Berita Palembang

Ramai Istilah Debat Contekan' Pasca Debat Capres Perdana. Ini Kata Pengamat Politik dan Kedua Tim

Bahkan salah satu Instagram memposting pemberitaan berjudul DEBAT PERDANA CAPRES & CAWAPRES DINILAI "Isi kertas Vs Kepala"

Ramai Istilah Debat Contekan' Pasca Debat Capres Perdana. Ini Kata Pengamat Politik dan Kedua Tim
Tribun Bogor
Debat Pilpres 2019 yang akan digelar pada Kamis (17/1/2019) dan disiarkan langsung di Kompas TV, TVRI, RTV dan RRI 

Nopran mencontohkan, seperti saat dirinya duduk di legislatif dulu, gaji di DPRD Sumsel hanya Rp 10 juta, padahal kita ada konsituen yang sakit, meninggal untuk dibesuk dan ada juga kerabat minta tolong pasti dibantu.

Termasuk juga gaji kepala daerah, seorang Walikota atau Bupati yang resmi menerima gaji paling sebesar Rp 25 juta, padahal dia memegang anggaran lebih dari Rp 2 T lebih, padahal jika menerima gaji sebulan Rp 100 juta manfaatnya akan lebih terasa.

"Jadi paslon 02 menyampaikan pergulatan lebih banyak masalah ekonomi, sebab dari ekonomi itulah timbul teroris, korupsi dan sebagainya, termasuk ketidak adilan dalam hukum yang tumpul diatas tajam dibawah, menjadi masyarakat kecewa dan menumbuhkan radikalisme. Maka diperlukan perbaikan sistem hukum adil dan kesejahteraan bagi masyarakat," bebernya.

Calon anggota legislatif (Caleg) DPRD Kabupaten Lahat ini, dengan melihat hasil penampilan debat tersebut, jelas diakui Nopran paslon Prabowo- Sandiaga unggul telak atas Jokowi- Ma'aruf

"Kalau dibilang skornya, dari 6 segmen yang ada 5:1, jika melihat kesesuaian tema dengan isi, penguasaan materi, kekompakan, dan ssbagainya. Sementara cawapres 01 Ma'aruf kita lihat tugasnya hanya ambil bola dan tidak diberikan kesempatan menjawab, selain itu Capres 01 Jokowi dalam menjawab pertanyaan melihat contekan dari tim, bukan karena kemampuan," pungkasnya.

Bahkan pengamat sosial dan politik DR Ardiyan Saptawan MSi menilai Capres no 01 terkesan tidak menguasai dengan harus mencatat dan membuka literatur.

"Sebenarnya tidak ada aturan, bukan boleh atau tidak boleh. Tapi orang nyontek itu tanda tidak mampu," kata Ardiyan Saptawan.

Desen Fisip unsri dan Pasca Sarjana ini menyayangkan penampilan Capres 01 yang terkesan berupaya mendeskreditkan Capres 02 dan partai yang dipimpinnya.

"Seharusnya dia kan level presiden itu Top, bukan seorang level pelaksana. Beberapa catatan saya lihat semalam itu mestinya dipakai manajemen strategis. Jadinya blunder seperti Capres 02 mempertanyakan kenapa ada kepala daerah yang mendukung Paslon 01 dibiarkan. Sementara Kepala Desa dukung Paslon 02 ditangkap. Saya melihat Capres 01 tidak tepat selalu menjawabnya kenapa tidak dilaporkan. Laporkan saja. Menurut saya itu jawaban seorang pelaksana. Seharusnya sebagai presiden dijawab SIAPA ORANG ITU," kata Ardiyan.

Ardiyan justru menilai Capres 02 sepertinya terkejut mendengar Capres 01 menjawab dengan jawaban teknis.

Halaman
123
Penulis: Abdul Hafiz
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved