Belum Banyak yang Tahu Sempat Dihancurkan Belanda Begini Sejarah Terbentuknya Masjid Agung Palembang

Belum Banyak yang Tahu Sempat Dihancurkan Belanda Begini Sejarah Terbentuknya Masjid Agung Palembang

Belum Banyak yang Tahu Sempat Dihancurkan Belanda Begini Sejarah Terbentuknya Masjid Agung Palembang
SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Belum Banyak yang Tahu Sempat Dihancurkan Belanda Begini Sejarah Terbentuknya Masjid Agung Palembang 

Walaupun demikian arsitek Benteng tidak diketahui dengan pasti, tapi diperkirakan dari orang Eropa.

Keterampilan mencetak bata orang-orang Cina di Palembang diwariskan kepada keturunannya yang bermukim di perkampungan tua mereka.

Tepatnya berada di Sungai Ogan alias Sungai Buaya.

Masyarakat Cina pada masa kesultanan tinggal di rumah-rumah rakit di wilayah Seberang Ulu.

Seperti juga komunitas Arab, Eropa dan orang-orang yang dianggap bukan sebagai warga kesultanan Palembang.

 

Nekat Nikahi Bule Inggris, Begini Nasib Nur Khamid Pria Asal Muntilan Sekarang Ditinggal tak Kembali

Dikabarkan Dekat, Status Ivan Gunawan dan Ayu Ting Ting Terungkap, Mendadak Foto Pernikahan Tersebar

Nasihat Ust Nawawi Dentjik Alhafiz: Empat Kreteria Pembaca Alquran

Bentuk Bangunan Lama Masjid Agung

Masjid Agung terletak di kel. 19 Ilir kec. Ilir Barat 1 Palembang. Masjid Agung berada di persimpangan jalan Jend. Sudirman di sebelah timur.

Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan jalan Guru-guru (berjarak kurang lebih 60 m).

Jalan Guru-guru sekarang sudah diganti namanya menjadi jalan Faqih Usman.

Menurut Djohan Hanafiah, dulu jalan ini sampai dinamakan jalan Guru-guru karena di sepanjang jalan ini bermukim guru-guru agama Islam.

Mereka mengajarkan mengaji Al-Quran, Fiqih dan ilmu agama lainnya yang berpusat di Masjid Agung.

Masjid Agung ini dulunya dikelilingi sungai. Bagian Ilir (timur) berbatasan dengan sungai Tengkuruk.

Suasana arus lalulintas yang lancar dan kondusif di kawasan Bundaran Air Mancur depan Masjid Agung Palembang, Rabu (7/8/2013).
Suasana arus lalulintas yang lancar dan kondusif di kawasan Bundaran Air Mancur depan Masjid Agung Palembang, Rabu (7/8/2013). (SRIPOKU.COM/WELLY HADINATA)

Darat (utara) berbatasan dengan sungai Kapuran. Ulu (barat) berbatasan dengan sungai Sekanak.

Dan laut (selatan) berbatasan dengan keraton Tengkuruk yang sekarang menjadi museum SMB II.

Mulanya tidak ada menara di masjid Agung.

Saat masa pemerintahan Sultan Najmudin I putra SMB I menara masjid baru dibangun.

Namun pendirian menara ini bukan tanpa rintangan.

Pembangunan menara masjid bertepatan dengan perang dingin antara Kerajaan Palembang melawan Belanda pada tahun 1821.

Akibatnya atap menara masjid hancur dan baru diganti jadi atap rumbia pada 1825.

Berdasarkan laporan Mayor William Thorn (penguasa Inggris di Palembang) pada 1811 menyebutkan bahwa denah masjid Agung berbentuk persegi panjang berukuran 686x110 kaki.

Pintu masuknya dari tiga jurusan yang ditandai bangunan gapura bagian timur, selatan juga utara.

Menara masjid setinggi 60 kaki/20 m ini berdenah persegi enam.

Menara ini awalnya dibangun agak jauh dari masjid karena kondisi tanahnya berupa rawa.

Diputuskan demikian karena jika tidak begitu maka akan mempengaruhi tekanan pada tanah yang tidak padat.

Jika ada tekanan maka kontur tanah berubah.

 

BREAKING NEWS: Pelaku Pembunuh Wiwik Wulandari Siswi SMP di Lubuklinggau Akhirnya Terungkap

Setahun Lebih Menikah, Syahnaz Adik Raffi Ahmad Makin Romantis Bersama Jeje Govinda Sang Suami

27 Kepala OPD Pemkab Musirawas Ikuti Uji Kesesuaian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama

Petugas kebersihan Masjid Agung Palembang melakukan bersih-bersih masjid guna menyambut Bulan Suci Ramadan, Selasa (15/5/2018).
Petugas kebersihan Masjid Agung Palembang melakukan bersih-bersih masjid guna menyambut Bulan Suci Ramadan, Selasa (15/5/2018). (Sripoku.com/Rangga Efrizal)

Itu dapat menyebabkan tanah tempat berdirinya masjid tidak kuat menahan bangunan masjid itu sendiri.

Ciri khas masjid Agung ini adalah Mustaka yang dimilikinya.

Karena pada umumnya masjid di pulau Sumatera berbentuk kubah.

Masjid bermustaka adalah masjid yang mempunyai atap bagian atas terpisah dari atap di bawahnya. Atap bawahnya ini ditopang oleh pilar-pilar di atas tanah. Jika dilihat seksama maka kepalanya seperti terpisah dari leher tubuh masjid.

Seiring berjalannya waktu, masjid Agung telah banyak direnovasi sehingga beberapa bentuknya tak lagi sama seperti yang dulu.

Masjid ini juga telah mengalami beberapa kali perluasan oleh banyak pihak. 

Termasuk oleh pemerintah Belanda waktu zaman kolonial.

Yayasan Masjid Agung dan Pertamina pun turut andil.

Untuk masalah perluasan dan renovasi ini banyak simpang siur terkait kapan dilakukannya hal tersebut.

Terakhir masjid Agung Palembang diresmikan oleh Presiden saat itu Megawati Soekarno Putri.

Dan masjid ini didaulat menjadi salah satu masjid Nasional.

Ciri khas masjid ini masih dipertahankan.

Seperti atap menara yang bergaya khas Cina dan undak-undak pada atap masjidnya yang melengkung ke atas.

Sumber: Buku berjudul Masjid Agung Palembang; Penulis Bangun P.Lubis, dkk.

Sementara itu, nama Masjid Agung Palembang sendiri di tahun 2019 ini sudah diganti menjadi Masjid Sultan Mahmud Badaruddun I.

Sejarawan Kota Palembang, Kemas Ari Panji, mengatakan, sebaiknya penamaan pada plang mama masjid seharusnya dituliskan dengan nama “Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I”

Hal ini ditujukkan sebagai bentuk peghormatan terhadap SMB I Jayo Wikramo sebagai salah sultan Palembang, dan orang yang telah berjasa dalam pendirian Masjid Agung Palembang.

"Kalau penamaan SMB saja kurang tepat,  sebaiknya diberi nama SMB I, " kata Kemas,  Selasa (29/1/2019) saat dihubungi tim Sripo Selasa (29/1/2019) lalu.

====

Penulis: Shafira Rianiesti Noor
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved