Mutiara Ramadan

Getabasa

Istilah “getabasa” mungkin hanya ada di bumi Sriwijaya. Secara morfologi, “getabasa” terdiri atas kata getah dan basah. Seperti diketahui bahwa Sumate

Getabasa
http://7mutiaraislam.blogspot.com/
Ilustrasi - Orang Kikir. 

Oleh: Izzah Zen Syukri

SRIPOKU.COM - Istilah “getabasa” mungkin hanya ada di bumi Sriwijaya. Secara morfologi, “getabasa” terdiri atas kata getah dan basah. Seperti diketahui bahwa Sumatera Selatan termasuk salah satu daerah yang memiliki kekayaan tanaman karet yang notabene menghasilkan getah. Getah yang masih cair yang menetes dari pohon karet belum mengeluarkan aroma. Setelah dikumpulkan, dicetak, dan direndam, barulah getah yang kenyal dan basah ini menyebarkan bau yang kurang bersahabat. Warga yang rumahnya berada di sekitar pengelolaan getah karet atau pabrik karet hanya mendapatkan aromanya saja, tidak getahnya.

Gubernur Sumsel Apresiasi Sumsel Expo 2018 yang Digelar dengan Strategi Getah Basah

Orang Kikir Itu Rentan Mengalami Stres

Istilah ini kemudian disematkan oleh masyarakat Melayu Palembang untuk orang yang kikir lagi bakhil. Bukan hanya kepada orang-orang di sekitarnya, bahkan untuk dirinya sendiri pun ia penuh perhitungan. Dalam salah satu tausiyahnya, Buya Hamka pernah bercerita tentang seorang saudagar ternama di suatu daerah. Kekayaannya nyaris menyamai Qorun di zaman Nabi Musa AS. Kemana-mana ia berpayah-payah dengan berjalan kaki. Sementara putra putrinya bermobil mewah.

Saat ditanya orang, “Mengapa ia tidak menikmati kekayaan yang telah susah payah dikumpulkannya itu?” Dengan enteng dia menjawab, “Saya anak orang miskin. Sementara anak saya anak orang kaya”.

Allah berfirman di surat Ali Imran, ayat 180 Walaa yahsabannal ladziina yabkholuuna bimaa aataahumullahu min fadhlihihuwa khoiron lahum bal huwa syarrun lahum sayuthowwaquuna maa bakhiluu bihi yaumal qiyaamati ‘Sekali-kali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat”.

Betapa di dalam Alquran Allah secara tegas telah mengingatkan mengenai bahayanya sifat yang satu ini. Lalu, Rosulullah Saw pun bersabda iyyaakum wasy syuhha fa innahu ahlaka man kaana qoblakum, hamalahum ‘alaa an safakuu dimaa ahumj was tahalluu mahaarimahum ‘Takutlah kamu terhadap kikir! Sesungguhnya kikir itu membinasakan orang-orang sebelum kamu, membawa mereka pada pertumpahan darah, dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan bagi mereka’.

Tidak sedikit orang yang merasa berat menyedekahkan hartanya karena menganggap dirinya telah berpayah-payah dalam bekerja. Dirinya telah sungguh-sungguh berusaha. Bahkan, dirinya ingin agar anak keturunannya kelak tak sempat mengetuk pintu kemiskinan karena banyaknya peninggalan harta darinya.

Sifat ini sangat bertentangan dengan Baginda Rosulullah Saw. Beliau hidup dalam kesederhanaan. Sementara jika ada orang yang membutuhkan Beliau enggan menolak. Baginda Rosulullah Saw tidak hanya menganjurkan, tetapi juga mencontohkan bagaimana mendistribusikan harta di dunia agar kekal hingga negeri akhirat. Di luar Romadhon Baginda sangat gemar bersedekah, apalagi sepanjang bulan Romadhon, bulan istimewa, bulan yang dilipatkan gandakan ganjaran amal dan ibadah.

Untuk itu, Beliau Saw kembali mengingatkan dengan sabdanya alhaakumut takaatsur. Yaquulubnu aadama: maalii, maalii. Wa hal laka min maalika illa maa akalta fa afnaita aw labista fa ablaita aw tashoddaqta fa abqoita ‘Wahai umatku, memperbanyak harta itu telah melalaikan kamu. Lalu anak Adam (manusia) menjawab, “hartaku, hartaku”. Tidak ada bagimu dari hartamu itu kecuali harta yang engkau makan, lalu engkau rusakkan, atau yang engkau pakai lalu engkau usangkan, atau harta yang engkau sedekahkan, lalu engkau kekalkan’.

Seorang yang cerdas secara spiritual tentu tidak hanya mengikhtiarkan kehidupan duniawinya. Lebih dari itu, ia akan berusaha keras mengekalkan hartanya hingga ke negeri akhirat. Seseorang yang cerdas hatinya, tentu tak hanya mengeluarkan kekayaannya untuk kebutuhan fisik, seperti untuk makan, minum, dan membeli pakaian secara berlebihan. Lebih dahsyat daripada itu, ia takkan membiarkan dirinya terjerembab di lembah kefakiran saat tiba di negeri akhirat dengan banyak bersedekah.

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved