News Video Sripo

Video Tanah Bekas Galian LRT Palembang Jadi Kerajinan Bernilai Jutaan Rupiah

Berawal dari rasa penasaran saat melihat tumpukan bekas tanah galian proyek LRT Palembang, dua seniman patung asal Yogyakarta berhasil mengolahnya

Laporan wartawan Sripoku.com, Rahmad Zilhakim

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Berawal dari rasa penasaran saat melihat tumpukan bekas tanah galian proyek LRT Palembang, dua seniman patung asal Yogyakarta berhasil mengolahnya menjadi kerajinan patung yang mendatangkan untung jutaan rupiah.

Sigit dan Rudi, dua seniman yang enam tahun lalu memutuskan pindah ke Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin Sumsel untuk menggeluti sanggar seni 'Sastra Mataya' dan kerajinan patung, mengaku penasaran ketika melihat tanah galian proyek LRT di Palembang.

"Saat itu kami memang lagi cari-cari tanah buat kerajinan patung, kami keliling ke beberapa titik lalu ketemu tanah merah dan tanah liat, tapi begitu kami proses ternyata 2 hari sudah pecah. Sampai akhirnya kami lihat tanah bekas galian LRT kok warnanya agak hitam keunguan, karena penasaran kemudian kami ambil lalu proses, hasilnya luar biasa, tingkat ketahanannya sangat bagus," kata Rudi dijumpai Sripoku.com, Senin (10/12/2018).

Menurut Rudi yang sejak puluhan tahun menggeluti kerajinan patung, tanah bekas galian LRT Palembang memiliki kualitas setara dengan tanah di Jepang dengan karakteristik padat, kuat dan memiliki tingkat kerekatan tinggi.

Penemuan dan eksperimen tersebut menjadi berkah bagi Rudi dan kerajinannya. Sebab, sejak pindah ke Palembang mereka membuat patung berkontur tanah hanya dari clay.

"Tapi claynya itu kurang tahan dengan panas juga, tidak seperti clay di Jogjakarta, makanya dulu sebelum ketemu tanah LRT kami agak jarang buat patung berkontur tanah, kalo sekarang sudah lumayan banyak," ujar Rudi.

Tanah bekas LRT yang digunakan ini merupakan lapisan ke empat yang agak dalam, lantaran harus membakar tanah dengan suhu 1.000 derajat celcius saat proses pembuatan agar patung-patung kuat, semakin panas maka semakin kuat.

Ia menilai, tanah di Kota Palembang merupakan kekayaan alam dengan kualitas sangat bagus, setidaknya lebih baik dari tanah di Jawa bagi pematung.

"Kalau di Jawa proses penyaringannya lebih rumit karena tanahnya halus banyak batu-batu kecil yang harus dihilangkan, mungkin karena topgrafinya pegunungan, beda kalau di sini tidak sulit," ujar Rudi.

Rudi dan Sigit tak mau menyia-nyiakan kesempatan, mereka langsung memboyong tanah bekas galian LRT ke Sanggarnya yang berjarak 30 kilometer lebih sebanyak 1 mobil truk.

Dari tanah tersebut kerajinannya sudah membuat puluhan patung dari ukuran terkecil 10 centimeter sampai 1,5 meter yang dipasarkan banyak ke luar Sumsel dan biasanya pesanan paling banyak untuk gereja-gereja.

Dengan meningkatnya produksi patung tanah tersebut, alhasil Rudi dan Sigit sudah meraup untung jutaan dari mengolah tanah bekas galian proyek LRT dengan sentuhan seni ukir patung.

"Kita sudah menemukan dan mengambil tanah dengan kualitas sama baiknya dari daerah Serong Kabupaten Banyuasin, tanah tersebut juga mulai digunakan banyak pengrajin gerabah dan batu bata oleh masyarakat setempat," jelasnya.

Penulis: Rahmad Zilhakim
Editor: Igun Bagus Saputra
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved