Breaking News:

Ramadan 2019

Syiar Salat Tarawih

TARAWIH merupakan ibadah yang status hukumnya sunnat, akan tetapi, karena dilaksanakan secara berjamaah di berbagai tempat ibadah, maka, tarawih menja

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/HARIS WIDODO
Ilustrasi - Salat tarawih. 

Oleh: DR. Muhammad Adil, MA
Dosen Program Pascasarjana UIN Raden Fatah

SRIPOKU.COM, TARAWIH merupakan ibadah yang status hukumnya sunnat, akan tetapi, karena dilaksanakan secara berjamaah di berbagai tempat ibadah, maka, tarawih menjadi ibadah yang sangat dinanti kedatangannya.

Sebelum masuk bulan puasa hampir seluruh panitia masjid telah mempersiapkan berbagai kegiatan mulai dari memperindah tempat ibadah seperti mengecat, mengecek ketersediaan air, sampai dengan menyiapkan jadwal pengisi imam tarawih, sekaligus penceramah yang akan mengisi kultumnya. Sebagai bukti bahwa tarawih menjadi amal sunnah yang sangat semarak, bahwa banyak di antara ustadz yang telah memiliki jadwa fulltime sepanjang bulan Ramadhan. Inilah berkah Ramadhan, yang bukan hanya siangnya dinanti untuk melaksanakan ibadah puasa wajib, tapi juga malamnya sangat diharap oleh Muslim di seluruh dunia untuk menghidupkan malamnya dengan qiyamullail (shalat tarawih).

Jadi Ibadah Sunnah, Shalat Tarawih Ternyata Punya Banyak Kebaikan, Jangan sampai Disia-siakan!

Niat Shalat Tarawih yang Benar dalam Bahasa Arab, Latin dan Arti serta Tata Cara Sholat Tarawih

Semarak tarawih kemudian menjadi tradisi yang sangat baik dan efektif untuk kepentingan syi’ar Islam. Ternyata, motivasi dan tradisi ini sudah dimulai pada masa Nabi, para sahabat, dan ulama berikutnya. Diketahui bahwa ketika menyambut datangnya Ramadhan, sahabat Umar pada 635 M pernah menginstruksikan kepada seluruh umat Muslim di bawah kepemimpinan Islam untuk melaksanaan shalat tarawih setelah shalat Isya saat Ramadhan. Instruksi ini diberikan karena Rasulullah SAW mengerjakannya sebagai amalan sunnat. Sifat shalat tarawihpun dipertegas sebagai amalan sunat, seperti tuntunan Rasulullah.

Pada masa Umar bin Khattab, Dia melihat banyak orang-orang Muslim di Masjid Nabawi melaksanakan shalat tambahan setelah shalat Isya saat Ramadhan atau yang dikenal dengan istilah shalat sunat tarawih. Mereka shalat masing-masing dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda. Melihat ini, Umar lalu berkonsultasi dengan para sababat lainnya untuk menentukan mekanisme shalat tarawih. Maka jadilah tarawih yang kita saksikan dan lakukan sekarang, menjadi lebih semarak untuk kepentingan syi’ar Islam.

Pada masa Dinasti Abbasiyah, sekira 800 M, ketika akan datang bulan Ramadhan, mereka biasa mempersiapkan berbagai penerangan seperti mulai memeriksa lampu-lampu masjid yang akan digunakan saat Ramadhan. Pada abad ke-10 M pada masa Dinasti Umayyah saat menjelang bulan Ramadhan, mereka akan menata taman-taman dan merapikan kompleks masjid di Cordova dan Damaskus. Sepanjang Ramadhan, masjid-masjid, bahkan diperindah dengan lampu-lampu Maksurah (anaeka warni). Minyak dan lilin yang digunakan sebagai penerangan juga sengaja dicampur dengan minyak wangi agar masjid menjadi harum semerbak mewangi.
Oleh karena itu, dalam perkembangannya, kemudian menjadi pemandangan yang biasa ketika datang bulan Ramadhan terjadi peningkatan aktifitas pada malam hari bahwa orang-orang secara beramai-ramai, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, laki-laki, dan perempuan mendatangi tempat ibadah seperti masjid, mushalla, dan tempat ibadah lainnya.

Selain orang yang sudah balligh, anak-anak perlu diajak turut serta dalam menghidupkan bulan Ramadhan dalam rangka mempersiapkan kader generasi berikutnya. Ulama yang sangat masyhur seperti Imam al-Ghazali dalam visi pendidikannya menjelaskan bahwa selain anak-anak diajarkan tentang wawasan berbagai ilmu pengetahuan, maka bagi anak-anak yang sudah berusia tujuh tahun mulai ditekankan pendidikan keagamaannya. Mereka harus mulai diajarkan dasar-dasar agama termasuk praktik shalat dan puasa. Mereka bisa diajarkan puasa beberapa hari di bulan Ramadhan sebelum perlahan-lahan bisa melaksanakannya sebulan penuh. Di samping itu, mereka juga sudah mulai diperkenalkan dan diajarkan tentang materi hukum Islam seperti tidak mencuri, tidak makan makanan haram, berbohong, berkhianat, dan nilai-nilai luhur lainnya. Mungkin saja pada usia mereka yang sangat belia ini belum akan paham betul. Namun, lambat laun seiring dengan bertambahnya usia, sedikit-demi sedikit mereka akan dapat memahami nilai-nilai yang diajarkan.

Ramadhan menjadi bulan penting bagi umat Islam, terutama secara spiritual sebagai sarana menuju peningkatan keimanan dan ketakwaan. Selain upaya individu untuk menjalankan Ramadhan dengan maksimal, komunitas, bahkan otoritas pemerintahan, bisa juga berperan menciptakan suasana Ramadhan yang kondusif agar perbaikan komunal bisa diwujudkan.

Dua hal penting yang diperhatikan Rasulullah SAW menjelang Ramadhan. Pertama adalah tidak berpuasa di hari-hari meragukan di akhir Sya'ban. Kedua, untuk memastikan awal Ramadhan, Rasulullah SAW mengajak umat Islam untuk melihat bulan baru (hilal) di akhir Sya'ban. Jika memang tidak terlihat, maka jumlah hari di bulan Sya'ban digenapkan menjadi 30 hari.

Pada bulan ini, Rasulullah SAW akan mengajak para sahabat dan kaum Muslim lainnya untuk lebih bederma saat Ramadhan. Dalam penjabarannya mengenai sedekah di Ramadan and Charity: Healing for the Land, Zaid Shakir mengungkapkan konteks pemerataan kesejahteraan menjadi pesan mendalam dari anjuran itu. Komunitas Muslim di dorong untuk memberi sehingga terjadi pemerataan kebutuhan di kalangan Muslim yang dhuafa, baik makanan, pakaian, maupun tempat tinggal. Itulah bentuk kepedulian kita dengan orang-orang yang mustadhafin. Mereka disantuni, dengan begitu, maka jarak antara si kaya dengan si miskin tidak terlalu jauh. Inilah pesan-pesan agama yang mesti kita pahami dan praktikan demi tercapainya kesejahteraan ummat Muslim. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved