Pilpres dan Perangkap Konspirasi Global

Pilpres dan Perangkap Konspirasi Global, Setelah babak pencoblosan pemilu 17 April lalu.

Pilpres dan Perangkap Konspirasi Global
Dok. Pribadi
Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo. 

Trilogi Perusak ini menjadi segitiga sama sisi yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya dibingkai dalam garis kebohongan, kepalsuan, penipuan. Ketiganya akan mengembangkan tipuan bahwa mereka adalah juru selamat dunia, tetapi niscayanya adalah kebalikannya. Merekalah juru rusak dunia.

Trilogi Perusak ini telah menggejala di setiap tingkatan kehidupan bermasyarakat, baik global, regional, nasional maupun lokal. Dalam melakukan operasinya mereka sangat cepat layaknya bongkahan batu yang digelundungkan dari puncak bukit yang curam.

Mereka mengusung fitnah yang tiada tara. Hanya manusia yang berlindung kepada Allah saja yang selamat. Sampai-sampai setiap membaca tasahut akhir, umat Islam disuruh membaca. Allhumma inni audzubika min..... fitnatil masihid-dajjal.

"Trilogi Perusak" ini, menurut Ali Shariati, disimbolkan dengan jamarat atau tiga jumrah (tugu) di Mina. Yaitu jumrah Ula, Wustha dan Aqobah. Setiap jamaah haji wajib menembaknya dengan kerikil tauhid seraya memuji kebesaran Allah. Menembaknya pun tidak boleh cukup sekali tapi harus diulang sampai tiga kali. Karena mereka tiga yang satu atau satu yang tiga.

Melihat betapa dahsyatnya kekuatan yang mengancam desintegrasi Indonesia, maka tidak ada sikap yang lebih baik selain kembali kepada Allah. Jangan hanya karena sebuah jabatan bernama presiden sampai harus mengorbankan bangsa ini. Mengorbankan nilai kejujuran, keadilan dan kemaslahatan. Melupakan nilai keberkahan suatu jabatan. Padahal hanya jabatan yang diraih secara halal akan memberi keberkahan. Jabatan presiden itu nilainya tidak lebih baik daripada sholat qubla subuh yang cuma 2 rakaat.

Karena kecurangan merupakan pintu besar terbenamnya Indonesia di perangkap konspirasi global Trilogi Perusak, maka seharusnya semua pihak mencegah jangan sampai ada kecurangan maupun tuduhan kecurangan.

Artinya jika memang melakukan kecurangan, hentikan sekarang juga dan kembalikan hak-hak yang dicurangi. Tapi jika tidak terjadi kecurangan maka hentikan sekarang juga melontarkan tuduhan adanya kecurangan. Kaidah ushul fiqihnya: dar'ul mafasid muqaddam ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan harus didulukan daripada berbuat kebaikan). Menjadi presiden memang menjadi instrumen untuk membuat kebaikan, kemaslahatan bagi bangsa. Tetapi saat ini mencegah kerusakan bangsa itu harus didulukan. Gusti Allah nyuwun ngapura.

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Walaa tufsiduu fii l-ardhi ba'da ishlaahihaa wad'uuhu khawfan wathama'an inna rahmata laahi qariibun mina lmuhsiniin

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.(QS Al A'raf ayat 56).

Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo.

Editor: adi kurniawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved