Fenomena 'Manusia Gerobak' Mulai Rusak Wajah Kota Palembang

Meski 'manusia gerobak' hanya fenomena kecil yang kerap ada di Kota Palembang, yang tak hanya berkeliaran di siang hari, melainkan juga malam bahkan d

Fenomena 'Manusia Gerobak' Mulai Rusak Wajah Kota Palembang
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Ilustrasi, beberapa pemulung menggunakan gerobak tengah beristirahat dan berteduh. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz
SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Tak hanya di bulan Ramadhan, Kota Palembang mulai penuh dengan penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Baik itu gelandangan pengemis atau biasa disebut gepeng maupun 'manusia gerobak' dan juga orang sakit jiwa. Namun apapun jenisnya, PMKS ini perlu perlakuan khusus mengingat masyarakat mulai terganggu dengan fenomena ini.

Mengenai fenomena 'manusia gerobak' yang menjamur saat Ramadan setiap tahunnya, untuk upaya pencegahan seperti penertiban 'manusia gerobak' tidak ditangani langsung oleh Dinas Sosial melainkan dibawahi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Meski 'manusia gerobak' hanya fenomena kecil yang kerap ada di Kota Palembang, yang tak hanya berkeliaran di siang hari, melainkan juga malam bahkan dini hari. Tak jarang mengeksploitasi anak kecil untuk ikut menarik gerobaknya, bahkan tak jarang ada anak yang masih balita tiduran di atas gerobaknya sehingga tak sedikit orang yang melintas jadi iba.

Sedang Stres Karena Banyak Pikiran! Begini Cara Mengatasinya

Pura-pura Hamil di Depan Wijaya Saputra, Tingkah Gisella Anastasia Malah Diadu sama Jessica Iskandar

Pemerhati sosial Drs Bagindo Togar Butar Butar juga mengatakan dari pengamatannya beberapa bulan terakhir, di berbagai sudut atau jalan jalan di Kota Palembang terlihat begitu ramai gelandangan atau pengemis hingga tengah malam hari.

"Entah dari mana saja datangnya, bahkan mirisnya para gelandangan tersebut membawa serta anak istrinya, dalam satu gerobak mengitari kota ini. Mencari kebutuhan hidup dari belas kasihan warga kota yang nasibnya jauh lebih beruntung.

Tetapi, para gelandangan tersebut secara tidak langsung memberi efek tampilan wajah Ibukota Provinsi ini menjadi buram, kumuh, Ironik juga Anti Sosial. Kemana dan dimana kepedulian serta kebijakan Pihak Pemerintah, dan melakukan 'Pembiaran Kondisi Sosial' seperti ini?," ungkap Bagindo Togar Butar Butar, Senin (3/6/2019).

Terlihat Kontras, merebak dan meningkatnya jumlah para gelandangan di Kota ini menurut mantan Ketua IKA Fisip Unsri, perlu dicari penyebabnya. Kemudian solusi berdasarkan strategi penanggulangannya.

Tindakan cepat, tepat dan tanggap mengatasi permasalahan sosial perkotaan seperti ini dituntut untuk dilakukan oleh pemerintah Kota Palembang, karena sangat " mengganggu " keindahan, ketertiban dan kenyamanan interaksi sosial antar warga secara umum.

Inspektur Jenderal Kementerian Perdagangan Sidak Harga di Pasar Tradisional Palembang

Walikota Lubuklinggau Tegaskan Mobil Dinas Hanya Bisa Digunakan Mudik Lebaran di 3 Daerah Berikut

"Segera data administrasi kependudukannya, tertibkan dan jalankan pembinaan melalui balai atau panti sosial yang dimiliki oleh pemerintah. Sebab sesungguhnya, persoalan muncul dan tumbuhnya para gelandangan ini, menjadi permasalahan Sosial yang merupakan akumulasi dan interaksi yang dilatar belakangi oleh faktor kemiskinan, minimnya lapangan kerja, rendahnya pengetahuan juga ketrampilan serta kuatnya mental inferior ditengah masyarakat. Untuk itu pemerintah agar lebih peka, konsisten,serius dan sistemik ketika menjalankan kebijakan penanganan permasalahan sosial, terkait peningkatan jumlah maupun penyebaran para gelandangan ini. Dan juga diiringi oleh berkurangnya penerima bantuan PKH..yang konon Jumlah Pesertanya cukup tinggi di Kota ini. Aneh kan?," kata Bagindo yang juga Direktur Eksekutif Forum Demokrasi Sriwijaya.

Detik-detik Video Dugaan Penggrebekannya Viral, Identitas Teman Wanita Ifan Seventeen Terbongkar!

Intip Dapur Fitri Agustinda Wawako Palembang Saat Lebaran, Pilih Masak Sendiri Inilah Daftar Menunya

Sekretaris Kota Palembang Drs Ratu Dewa MSi yang dimintai komentarnya berjanji pasca lebaran pihaknya akan meminta Dinas Sosial dan Sat Pol PP untuk melakukan pembinaan dan pendekatan.

"Sebetulnya kita sudah ada upaya oleh Dinsos untuk melaksanakan monitoring terhadap para 'manusia gerobak' yang kecenderungan merusak wajah Palembang sebagai Kota Internasional dan juga kita sudah perintahkan kepada Dinsos untuk melakukan pembinaan dan pendekatan persuasif kepada para manusia gerobak," ungkap Ratu Dewa.

Hari Raya Idul Fitri 2019 versi Muhammadiyah, 1 Syawal 1440 H Jatuh pada Rabu 5 Juni 2019

Sekda juga mengatakan pihaknya meminta kepada Satpol PP untuk membackup atas pelaksanaan pembinaan dan monitoring dari aktivitas 'manusia gerobak'.

"Kita adakan pendataan kita coba pendekatan, interogasi akar permasalahan. Ada klasifikasi identitas. Ada yang butuh uluran tangan dermawan, ada yang kamuflase. Setelah lebaran Dinsos dan Satpol PP akan melaksanakannya," terangnya. (Abdul Hafiz)

Penulis: Abdul Hafiz
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved