Kupasan Rubrik Ramadan

Masih Adakah Lailatul Qadar di Zaman Now?

LAILATUL Qadar bagi seorang muslim merupakan suatu malam yang sangat istimewa karena saat itu digambarkan sebagai malam yang memiliki nilai lebih baik

Masih Adakah Lailatul Qadar di Zaman Now?
https://www.google.co.id/
Ilustrasi. 

SRIPOKU.COM- PERTANYAAN saya sederhana, apa betul Lailatul Qodar itu ada di zaman Now saat ini?
Suryadi, Prabumulih (0812-0833-xxx)

Nuzulul Quran 17 Ramadhan dan 3 Keistimewaannya dan Disebut Malam Lailatul Qodar, Rabu 22 Mei

Rahasia Malam Lailatul Qodar

JAWAB
LAILATUL Qadar bagi seorang muslim merupakan suatu malam yang sangat istimewa karena saat itu digambarkan sebagai malam yang memiliki nilai lebih baik dari seribu bulan. Umat islam biasanya ”berburu” malam lailatul qadar di hari-hari terakhir bulan ramadan. Namun keberadaan lailatul qadar sendiri masih diperdebatkan. Ada yang berkeyakinan bahwa sekarang lailatul qadar itu sudah tidak ada, sedangkan yang lain menganggap lailatul qadar selalu turun setiap tahun di bulan ramadhan. Lalu mana yang benar?

Keyakinan bahwa lailatul qadar itu kebaikannya setara dengan seribu bulan adalah informasi dari Allah swt dalam alqur’an yang berbunyi : Artinya "Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.(Qs.Al qadr:2-3). Sebenarnya, keberadaan lailatul qadar sendiri umat semua ulama sepakat ada. Namun ketika sudah sampai pada masalah,” apakah sampai sekarang masih ada lailatul qadar”, ada perbedaan pendapat.

Dibawah ini adalah masing-masing argumen kedua pendapat tersebut.Bagi yang berkeyakinan Lailatul qadar sekarang sudah tidak ada berpendapat lailatul qadar hanya terjadi pada jaman nabi Muhammad setelah itu tidak ada lagi, karena perpedoman pada hadits berikut : Adapun hadits bahwa suatu ketika Nabi pernah keluar untuk memberitahukan kapan Lailatul Qadr, tapi beliau mendapati ada dua orang yang berselisih tentangnya. Lalu beliau bersabda, “Aku keluar untuk mengabarkan kepada kalian tentang Lailatul Qadr akan tetapi si fulan dan si fulan berselisih, sehingga dia pun diangkat oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari dari Ubadah bin Ash-Shamit, Muslim dari hadits Abu Said).

Hadits diatas menjelaskan bahwa lailatul qadar telah diangkat, artinya sudah dicabut dan tidak akan kembali lagi. Sementara lailatul qadar yang dimaksud al qur’an adalah malam di saat pertama kali wahyu al-qur’an diturunkan (nuzulul qur’an). Karena malam di gua hiro’ itulah awal dimulainya perubahan besar terhadap peradaban manusia dan datangnya petunjuk untuk membawa manusia kepada jalan yang benar, sehingga memiliki nilai yang sangat tinggi yakni lebih baik dari seribu bulan. Kejadian ini hanya berlangsung satu kali. Jadi malam kemuliaan itu hanya terjadi satu kali yakni saat pertama kali wahyu al-qur’an diturunkan yang bertepatan pada tanggal 17 ramadhan. Manusia yang tunduk dan patuh pada al qur’an itulah yang mendapat berkahnya lailatul qadar.

Namun bagi yang berpendapatberkeyakinan Lailatul Qadar masih ada, argumen (dalilnya) adalah sebagai berikut :Hadits riwayat Bukhari yang menyatakan lailatul qadar ”diangkat” Allah. Diangkat disini artinya bukan dicabut melainkan diangkat ilmu tentang penentuan kapan lailatul qadar turun. Selain itu ada juga hadist riwayat Ibnu Umar ra.: ahwa sekelompok orang dari sahabat Rasulullah saw. bermimpi melihat lailatulkadar pada hari ke tujuh yang terakhir. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Menurutku bahwa mimpi kalian pasti bertepatan dengan hari ke tujuh terakhir, maka barang siapa yang ingin menantinya, maka hendaklah ia menanti pada hari ke tujuh terakhir (bulan Ramadan). (Shahih Muslim No.1985)

Hadist lain juga menunjukan, dari riwayat Abu Said Al-Khudri ra. "Rasulullah saw. pernah melakukan iktikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadan. Ketika waktu dua puluh malam telah berlalu dan akan menyambut malam yang kedua puluh satu, maka beliau kembali ke rumahnya dan sahabat yang beriktikaf bersama beliau juga kembali ke rumah mereka. Kemudian beliau bangun malam pada malam ia kembali dari iktikaf dan berpidato di hadapan sahabat serta menyuruh mereka untuk melaksanakan kehendak Allah lalu bersabda: Sungguh dahulu aku iktikaf pada sepuluh malam ini (sepuluh malam pertengahan) kemudian nampak olehku (melalui mimpi) untuk iktikaf pada sepuluh malam akhir. Barang siapa yang pernah iktikaf bersamaku, maka hendaklah ia tidur di tempat iktikafnya. Sesungguhnya aku telah melihat (lailatulkadar) pada malam-malam ini, tetapi lalu aku lupa (waktunya), maka cari dan nantikanlah malam itu di sepuluh malam akhir yang ganjil. Aku pernah bermimpi bahwa aku sujud di air dan lumpur. Abu Said Al-Khudri berkata: Pada malam kedua puluh satu, kami diturunkan hujan, sehingga air mengalir dari atap mesjid ke tempat salat Rasulullah saw., lalu aku memperhatikan beliau. Beliau sudah selesai dari salat Subuh dan pada wajah beliau basah dengan lumpur dan air. (Shahih Muslim No.1993). Allahu 'alam.

PW IPIM Sumsel "Kupasan Rubrik Ramadan"
Pembaca, Sripo bersama PW IPIM Sumsel menggelar ruprik tanya jawab seputar Ramadan. Silahkan kirim pertanyaan di WhatsApp (WA) 0812-7827012

===

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved