Perubahan Iklim Rugikan Petani

Semakin banyak terjadi fenomena penyimpangan cuaca seperti badai, angin ribut,hujan deras, serta perubahan musim tanam. ancaman badai tropis, , banjir

Perubahan Iklim Rugikan Petani
SRIPOKU.COM/Reigan Riangga
Marlina seorang petani sayuran di Kelurahan Handayani Mulya Kecamatan Talang Ubi saat memanen Bayam dan Kangkung, Selasa (18/6/2019). 

SRIPOKU.COM, PALI - Semakin banyak terjadi fenomena penyimpangan cuaca seperti badai, angin ribut, hujan deras, serta perubahan musim tanam. Ancaman badai tropis, banjir, longsor, kekeringan, meningkatnya potensi kebakaran hutan/perubahan iklim, mau tidak mau mengakibatkan perubahan pola tanam dan pola produksi pertanian. Bagi petani yang tidak siap menyikapi fenomena alam ini, maka yang terjadi adalah kerugian.

Duku Rentan dengan Perubahan Iklim, Petani Diminta Lakukan Pemupukan

Miris, Karena Perubahan Iklim 60.000 Petani di India Bunuh Diri

Seperti dialami sejumlah petani sayur di wilayah Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir). Mereka mengalami penurunan omset, sehingga banyak menimbulkan kerugian. Salah satu penyebab, diantaranya dampak perubahan cuaca yang tidak menentu membuat sejumlah petani hanya bisa pasrah, lantaran tanaman mereka mulai diserang hama ulat. Misalnya, tanaman sayur Bayam dan Kangkung milik petani di perkebunan sayur warga di Keluarahan Handayani Mulya Kecamatan Talang Ubi. Hama ulat muncul dan merusak tanaman akibat dari perubahan cuaca di Bumi Serapat Serasan yang tidak menentu.

Marlina (37), salah seorang petani Bayam dan Kangkung di Kelurahan Handayani Mulya mengatakan, bahwa hasil panen sayurnya jauh menurun akibat cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, karena tanamnya banyak yang diserang hama dan mulai membusuk. "Hama ulat muncul dan merusak tanaman sayur. Ditambah dengan sayuran yang menguning dan membusuk akibat cuaca yang panas dan langsung mendadak hujan deras," ungkap Marlina, Selasa (18/6).

Menurut dia, omzetnya yang biasa diatas Rp10 juta perbulan, kini hanya sekitar jutaan setiap bulannya. Lahan seluas 1 hekatera miliknya dengan 10 kapling tanah tersebut terkadang tidak bisa ditanam lantaran susah menyemai bibit sayuran.

"Cuaca seperti ini memang tidak bisa dibindari. Jadi, sebulan terakhir ini kami cukup mengalami kerugian," ujarnya.

Sementara, Ramses (23), salah seorang pembeli sayuran tersebut mengaku, bahwa saat ini permintaan di pasaran memang cukup tinggi, namun hasil panen petani yang mengalami penurunan.

Meski begitu, dirinya yang biasa mengambil 5 karung sayuran dan saat ini hanya berani membeli satu karung baik sayur Bayam dan Kangkung.

"Kami hanya sekedar membeli hasil sayur yang ada di petani, dan kembali dijual di pasar dan warung-warung yang ada di wilayah Pendopo," katanya, seraya menambahkan, ia berharap dengan cuaca yang berubah ini bisa kembali normal, karena kalau ambil banyak juga percuma kalau tidak bisa dijual karena banyak sayuran yang busuk. (cr2)

===

Penulis: Reigan Riangga
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved