Sore Ini Kemenag Sumsel Pantau Hilal

Dalam penetapan awal bulan Syawal 1440 H/2019 M sekaligus Hari Raya Idul Fitri, Kementerian Agama akan menggelar pemantauan hilal (rukyatul hilal) yan

Sore Ini Kemenag Sumsel Pantau Hilal
SRIPOKU.COM/Yandi Triansyah
PANTAU HILAL --- Kakanwil Kemenag Sumsel, Al-Fajri Zabidi saat memantau hilal di helipad Hotel Aryaduta Palembang, Minggu (5/5/2019), Jalan POM IX Palembang. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Dalam penetapan awal bulan Syawal 1440 H/2019 M sekaligus Hari Raya Idul Fitri, Kementerian Agama akan menggelar pemantauan hilal (rukyatul hilal) yang akan dilakukan hari ini, Senin (3/6) di lantai tertinggi Hotel Aryaduta Palembang Jln POM IX Kampus, pukul 17.30. Sementara secara nasional, pemantauan dilakukan di 29 titik pantau tersebar di 24 Provinsi di Indonesia.

Kasubbag Humas Kanwil Kemenag Sumsel H Saefuddin Latief, Minggu (2/6) sudah mensosialisasiakan rencana pemantauan hilang di Kota Palembang kepada awak media, khususnya melalui pesan singkat di WhatsApp (WA). Menurutnya, rukyatul hilal yang akan dilakukan bekerjasama dengan dengan Ormas Islam, Akademisi dan pengurus masjid untuk melakukan pemantauan hilal. Selanjutnya, hasilnya akan dilaporkan ke Jakarta.

"Hasil Rukyatul Hilal dan Data Hisab Posisi Hilal awal Syawal akan di musyawarahkan dalam sidang itsbat di Jakarta, kemudian diambil keputusan penentuan awal Syawal 1439H," katanya.

Di Jakarta, sidang itsbat biasanya dihadiri oleh Duta Besar negara-negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, Pakar Falak dari Ormas-ormas Islam, Pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama, dan Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama. Ada pun proses pantauan hilal di Palembang, biasanya petugas yang ditunjuk akan mengikuti proses sumpah dan berkata jujur, terkait hasil pengamatan yang dilakukan.

Untuk titik pantau di Palembang, ungkap Saefuddin, di Palembang hanya satu titik, yakni di Hotel Aryaduta karena lebih memungkinkan untuk dilakukan pemantauan. Sementara di daerah lain, bisa lebih dari satu. Misalnya, di Aceh terdapat tujuh titik pantau, Sumut (2), Bangka Belitung (3), Lampung (2), DKI Jakarta (4) dan di Jawa Barat terdapat delapan titik pantau.

Dijelaskan, rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

Namun, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan "cahaya langit" sekitarnya. Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 7 derajat.

"Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging," kata Saefuddin. (sin/odi)

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved