Berita Palembang

Kisah Mantan Napiter di Palembang Keliru Pahami Jihad, Taif Bersyukur Masih Diterima Masyarakat

Menyandang seorang mantan napi teroris (napiter), tentu saja membuat Abdurrahman Taif sempat khawatir akan kehidupannya pasca bebas dari jeruji besi.

Kisah Mantan Napiter di Palembang Keliru Pahami Jihad, Taif Bersyukur Masih Diterima Masyarakat
SRIPOKU.COM/YULIANI
Rumah mantan Napi Teroris jaringan Al Qaedah kelompok Palembang Taif, yang berlokasi di Lebong Siarang. 

Tetap Dipantau dan Dibina

Direktur Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumsel, Dr Feriansyah mengatakan, sebenarnya aksi radikalisme dan terorisme atas nama apapun merupakan hal yang melenceng. Paham ini biasanya tumbuh melalui perbedaan berbagai gagasan dan keadilan yang tidak merata kemudian memanas tanpa melalui pendampingan. “Ciri-ciri yang sangat umum sudah mulai mengikuti aliran teroris, intoleran, fanatik, ekslusif, revolusioner. Tentu saja yang bersifat statis dalam aksi nyata dan kekerasan,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat selama ini hanya mengenal radikalisme identik dengan terorisme dan kekerasan. Namun sebenarnya selain radikalisme ada juga radikalisme skeptis. Paham skeptis ini adalah musuh dari nasional bahkan internasional sangat sulit diajak berdialog, sulit memikirkan orang banyak, fanatik dan merasapaling benar dan intoleran. “Masyarakat kita selama ini hanya mengenal radikal yang identik dengan kekerasan, dan tanpa disadari bahwa radikal skeptis juga lebih inten mengancam masyarakt. Kasus kelompok teroris jaringan Palembang ini misalnya,” ungkapnya.

Feri menilai, fenomena penyebaran paham radikal saat ini dilakukan melalui doktrinisasi dengan menyalahgunakan lingkungan sekolah, kampus, kelompok ibadah (pengajian) bahkan tempat ibadah itu sendiri. Ia berharap lembaga pendidikan maupun masyarakat umum bisa jeli melihat adanya indikasi penyebaran paham radikal di tempatnya masing-masing.

“Kami juga berharap tetap menjaga keharmonisan, dan memberi kesempatan kepada mantan napiter teroris untuk memperbaiki diri. Apalagi untuk kelompok Palembang sejauh ini laporannya cukup baik, sudah bisa membaur dan bersosialisasi di lingkungan sosial. Ini menandakan tidak ada intimidasi dan tekanan kepada mereka untuk kembali melanjutkan hidup,” jelasnya.

Apalagi sejauh ini potensi di wilayah Sumsel itu ada, dan pihaknya pernah turun ke lima kabupaten dengan menarik dua tim dari nasional maupun FPKT sendiri. Lalu FPKT sudah melakukan penelitian tahun 2015 kepada mahasiswa. “Dari 1.000 responden di tiga perguruan tinggi yang dilakukan penelitian, terlihat bahwa 5.53 persen berpotensi aksi radikalisme. Ada juga 27.7 persen mendukung aksi yang dilakukan gerakan Osama Bin Laden,” terangnya.

Mengenai masyarakat sendiri, hasil penelitian yang dilakukan pihaknya menunjukkan bahwa dari responden 56.0 persen daya tangkal terhadap radikal di Sumsel potensi radikal sedang. Menurutnya, paham ini biasanya tumbuh melalui perbedaan berbagai gagasan dan keadilan yang tidak merata kemudian memanas melalui media sosial yang dipahami masyarakat tanpa melalui pendampingan. “Kasus Taif ini membuktikan bahwa penerimaan pemahaman tanpa pendampingan akan membuat kekeliruan. Hingga akan bertindak yang merugikan orang banyak. Untunglah setelah diberi pemahaman selama menjalani masa tahanan kelompok teroris ini sadar. Alhamdulillah juga masyarakat mau mengerti dankami pun tetap memantau maupun membina mantan napiter teroris ini,” ujarnya. (Yuliani)

Baca: Lapar Pun Ditahan, 6 Artis Ini Ternyata Dulunya Miskin, No 4 Sekarang Jadi Biduan Dangdut Terkenal!

Baca: Ketum BASRI Eddy Sofyan Yakinkan Ronaldo Soal Amannya Penerbangan di Indonesia.

Penulis: Yuliani
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved