Kematian Mendadak Petugas KPPS

Kematian Mendadak Petugas KPPS Bukan Karena Kelelahan

Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 583 orang petugas KPPS pada Pemilu 2019 dinyatakan telah meninggal dunia.

Kematian Mendadak Petugas KPPS Bukan Karena Kelelahan
kompas.com
Diskusi Publik bertajuk Membedah Persoalan Kematian Mendadak Petugas Pemilu dari Perspektif Keilmuan? di Sekretariat IDI, Jakarta, Senin (13/5/2019) 

Kematian Mendadak Petugas KPPS Bukan Karena Kelelahan
SRIPOKU.COM -- Semenjak 17 April lalu hingga sekarang, tercatat sedikitnya 583 orang petugas KPPS pada Pemilu 2019 dinyatakan telah meninggal dunia, sebiah jumlah yang luar biasa.

Sedangkan sekitar 4.602 orang lainnya masih menderitasakit.
Jumlah yang demikian, mengundang pertanyaan publik, apa sebenarnya yang menjadi penyebab angka kematian petugas KPPS begitu tinggi, yang terjadi dalam waktu singkat, dan memiliki penyebaran yang luas ini?

Sebelumnya ditenggarai, beban kerja yang terlampau berat dan kelelahan menjadi penyebab utamanya.

Namun, tidak demikian menurut para pakar dari Ikatan Dokter Indonesia ( IDI).

Menurut IDI, kelelahan bukanlah penyebab utama, melainkan hanya pemicu munculnya gejala penyakit lain yang menyebabkan kematian mendadak, seperti gagal jantung dan stroke.

“Mengacu pada definisi dari World Health Organization (WHO), kematian mendadak adalah kematian dalam jangka waktu kurang dari 24 jam dari kemunculan gejala, tanpa adanya sebab yang jelas," jelas Prof. DR. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM.

"Kemungkinan tertinggi penyebabnya gagal jantung atau stroke, yang bisa dipicu kelelahan, dehidrasi, atau stress," ujarnya lagi pada diskusi publik bertajuk "Membedah Persoalan Kematian Mendadak Petugas Pemilu dari Perspektif Keilmuan" di Jakarta, Senin (13/5/2019).

Menurut data yang saat ini telah berhasil dihimpun oleh Kementrian Kesehatan, terdapat 13 penyakit yang menyebabkan tingkat kematian petugas KPPS pada 2019 ini.

Ke-13 penyakit itu adalah gagal jantung, stroke, infark miokard (serangan jantung akibat penyempitan pembuluh koroner), koma hepatikum, respiratory failure (gangguan saluran pernapasan), hypertensi emergency, meningitis, sepsis, asma, diabetes melitus, gagal ginjal, MERS, dan kegagalan multiorgan.

Tiga yang tertinggi adalah gagal jantung, stroke, dan infark miokard.

Halaman
123
Penulis: Salman Rasyidin
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved