News Video Sripo

Video Dua Menteri Canangkan Pembangunan Tol Muaraenim-Lahat-Lubuk Linggau

Menurut Gubermur Sumsel Herman Deru, hari ini menjadi kenyataan karena tidak pernah terbayangkan jalan tol akan melintas di Kabupaten Muaraenim.

Laporan wartawan Sripoku.com, Ardani Zuhri

SRIPOKU.COM, MUARAENIM -- Dua menteri yakni Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri PUPR Basuki Hadi Muljono, menghadiri Penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) Muaraenim-Lahat-Lubuk Linggau di Desa Kepur, Kecamatan Muaraenim, Kabupaten Muaraenim, Selasa (9/4/2019).

Kegiatan ini dihadiri juga oleh Gubernur Sumsel H Herman Deru, Kepala BPJT Danang Parikesit, Dirut PT Hutama Karya Bintang Perbowo, anggota DPR RI Wahyu Sanjaya, Bupati Muaraenim Ahmad Yani, Wabup Muaraenim Juarsah, Ketua DPRD Muaraenim Aries, Wakil Ketua DPRD PALI Devi Harianto, pejabat muspida dan muspika di Sumsel, dan ribuan warga Muaraenim.

Menurut Gubermur Sumsel Herman Deru, hari ini menjadi kenyataan karena tidak pernah terbayangkan jalan tol akan melintas di Kabupaten Muaraenim.

Jika menggunakan APBD Muaraenim, menurut Herman Deru, lima tahun masih juga tidak tuntas.

"Proyek tol akan kita mulai, namun cepat atau lambatnya tergantung masyarakat itu sendiri."

"Di rest area, juga diberikan space untuk makanan tradisional tidak lagi akan didominasi makanan luar negeri saja," ujar Menteri PUPR Basuki Hadi Muljono.

"Tim pembebasan di Lampung cukup cepat dan bisa menjadi percontohan, dan mudah-mudahan di Muaraenim bisa lebih cepat lagi."

"Biasanya kendala dilapangan pasti ada kendala dan pernak perniknya, namun harus diingat proyek tol ini adalah program strategis nasional."

Jika pembebasan lahan lancar, maka kontruksi akan lebih cepat dari yang ditargetkan.

Dikatakan Basuki, tol tidak ada gunanya hanya lewat saja, tetapi harus bisa memberikan manfaat untuk ke pengembangan kawasan industri dan kawasan pariwisata.

Dan nanti di rest area akan banyak yang dijual produk-produk lokal dan diberikan space tersendiri untuk produk-produk lokal seperti tempoyak, rusip, dan sebagainya.

"Kalau dahulu 70 : 30 untuk produk asing, tetapi akan kita balik 70 : 30 untuk produk lokal," ujarnya.

===

Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Ahmad Sadam Husen
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved