News Video Sripo

Pengantin Wanita Harus Tes Perawan, Syarat Menikah di Desa Tanjung Menang Banyuasin

Namun yang berbeda di desa ini, dimana calon pengantin perempuan (wanita) diisyaratkan harus perawan (gadis), dan itu dibuktikan dengan hasil visum bi

Mengungkap Syarat Nikah di Desa Tanjung Menang Wanita Harus Tes Perawan, Sambil Tunjukkan Ini Jadi Bukti

SRIPOKU.COM , BANYUASIN - Proses akad nikah di Desa Tanjung Menang, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin sekilas tidak ada perbedaan dengan prosesi pada umumnya.

Namun yang berbeda di desa ini, dimana calon pengantin perempuan (wanita) diisyaratkan harus perawan (gadis), dan itu dibuktikan dengan hasil visum bidan setempat.

Tim sripo yang mendapat kabar adanya prosesi akad nikah di desa tersebut, Minggu (20/1) pukul 06.00 langsung bergerak dari Palembang ke lokasi menggunakan jalur transportasi darat.

Perjalanan dari Palembang satu jam lebih menuju Desa Sembawa.

Lalu dari Desa Sembawa Banyuasin, tim Sripoku.com langsung ke Desa Tanjung Menang dari jalan aspal ke lokasi sejauh 20 Km lebih atau ditempuh selama 1,5 jam lebih.

Melintasi kawasan perkebunan dan laboratorium Sembawa dan perkebunan karet dan sawit milik warga, dengan kondisi jalan bertanah.

Selain jalur darat, desa yang umumnya dihuni warga asli berasal dari rumpun Suku Beti (Ogan Ilir) ini, bisa dilalui jalur Sungai.

Setibanya di lokasi, ternyata harus melintas di jalan cor beton dan jembatan sempit sejauh 1,5 Km.

Akses jalan ini hanya bisa dilintasi satu kendaraan, itu harus extra berhati-hati karena sisi kanan jalan, Sungai Musi/Ogan.

Bahayanya, jika di tengah perjalanan bertemu dengan kendaraan (masuk-keluar), maka siapa yang akan mengalah untuk mundur.

Jangan untuk jalan mundur, jalan maju saja harus hati-hati.

Selain itu, jarang ada tempat untuk memutarkan kendaraan.

Kondisi ini dialami Tim Sripo saat akan meninggalkan lokasi, tidak bisa keluar karena harus menunggu ada mobil yang masuk.

Kendati begitu, Tim bersyukur, karena sempat bahkan ikut menyaksikan prosesi penikahan dari awal hingga akhir yang dipusatkan di masjid setempat.

Sang wanita asli warga Desa Tanjung Menang, sedangkan calon pengantin pria berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).

Proses akad nikah langsung dibantu P3N, kini diubah menjadi Pembantu Pegawai Pencatatan Perkawinan (P4) bernama Ust Mardianto mewakili KUA Rantau Bayur.

Sesuai tahapan, lalu Ust Mardianto menerangkan status masing-masing kedua calon pengantin.

Saat menerangkan status kedua pasangan, Ust Mardianto mengatakan,

"Calon pengantin wanita berstatus perawan, dan ini dibuktikan surat keterangan berupa visum dari Bidan," kata Mardianto, yang sempat menunjukan surat hasil visum tersebut.

Tentu saja, penjelasan petugas P4 ini menarik perhatian warga dari luar Desa Tanjung Menang. dan uniknya, warga desa setempat tidak mempersoalkan soal pemeriksaan keperawanan itu, bahkan memberikan dukungan.

Ust Mardianto yang dibincangi Sripo mengaku, dirinya menjadi P3N sejak tahun 2013.

Lalu diberhentikan setelah ada kebijakan dari Menteri Agama (Menag RI), terkait penghapusan P3N.

Namun, kini Manteri Agama kembali mengaktifkan P3N dengan diganti nama menjadi P4.

Selama menjadi P3N tersebut, ia mengaku satu kali kecolongan karena pengantin wanita yang dinikahkan tersebut, ternyata tidak perawan lagi alias hamil, sehingga menjadi aib bagi desa.

"Syarat pemeriksaan keperawanan oleh petugas kesehatan, harus ada. Tujuannya, kita ingin menjaga hukum Allah SWT agar anak-anak mudah ini terhindar dari zinah dan pergaulan bebas," katanya.

Mardianto mengaku dengan tegas kalau dirinya tidak mau menikahkan calon pengantin, yang diketahui calon wanitanya ternyata sudah tidak perawan lagi atau hamil di luar nikah.

= = =

"Sudah pernah dilaporkan ke Kakanwil Kemenag, tetapi saya sudah berikan penjelasan. Dan kini terus jalan," katanya. Diketahui, ternyata Ust Mardianto tidak hanya melayani permintaan warga di Desa Tanjung Menang saja, tetapi juga di beberapa desa tetangga. "Kalau tidak ada bukti tes keperawanan, saya tidak mau menikahkan," kata Mardianto.

Darwis (49), warga desa setempat, mengaku mendukung langkah yang diambil Ust Mardianto. Bagi warga, Ust Mardianto tidak hanya sebagai P3N, tetapi juga tokoh masyarakat.

Makanya, niat baik Ust Mardianto didukung warga karena tujuannya baik. Terlebih, proses akad nikah dilakukan di masjid yang sudah menjadi tradisi sejak dari generasi sebelumnya.

"Kalau mau nikah di desa, harus bersih dan dibuktikan dari surat keterangan bidan desa. Itu artinya, anak perempuan Desa Tanjung Menang ini, dijamin," katanya.

Hal senada dikatakan warga lainnya. Bahkan, surat keterangan keperawanan/hasil visum dari luar (Rumah sakit/klinik), keabsahannya belum 100 persen dipercaya.

"Si calon pengantin wanita harus dikonfirmasi ke bidan desa lagi. Jika kata bidan desa masih perawan, akan dinikahkan," katanya.

Baik Darwis maupun warga lainnya, sepertinya di desanya tidak memberi pilihan atau tempat untuk melaksanakan nikah sirih atau bawah tangan.

"Kalau ada warga yang mau menikah dengan kondisi bermasalah, silahkan diluar. Kami tidak mau tanggungjawab," kata Darwis. (sin/cr28)

Penulis: Rahmad Zilhakim
Editor: Igun Bagus Saputra
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved