Kupasan Rubrik Ramadan

Pahala Puasa Anak yang Belum Baligh

Karena karena belum akil baligh, apakah pahala atau ganjaran kebaikan itu juga diperuntukan bagi kami sebagai orangtuanya?

Editor: Bejoroy
Istimewa
Ilustrasi. 

SRIPOKU.COM - SEJAK tiga tahun terakhir ini, saya melatih anak-anak untuk menjalankan puasa. Menyadari umurnya masih kecil, awalnya anak-anak hanya puasa setengah hari.

Artinya Jam 11.00-12.00 mereka berbuka. Kini usia mereka sudah mendekati 10 tahun, dan Alhamdulillah dua anak saya sudah full puasa satu hari penuh.

Pertanyaan, karena karena mereka belum akil baligh, apakah pahala atau ganjaran kebaikan itu juga diperuntukan bagi kami sebagai orangtuanya?

(Sofyan, Tanggabuntung) . 0813-73635xxx

Panen Pahala Puasa

Inilah 4 Cara Raih Pahala Puasa Tanpa Berpuasa di Bulan Ramadan, No 2 Mudah Dilakukan!

Jawab
Seseorang hanya akan dibebani tanggung jawab hukum syariat (taklif) apabila telah memenuhi persyaratan. Syarat-syarat tersebut tercakup dalam pengertian mukallaf (orang yang dibebani tanggung jawab hukum syariat), yang menurut Imam al-Awza’i, berarti “manusia yang dewasa, berakal, dan seruan dakwah dapat sampai kepadanya” (al-insan al-baligh al-‘aqil balaghathud da’wah).

Pengertian tersebut mengecualikan orang-orang yang tidak memiliki kualifikasi yang telah disebut, antara lain: (1) tidak berakal, seperti orang gila; (2) belum dewasa, layaknya anak-anak; dan (3) seruan dakwah tidak sampai kepadanya, seperti orang yang terlahir dalam kondisi buta dan tuli sekaligus. Orang-orang dengan keadaan seperti ini tidak wajib untuk diperintah melakukan tanggung jawab syariat, seperti kewajiban untuk mendirikan shalat, mengerjakan puasa, dan sebagainya.

Meskipun demikian, hal yang berbeda berlaku bagi anak-anak.

Dalam hal ini, para orang tua dituntut untuk memperkenalkan syariat agama Islam kepada anak-anaknya sejak usia yang masih dini. Ini karena Nabi Muhammad Saw bersabda, yang artinya, “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun. Pukullah mereka saat usia sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Memperkenalkan memang terkadang berbeda dari memerintahkan untuk melakukan sesuatu. Orang tua, misalnya, diperbolehkan untuk memperkenalkan kewajiban shalat atau puasa kepada anak-anaknya yang masih berusia 3 atau 4 tahun, asalkan tidak membahayakan. Akan tetapi orang tua hanya diwajibkan menyeru hal itu (dengan seruan yang menakut-nakuti) pada saat usia anak sudah mumayyiz, yang ditandai dengan genap berusia 7 tahun atau telah memiliki kemampuan makan, minum, dan cebok sendiri meski belum 7 tahun. Ini artinya, orang tua yang mengetahui anaknya telah mumayyiz, tetapi tidak menyerunya untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban agama, malah justru berdosa.

Hal ini seperti dikemukakan oleh Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asin dalam Busyra al-Karim (Juz 1 H. 53). Dalam hal puasa, seruan tersebut bermakna melatih anak-anak melakukannya secara bertahap (tadrij) sampai mereka benar-benar mampu mengerjakannya.

Apakah ini berarti ibadah, termasuk puasa, yang dilakukan oleh anak-anak itu sah dan mendapatkan pahala? Bukankah, seperti disebutkan sebelumnya, anak-anak belum dikategorikan sebagai mukallaf, yang dibebani tanggung jawab hukum syariat?

Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiyah al-Bajuri (h. 287) mengetengahkan, “Puasa tidak diwajibkan bagi anak-anak. Akan tetapi apabila puasa itu dilakukan oleh anak yang sudah mumayyiz, maka puasa tersebut sah. Dan jika belum (mumayyiz), maka tidak sah.” Menurut Imam Abu Ishaq, puasa yang dilakukan oleh anak-anak, betapapun diniati sebagai puasa wajib, akan jatuh sebagai ibadah sunnah. Konsekuensi logis dari ibadah yang telah sah adalah bahwa ibadah tersebut berimplikasi pahala, betapapun dalam hal ini pahalanya disetarakan dengan ibadah sunnah.

Umar ibn al-Khattab, seperti diriwayatkan Ibn Abd al-Bar dalam Al-Tamhid, pernah berkata, “Kebaikan yang dilakukan oleh anak-anak akan dicatat (mendapat imbalan pahala, red), dan keburukan yang dilakukan oleh mereka tidak akan dicatat.”

Pahala dari ibadah yang dilakukan oleh anak-anak ini –oleh karena mereka pada dasarnya belum baligh dan belum dibebani tanggung jawab syariat– akan dialamatkan kepada orang tuanya. Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad dalam Nashaihud Diniyah (h. 22-23) menjelaskan:

“Pahala perbuatan taat yang dilakukan oleh anak-anak yang belum baligh akan ditulis di buku catatan amal kedua orang tuanya. (Dan bukan hanya itu) apabila orang tua berhasil mendidik anak-anaknya, hingga kelak pada saat dewasa mereka mampu melakukan amal shalih dengan baik, maka selain anak-anak tersebut memperoleh pahala ibadahnya sendiri (tanpa berkurang suatu apapun), orang tua mereka pun insya Allah memperoleh pahala yang sama.”

Wallahu a’lam bis shawab.

Lukman Hakim Husnan, S.Ag
Sekretaris I PW. IPIM Sumsel
Kepala Bagian Litbang STIQ Al-Lathifiyyah Palembang

PW IPIM Sumsel "Kupasan Rubrik Ramadan"
Pembaca, Sripo bersama PW IPIM Sumsel menggelar ruprik tanya jawab seputar Ramadan. Silahkan kirim pertanyaan di WhatsApp (WA) 0812-7827012

====

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved