Advertorial

ACT Distribusikan 500 Tanki Air Bagi 76.514 Jiwa Yang Alami Kekeringan Gunung Kidul

Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyiapkan program untuk membantu masyarakat Gunung Kidul.

ACT Distribusikan 500 Tanki Air Bagi 76.514 Jiwa Yang Alami Kekeringan Gunung Kidul
BPBD Gunungkidul
ACT Siapkan Jutaan Liter air bersih untuk Tanggulangi Kekeringan di Gunung Kidul 

SRIPOKU.COM,GUNUNGKIDUL-- Sebagai bentuk respon cepat terhadap bencana kekeringan di Gunungkidul, Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyiapkan program untuk membantu masyarakat.

“Kita siapkan program dropping air bersih sebanyak 500 tangki untuk wilayah-wilayah Gunungkidul yang saat ini tengah mengalami kekeringan dan berpotensi krisis air bersih. Dropping akan menggunakan truk tangki berkapasitas 5.000 liter/tangki dan akan berkeliling setiap hari di Gunungkidul untuk mendistribusikan air bersih bagi masyarakat,” ujar Bagus Suryanto, Kepala Cabang ACT DIY.

Video: Inilah Detik-detik Deddy Corbuzier Masuk Islam Ucapkan Kalimat Syahadat

Akhir Tahun 2019, Kabupaten Muaraenim Direncanakan Akan Lakukan Penerimaan CPNS

Warga Gunung Kidul yang antri untuk mendapatkan air bersih
Warga Gunung Kidul yang antri untuk mendapatkan air bersih (BPBD Gunungkidul)

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, setidaknya
10 dari 18 kecamatan di Gunungkidul kini mengalami kekeringan dan berpotensi mengalami krisis air
bersih.

Sepuluh kecamatan yang mengalami kekeringan tersebut yakni Kecamatan Girisubo, Purwosari,
Rongkop, Tepus, Ngawen, Ponjong, Semin, Patuk, Semanu, dan Paliyan dengan rincian sebanyak 50 desa
dan 21.519 kepala keluarga atau warga terdampak mencapai 76.514 jiwa.

Kejadian ini, lanjut dia, bukan pertama kali. Kejadian ini terjadi hampir setiap musim kemarau. Di tahun 2018 saja, terdapat lebih dari 100.000 jiwa yang menjadi korban. Krisis ini terjadi akibat kondisi geografis tanah yang didominasi bebatuan karst berongga yang menyebabkan air hujan sulit untuk tertampung di permukaan tanah.

Upaya pemulihan vegetasi hutan di Gunungkidul pun membutuhkan waktu hingga 30 tahun. Selain itu, sumber air tanah berada pada kedalaman di atas 100 meter sehingga hampir dipastikan ketika musim kemarau tiba, warga masyarakat Gunungkidul akan membutuhkan suplai air bersih dari luar daerah.

Winarno, tim ACT-MRI menjabarkan kondisi terkini 10 kecamatan tersebut. "Mayoritas sumur galian
warga sudah mengering, atau warga mengandalkan PAM Desa yang debitnya kadang tidak mencukupi
keperluan sehari-hari.

"Selain itu, warga yang rumahnya belum tersentuh PAM desa memanfaatkan air
telaga untuk keperluan sehari-hari atau menyiapkan bak penampungan. Warga juga sudah ada yang
membeli air, bahkan ada yang sejak Januari lalu,” terang Winarno.

10 dari 18 kecamatan di Gunungkidul kini mengalami kekeringan dan berpotensi mengalami krisis air
bersih.
10 dari 18 kecamatan di Gunungkidul kini mengalami kekeringan dan berpotensi mengalami krisis air bersih. (BPBD Gunungkidul)

Selain menyiapkan dropping air bersih, tim juga akan memaksimalkan program sumur wakaf yang
dikelola oleh Global Wakaf–ACT di Gunungkidul. Sampai saat ini jumlah Sumur Wakaf yang telah
dibangun di Kabupaten Gunungkidul dan sekitarnya telah mencapai 18 titik dengan kedalaman beragam
dari 50 meter hingga 100 meter.

“Semoga ikhtiar kita dengan melakukan dropping air bersih maupun
pembangunan sumur wakaf dapat membantu puluhan ribu warga Gunungkidul yang kini terdampak
kekeringan,”katanya.

Editor: Dewi Handayani
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved