Mutiara Ramadan

Ganti Hati; Segumpal Darah untuk Menjadikan Seseorang Berjalan Lurus atau Bengkok

Hati memang memegang peranan sangat penting, terutama hati nurani. Hati adalah raja. Hati yang oleh Baginda Rosulullah Saw disebut dengan segumpal dar

Ganti Hati; Segumpal Darah untuk Menjadikan Seseorang Berjalan Lurus atau Bengkok
antok-illam.blogspot.com
Ilustrasi - Hati yang oleh Baginda Rosulullah Saw disebut dengan segumpal darah memiliki peran sentral untuk menjadikan seseorang berjalan lurus atau bengkok. 

Oleh: Izzah Zen Syukri

SRIPOKU.COM - Kubuat judul ini dengan tidak bermaksud menyamai atau menyaingi buku Ganti Hati, judul yang telah disematkan Pak Dahlan Iskan sebagai salah satu buku yang fenomenal pada 2008. Tulisan ini Pak Dahlan ini berkisah tentang dirinya yang “terpaksa” melakukan operasi transplantasi hati akibat sirosis yang dideritanya. Buku itu merupakan kisah nyata mengenai perjuangan berat beliau untuk mendapatkan hati yang baru hingga operasi yang dilakukan di Tiongkok berjalan lancar.

Kemenkumham Minta Jadikan Hukum Berhati Nurani

Yok Pakai Hati Nurani!

Hati memang memegang peranan sangat penting, terutama hati nurani. Hati adalah raja. Hati yang oleh Baginda Rosulullah Saw disebut dengan segumpal darah memiliki peran sentral untuk menjadikan seseorang berjalan lurus atau bengkok. Hanya ada dua hal yang dapat mengisi hati, yaitu nur atau zulmah. Jika hati berisi nur, hidayah, taufik, maka seluruh anggota badan akan menjadi baik. Sebaliknya, jika hati dikuasai zulmah ‘gelap’, otomatis seluruh perbuatan akan condong pada kemunkaran, kebatilan, dan kemaksiatan.

Suatu hari Syekh Abu Yazid Albusthomi, seorang wali yang sangat disegani di masa itu, bertemu dengan seekor anjing. Ia berjalan berjingkat sambil mengangkat gamisnya. Sang anjing pun menegur dengan mengatakan, “Aku memang hewan yang najis. Jika terkena najisku, kau hanya butuh tujuh kali bilasan air yang disertakan tanah. Namun, jika najis itu menjangkiti hatimu karena kau merasa lebih mulia daripadaku, tujuh samudera pun takkan dapat mensucikan hatimu”.

Seakan tertampar Tuan Syekh mendengarkan “fatwa” hewan itu. Ia sadar bahwa walau di mata manusia anjing adalah binatang yang bernajis dan terpandang hina, namun di mata Allah semua makhluk berkedudukan sama, yakni sama-sama berasal dari Allah. Dengan demikian, tidaklah dikatakan elok akhlaknya jika di hati ada perasaan lebih hebat, lebih mulia, bahkan lebih istimewa di mata Allah.

Tiga bulan yang berangkai dan berdekatan, yakni Rajab, Sya’ban, dan Romadhon merupakan bulan pembersih dan pencuci hati. Oleh karena itu, ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban kita dianjurkan berdoa Allahumma baarik lanaa fii rojaba wa sya’baana wa ballighnaa romadhon. Kita dianjurkan untuk banyak bersholawat pada bulan rajab karena itu adalah bulan Rosulullah saw. Sementara di bulan Sya’ban kita dianjurkan banyak melakukan kebaikan dan beristighfar karena bulan ini adalah bulan Allah. Bahkan, orang-orang tua zaman dahulu menghidupkan Rajab dan Sya’ban dengan berpuasa masing-masing sebulan penuh dan memperbanyak sedekah.

Selanjutnya, di bulan Romadhon yang merupakan bulan milik kita, bulan umat Rosulullah saw kita dianjurkan menambah ibadah sunah, terutama ibadah yang tidak ada pada bulan lainnya, yakni Tarawih dan menghidupkan malam Lailatul Qodar. Setelah melewati ketiga bulan ini mestinya tidak ada lagi hati yang kotor, apalagi berkarat, tidak ada lagi hati yang gelap lagi gulita. Justru jasmani dan hati kita bersih lagi suci, merasakan diri kita sebagai hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa dan akan kembali pada-Nya jua.

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved