Pemilu 2019

Ekonomi Belum Sejahtera, Jadi Penyebab Warga Mudah Terima Politik Uang

"Masyarakat kita ini belum sejahtera. Jadi ditengah kesulitan ekonomi seperti ini orang dengan mudah menerima pemberian uang caleg,"

Ekonomi Belum Sejahtera, Jadi Penyebab Warga Mudah Terima Politik Uang
TribunKaltim.com
Ilustrasi Politik Uang di Pemilu 

Laporan Wartawan Sripoku.com, Odi Aria

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Fenomena masyarakat yang dengan mudah menerima politik uang setiap jelang Pemilihan Umum (Pemilu), dinilai Pengamat Sosial, Prof Abdullah Idi lantaran penduduk di Provinsi Sumsel terbilang masih belum sejahtera dari sisi ekonomi, Kamis (18/4/2019).

Ditengah kebutuhan ekonomi yang mendesak, serta tak begitu kenal dengan sosok Calon Anggota Legislatif (Caleg) membuat masyarakat dengan mudah menerima serangan fajar.

"Masyarakat kita ini belum sejahtera. Jadi ditengah kesulitan ekonomi seperti ini orang dengan mudah menerima pemberian uang caleg," ujarnya.

Adapun faktor kedua, adalah pola masyarakat yang mudah berterima kasih. Sehingga ketika ada oknum caleg memberikan uang atau bingkisan, membuat masyarakat memiliki beban untuk memilih si caleg tersebut.

Meski demikian, Abdullah Idi mengaku dari sisi pengawasan dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga terbilang masih lemah. Sehingga praktik politik uang tersebut seakan menjadi fenomena lumrah ketika pesta demokrasi tiba.

"Si caleg pemberi pasti tahu, kalau diberi uang warga pasti milih. Orang kita pandai berterima kasih," jelasnya.

Ponsel Wanita Ini Dicuri Facebooknya Pun Dibajak ,Pelaku Posting Foto Pribadi Nurul dan Suami

Ibu dan Anak di Palembang Ditemukan Tewas, Sempat Terlihat Mondar-mandir Begini Kesaksian Tetangga!

Meski praktik politik uang seakan menjadi hal biasa, namun Abdullah Idi mengajak masyarakat seharusnya jangan memilih calon pemimpin yang memberikan politik uang. Karena hal itu tentunya akan bertentangan pada moralitas, etika dan norma dalam mencari seorang pemimpin.

Ia menambahkan, untuk para caleg juga seharusnya menyudahi praktik kotor tersebut demi terpilih menjadi legislatif. Apabila si caleg memang menginginkan duduk di parlemen, yang bersangkutan harus memiliki kualitas dan integritas tinggi.

Jika tak memiliki kualitas dan ngotot langsung ingin jadi, menyebabkan si caleg mengambil jalan pintas dengan politik uang. Dimana hal ini tentu akan berdampak di kemudian hari si caleg akn berusaha mengambalikan mahar politik dengan cara korupsi.

Pasca Pemilihan Umum 2019 Harus Tetap Ketat

TPS Unik di Gandus Palembang Ini Dijaga Anak SD, Luar Biasa Hasilnya tidak ada Warga yang Golput

"Sebaiknya caleg jangan memaksakan diri jika tak asa integritas. Kalau mau nyalon harusnya 5 tahun sebelumnya berinvestasi sosial di masyarakat untuk menghindari politik uang," tegasnya. (Oca)

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved