Berita PALI

Para Petani Karet di PALI Terpaksa "Banting Tulang" Kerja Ekstra, Usai Nyadap Karet Jadi Buruh Lain

Para petani karet di Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) saat ini harus kerja ekstra banting tulang demi bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Para Petani Karet di PALI Terpaksa
SRIPOKU.COM/REIGAN RIANGGA
Para petani karet di Desa Sebane Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI saat beristirahat usai menyadap karet. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Reigan

SRIPOKU.COM, PALI - Para petani karet di Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) saat ini harus kerja ekstra banting tulang demi bisa memenuhi kebutuhan hidup

Sebab, harga karet sendiri hingga kini tak kunjung stabil bahkan cenderung menurun. 

Harga karet saat ini masih berkisar di angka Rp 7 ribu perkilogramnya. 

Januri (58) salah seorang petani karet warga Desa Sebane Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI mengaku turunnya harga karet sangat berdampak pada perekonomian keluarganya. 

Menurut Januri, dengan harga yang rendah, tentunya masyarakat khususnya petani karet tidak akan mampu jika hanya mengandalkan dari hasil menyadap karet.

Cekcok Masalah Pekerjaan, Sapron Warga Semende Darat Laut Muaraenim Ini Tikam Warga Sedesanya

Sehingga, kata Januri, banyak petani karet yang mencari pekerjaan sampingan. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup agar tetap tercukupi.

"Usai pulang menyadap karet pada siang hari. Banyak para petani ini kadang langsung kerja sebagai buruh seperti ikut bangunan serta berdagang karena demi memenuhi kebutuhan hidup," ungkap Januri, Minggu (30/6/2019).

Pergi ke Kebun Kopi, Rumah Marpawi di Kota Agung Kabupaten Lahat Habis Terbakar

Ia menjelaskan, jika dibandingkan harga per kilogram karet, tentu penghasilan tersebut tidak sebanding dengan harga beras perkilogramnya. 

"Para petani karet harus memutar otak agar kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi dengan tidak hanya mengandalkan dari karet saja,” ujarnya.

Sementara, Wahari (44) petani karet warga Desa Jeramba Besi Kecamatan Talang Ubi mengatakn bahwa dengan harga karet yang tidak stabil ditambah dengan keperluan yang banyak tentu tidaklah cukup. 

Petani di Musirawas Ini Nyambi Jadi Pengedar Narkotika, Polisi Temukan 3,98 Gram Sabu

Namun begitu, ia mengaku harus bekerja ekstra tidak hanya mengandalkan hasil dari menyadap karet saja untuk memenuhi kebutuhan dapur dan biaya masuk sekolah anaknya. 

"Sekarang kebutuhan sangat banyak, untuk biaya anak masuk sekolah makan serta biala lainnya. Dari itu kita harus menambah pekerjaan sampingan lainnya," ungkap Wahari.

Dirinya berharap kondisi seperti demikian segera diatasi pihak terkait dan tidak berangsur lama. 

“Besar harapan para petani karet harga karet bisa naik, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan layak,” katanya.(cr2)

Penulis: Reigan Riangga
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved