Berita Palembang

Kisah Mantan Napiter di Palembang Keliru Pahami Jihad, Taif Bersyukur Masih Diterima Masyarakat

Menyandang seorang mantan napi teroris (napiter), tentu saja membuat Abdurrahman Taif sempat khawatir akan kehidupannya pasca bebas dari jeruji besi.

Kisah Mantan Napiter di Palembang Keliru Pahami Jihad, Taif Bersyukur Masih Diterima Masyarakat
SRIPOKU.COM/YULIANI
Rumah mantan Napi Teroris jaringan Al Qaedah kelompok Palembang Taif, yang berlokasi di Lebong Siarang. 

Sayangnya setelah menekuni dagang nasi goreng selama tiga tahun, Taif sudah merasa bahwa terjadi penurunan omset yang ia dapat. Ia pun lantas kembali membuka jasa Bekam dan Rukiyah yang praktik di rumahnya maupun datang ke rumah-rumah pasien. “Untuk nasi goreng dan mi goreng sebenarnua masih, kalau ada pesanan saja. Setelah nggak jualan lgi saya menekuni profesi lama dan Alhamdulillah banyak pelanggan baru. Selain itu jual madu juga,” ujarnya.

Respon masyarakat pun positif, karena sebelum ditangkap ia dengan tetangga dan lingkungan dekat rumahnya sangat berhubungan baik. Jadi tetangga mengenal dirinya dan keluarga sebagai pribadi yang tidak ada masalah. Ketika ditngkap dan kasusnya teroris pun tidak menjadi antipati dengan dirinya.

“Bahkan saat baru-baru ditangkap, tetangga sekitar yang malah bantu ngurusi keluarga saya. Mungkin karena kasusnya kriminal (pidana umum) orang tidak peduli, tapi ini hanya masalah perbedaan ideologi. Memang ada beberapa orang yang tidak senang tapi tidak terlalu kelihatan. Alhamdulillah lingkungan disni baik,” terangnya.

Taif bersyukur tidak ada gesekan berarti di lingkungan masyarakat yang sudah menerima ia bertobat. Apalagi tidak ada yang merasa takut dengannya. Tak jarang ia pun kadang disuruh jadi imam di masjid. “Meskipun mereka tahu dulunya saya ini mantan napi teroris tapi tidak menghindar. Kalaupun pemikiran saya belum berubah mereka juga nggak masalah karena dipikirnya tidak akan merugikan. Kebetulan di lingkungan saya banyak orang Jawa dan Sekayu,” ujarnya.

Terlepas dari seperti apakah kesalahannya di masa lalu, Taif mencoba untuk memperbaikinya setelah bebas dan kembali berkumpul dengan keluarganya. Apalagi mendapat perlakuan yang cukup baik dari masyarakat di lingkungan tempat ia tinggal. “Jangan menyalahkan jihadnya, karena jihad tetap puncaknya dalam Islam dan keutamaannya banyak, jadi jangan dibuat lelucon. Hanya saja perlu mempelajari secara utuh, bagaimana jihad itu dilaksanakan. Jangan sampai salah kaprah dan salah ambil tindakan karena bisa mencelakakan orang banyak,” terangnya.

Terkait pandangannya sendiri tentang keberagaman yang ada di Indonesia, Taif mengaku sudah mengetahui bahkan memahami hal itu. Bahwa Indonesia bukanlah negara khilafah melainkan negara demokrasi dengan berbagai suku dan kepercayaan. Ia pun sangat menghargai toleransi dan budaya santun yang sudah mengakar dari nenek moyang.

“Yang terpikirkan pada saat itu hanyalah menyingkirkan kaum kafir (non muslim) melalui jihad Amaliyah. Ternyata saya sadar itu keliru, karena penerapannya kurang pas untuk negara ini. Saya sadar itu keliru, dan tentu saja jihad Amaliyah ini bisa dilakukan bagi kaum kafir yang dzalim kepada umat Muslim. Jihad yang diajarkan Rasulullah bukanlah kekerasan fisik dan situasi, melainkan pengorbanan akan membela agama Allah,” ungkapnya.

Kembalinya Taif pasca insiden penangkapan karena kasus terorisme beberapa tahun lalu ternyata masih segar di ingatan masyarakat, khususnya di lingkungan tempat tinggalnya. Salah satu warga keturunan Tionghoa, Subki yang tinggal tak jauh dari rumah Taif mengaku sudah mengetahui keterlibatan Taif dalam jaringan kelompok teroris. Kendati demikian, ia dan keluarganya tidak mempermasalahkan bahkan tidak merasa terganggu karena sejauh ini Taif berkelakuan baik dalam bersosialisasi.

“Kalau orangnya sendiri enak, mudah bergaul dengan siapapun dan ramah. Jadi sejauh ini tidak merasakan khawatir apapun. Lagipula dia (Taif) pasti sudah tobat dan menyadari kesalahannya selama ditahan kemarin,” ujarnya.

Baginya, siapapun Taif di masa lalu itu adalah urusan pribadi yang bersangkutan dan sudah diselesaikan secara hukum. Menurutnya sangat penting memberi kesempatan bagi Taif maupun kelompok teroris lainnya yang sudah bertobat untuk melanjutkan hidup. “Yang penting mereka tidak ada niatan untuk mencelakakan orang. Hidup itu ya, dibawa tenang saja. Toleransi saja kalau kita ini bermacam-macam suku dan agama,” jelas Subki.

Halaman
1234
Penulis: Yuliani
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved