Banjir Air Mata di SMP Negeri 11 Palembang

Suasana hari kedua kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) di SMP Negeri 11 Palembang di Jalan Makam Km 11, Selasa (21/5) diwarnai banjir air mata dan isak

Banjir Air Mata di SMP Negeri 11 Palembang
SRIPOKU.COM/Husein
BONUS -- Guru SMP Negeri 11 Palembang memberikan bonus kepada siswa yang berhasil menjawab setiap pertanyaan dari materi yang disampaikan ustadz saat memberikan tausiyah. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Suasana hari kedua kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) di SMP Negeri 11 Palembang di Jalan Makam Km 11, Selasa (21/5) diwarnai banjir air mata dan isak tangis siswa kelas VIII saat sesi kedua tausyiah dan muhasabah, yang menhadirkan Ust Kemas H Muhammad Ali S.Kom. Siswa diajak berdoa dan mendoakan untuk keselamatan dan kebahagian kedua, baik bagi orangtua siswa yang sudah meninggal dunia maupun yang masih hidup,

Momen Shaheer Sheikh Peluk Ayu Ting Ting Setelah Minta Maaf Bikin Netizen Histeris & Banjir Air Mata

Ustaz Arifin Ilhan Tulis Pesan Kematian di Facebook, Netizen Banjir Air Mata hingga Doa Mengalir

Puncak isak tangis terjadi, saat Ust H Kemas Muhammad Ali mengajak anak-anak untuk membayangkan wajah kedua orangtua masing-masing, serta perbuatan apa dan sikap yang sudah dilakukan siswa kepada orangtua mereka. "Apakah pagi ini, kita berbuat salah kepada orangtua kita. Coba bayangkan, ibu sudah sejak fajar bangun dari tidurnya, dia memasak dan mempersiapkan makanan untuk sahur kita. Begitu sudah siap, ibu lalu membangunkan kita," kata Ust Ali.

"Lalu, ibu mengetuk pintu kamar dan membangunan anak-anak. Lalu, apa jawaban kita selaku anak, kita marah dibangunkan sambil berkata kasar. Padahal, ibu kita sudah berpayah-payah memasak makan sahur ditengah mata yang masih terasa kantuk yang begitu berat. Tapi, bagaimana sikap kita, kita marah-marah, ayo anak-anak istighfar. Kita sudah membuat sakit hati orangtua kita, ibu kita," teriak sang ust.

sambil mengusapkan istighfar ala Ust Arifin Ilham secara bersama, tangis anak-anak mulai pecah. Terlebih Ust Ali memberikan microphone kepada salah satu anak untuk berdoa. Tentu saja, anak-anak tidak kuat mengucapkan kelimat doa, mereka menangis. Terlebih bagi siswa yatim-piatu yang tak memiliki ayah dan ibu lagi, mulut mereka terus berdoa untuk kedua almarhum ibu bapak mereka.

Suasana isa tangis ini berlangsung 30 menit lebih, setelah itu doa dan muhasabah selesai, siswa diajak berjanji oleh Ust Ali untuk selalu berbuat baik kepada orangtua dan bagi siswa yang yatim atau sebaliknya, juga diingatkan untuk terus berdoa agar orangtuanya terus mendapatkan syafaat dari doa anak-anaknya.

Selain muhasabah, siswa juga diberikan tuntutan tata cara berwudhu yang benar, setelah Ust Ali melihat peragaan siswa berwudhu. "Kalau dilihat dari cara siswa berwudhu, sepertinya kurang sempurnah. Jadi harus diperbaiki," kata Ust Ali, seraya memberikan contoh tata cara wudhu yang sesuai dengan tuntutan Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Guru Agama SMP Negeri 11 Palembang Mahfuz Siddiq SPdi mengatakan, kegiatan Sanlat dilakukan setiap Ramadan, sedangkan untuk kegiatan rutin juga dilakukan pembinaan kepada siswa dengan tujuan agar siswa memiliki akhlaq yang baik. "Kita ingin anak-anak memiliki budi pekert yang baik dan moral pancasila. Makanya dilakukan kegiatan keagamaan," katanya. (sin)

Penulis: Husin
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved