Mutiara Ramadan

Puasa dan Budaya Hidup Mewah

BEBERAPA kasus korupsi yang melibatkan oknum pejabat publik mulai dari legislatif, yudikatif, dan ekskutif yang berhasil diungkap oleh KPK, ternyata,

Editor: Bejoroy
https://www.google.co.id/
Ilustrasi - Mutiara Ramadan. 

Oleh: DR. Muhammad Adil, MA
Dosen Program Pascasarjana UIN Raden Fatah

SRIPOKU.COM - BEBERAPA kasus korupsi yang melibatkan oknum pejabat publik mulai dari legislatif, yudikatif, dan ekskutif yang berhasil diungkap oleh KPK, ternyata, dapat diduga alasan utama pelakunya adalah karena ingin hidup mewah. Sehingga menjadi tidak heran kalau muncul anggapan ketika menjabat "harus" menjadi kaya raya, bukan sebaliknya.

Mutiara Ramadan: Latihan Puasa Sejak Usia Kanak-kanak

Bergaya Hidup Mewah, 6 Artis Ini Kabarnya Terlilit Utang, No 5. Miliaran Rupiah Sampai Meninggal

Dengan demikian, apabila seseorang mendapatkan kesempatan menduduki jabatan tertentu pada suatu instansi, maka akan dimanfaatkan untuk melakukan segala macam cara, seperti mark up anggaran, kasak-kusuk politik supaya anggaran yang sudah dibuat dapat disetujui, dan kong kali kong antar instansi terkaitpun sering terjadi.

Jika tidak ketahuan akan dibagi-bagi untuk dinikmati hasilnya, namun, kalau lagi apes, tertangkap tangan oleh tim KPK, tentu mereka akan dijebloskan ke tahanan dan menjadi pesakitan. Seolah-olah mereka memang sudah siap dengan segala resiko yang akan dihadapi. Naifnya lagi, perbuatan yang dilakukan seakan tanpa penyesalan dan rasa malu. Prilaku Hidup mewah sudah menjadi tujuan akhir, bahkan mungkin sudah menjadi "tuhan baru".

Di saat orang berlomba-lomba untuk meraih derajat tertinggi yaitu taqwa (muttaqin) selama bulan suci Ramadan, orang-orang dengan suka-rela menghabiskan waktunya sepanjang siang dan malam berada di masjid untuk melakukan berbagai ritual ibadah seperti salat, tadarus Alquran, dan lain-lain. Pada bagian lain, kaum hedonis tidak perduli dengan semua itu, mereka malah asik-masyuk dengan hayalannya. Para hedonis ini akan dengan gelapmata melakukan apa saja, termasuk melakukan korupsi. Seolah melakukan korupsi tidak membatalkan puasa, karena memang dalam kitab-kitab fikih klasik tidak secara detil menyebutkan korupsi sebagai salah satu pembatal puasa. Walhasil, bagi kelompok ini "peduli amat dengan puasa".

Padahal, secara yuridis, persoalan ringan saja seperti membatalkan puasa dengan sengaja, misalnya makan pada siang hari tanpa alasan syar'i hukumannya lumayan berat, yang bersangkutan dapat dikenakan qadha sekaligus kaffarat (puasa dua bulan berturut-turut, memebaskan budak, dan memberi makan 60 fakir miskin), seperti pendapat Hanafiah melalui tokohnya Alauddin al-Kasani dalam Bada'i ash-Shana'i fi Tartib asy-Syara'i dan Malikiyah melalui pendirinya yaitu Malik bin Anas dalam al-Mudawwah al-Kubra, karena dampaknya pada masyarakat sangat besar seperti tidak puasa menjadi hal biasa. Maka mereka memberikan warning keras dengan memberikan ijtihad hukum yang juga sangat tegas. Bagi imam mazhab, menghormati bulan puasa adalah sangat penting untuk diketahui oleh semua orang.

Inilah kemudian yang menjadi alasan warung-warung makan harus tutup pada siang hari, hiburan malam harus menghentikan aktivitasnya pada malam hari, orang-orang non muslim diminta menghormati orang-orang yang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Jawabannya adalah karena kemuliaan bulan Ramadhan. Sejatinya juga harus dipahami oleh para koruptor. Seakan-akan prilaku hidup mewah dengan menumpuk kekayaan menjadi kebanggaan, karena akan meningkatkan status sosialnya di masyarakat, mereka sepertinya lupa kalau harta itu titipan Tuhan.

Bandingkan dengan tradisi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Beberapa diantara mereka adalah orang-orang yang kaya raya, kekayaan mereka dapat diketahui dari zakat mal (harta) yang mereka keluarkan setiap tahunnya. Sebut saja misalnya Abdurrahman bin Auf zakatnya saja sampai 800-an ekor unta, Usman bin Affan 500-an ekor unta, dll.

Tapi perhatikan kehidupan mereka sehari-hari. Banyak riwayat yang menjelaskan bagaimana Nabi dan para sahabat berbuka puasa hanya dengan beberapa biji kurma dan secangkir air putih. Sudah menjadi kebiasaan Nabi SAW kalau butuh rasa manis hanya dengan memasukkan sebiji kurma ke dalam cangkir air putih, dengan begitu akan mendapatkan rasa manis. Padahal jika saja mereka mau, mereka dapat melakukan yang jauh lebih baik daripada itu, karena memang mereka punya.

Tapi mereka juga tahu kalau harta yang ada pada mereka adalah titipan Tuhan yang perlu mereka jaga, bukan untuk dibangga-banggakan, dan bisa saja harta itu lenyap kapan saja Tuhan mau. Banyak contoh yang dapat dijadikan pelajaran seperti cerita Karun dan Sa'labah, mereka tidak mau menjadi Karun dan Sa'labah berikutnya. Tentu kita juga tidak mau.

Oleh kerena itu, mumpung sekarang bulan puasa, jadikan momen langka ini sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berusaha menjadi hamba-Nya yang muttaqin. Mari kita jadikan puasa sebagai perisai diri supaya tidak terjebak dalam budaya hidup mewah kaum hedonis. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved