertentu. Jadi, kami terpaksa masih memanfaatkan Sungai Sebagut ini untuk kebutuhan sehari-hari," ungkapnya, Minggu.

Menurutnya, Sungai Sebagut sekarang menjadi cepat keringnya, terutama semenjak dilakukanya normalisasi.

Dirinya menduga penyebabnya karena akar kayu-kayu yang sebelumnya berdiri kokoh di bantaran sungai sekarang telah tumbang semua.

"Mungkin karena tidak ada serapan air lagi, jadi cepat kering," katanya.

Senada, Yono (33) berkata, bahwa hendaknya pemerintah melakukan reboisasi atau penghijauan usai normalisasi Sebagut.

Selain sebagai cikal bakal serapan air, hal itu juga penting agar bantaran sungai tidak longsor.

"Mestinya begitu (ada reboisasi). Karena sekarang saja Sebagut terus erosi. Jadi percuma di normalisasi kalau tanah yang berada di pingiran aliran terus longsor. Sebagut akhirnya masih dangkal juga," harapnya.(cr2)

Penulis: Reigan Riangga
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved