Berita Palembang

Peraturan Daerah Mengenai Sampah di Kota Palembang Belum Efektif

Pengamat sebut Perda Sampah Kota Palembang belum mampu efektif menekan aksi pembuangan sampah sembarangan di kota Palembang.

SRIPOKU.COM/WAHYU KURNIAWAN
Tumpukan sampah yang berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan, Senin (3/3). 

Laporan wartawan sripoku.com, Wahyu Kurniawan

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 3 tahun 2015 tentang pengelolaan sampah yang memuat sanksi bagi pembuang sampah sembarangan disebut pengamat belum efektif.

"Kalau sampai saat ini rasanya belum efektif ditingkat pelaksanaan, karena ya indikatornya kalau perda itu efektif seharusnya sampahnya berkurang, memang perlu dikaji lagi di mana letak efektif tidaknya," Jelas pengamat komunikasi lingkungan dari UIN Raden Fatah Palembang Dr. Yenrizal Tarmidzi, Senin (3/3).

Menurutnya agar perda sampah berjalan efektif, pemkot Palembang bisa memulainya dengan pengkhususan pada tempat yang pelakunya mudah terdeteksi, seperti fasilitas umum dan tempat wisata. 

Artinya di lokasi-lokasi tersebut pengawasannya diperketat sehingga warga langsung bisa ditindak jika membuang sampah sembarangan, tidak seperti saat ini di mana perda berlaku umum untuk semua tempat dengan kurangnya pengawasan. 

“Tidak efektifnya perda tersebut adalah bentuk gambaran sulitnya mengatasi masalah kepedulian sampah di Kota Palembang kendati berbagai program dan aturan sudah dikeluarkan pemerintah,” ujarnya.

Apalagi dalam pengamatannya jumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Kota Palembang belum mencukupi dengan kebutuhan masyarakat dan sulit diakses terutama wilayah padat penduduk, kondisi ini semakin memicu masyarakat cenderung menumpukkan sampah di pinggir jalan atau membuangnya ke anak sungai, keduanya jelas mengakibatkan lingkungan semakin kotor. 

Temukan 5 Paket Sabu-Sabu, Satuan Narkoba Polres Banyuasin Sita Harta Benda Pemilik Rumah

Keluarga Mampu Malu Rumahnya Ditempeli Merek Warga Miskin Penerima PKH

Dodi: Zaman Boleh Millenial, Tapi Jangan Ditinggal Belajar Baca Tulis Al-Quran

Dia menjelaskan ada dua pendekatan dalam menyelesaikan persoalan sampah, pertama pendekatan struktural yakni Pemerintah menjalankan program, menyiapkan sarana, mengeluarkan aturan. Sedangkan yang kedua pendekatan kultural yakni memaksimalkan peran berbagai pihak agar sadar dan membuang sampah pada tempatnya.

"Persoalanya sekarang, pendekatan struktural belum terlalu siap dan pendekatan kulturalnya juga belum bagus. Menyikapi hal ini pemerintah perlu mendorong terciptanya inovasi-inovasi tersendiri yang orientasinya membuat sampah menjadi lebih produktif dan memiliki nilai jual," ujar Dr.  Yenrizal.

Meski harus diakui juga, topografi Kota Palembang sebagai wilayah rawa secara tidak langsung melatarbelakangi sulitnya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk peduli membuang sampah.

"Palembang ini banyak anak sungai, jadi kebiasannya dari dulu memang buang sampah ke sungai. Dulu sampah yang dibuang ke sungai itu mudah hancur dan tidak terlalu mencemari, tapi sekarang sampahnya berat semua, ada plastik, pampers, sampai karet ban, yang ini jelas mencemari," jelasnya.

Menurutnya Pemkot Palembang bisa saja menerapkan inovasi yang sudah ada di kota-kota lain, salah satunya pembayaran transportasi umum menggunakan botol plastik sebagai salah satu upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah, sembari memaksimalkan sarana dan prasarana pendukung.

"Masyarakat itu harus di paksa dengan aturan dan dirayu dengan inovasi, agar terbangun kesadaran menjaga lingkungan," ujarnya. (mg4) 

===

Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved