Berita Palembang

Kisah Mantan Napiter di Palembang Keliru Pahami Jihad, Taif Bersyukur Masih Diterima Masyarakat

Menyandang seorang mantan napi teroris (napiter), tentu saja membuat Abdurrahman Taif sempat khawatir akan kehidupannya pasca bebas dari jeruji besi.

Kisah Mantan Napiter di Palembang Keliru Pahami Jihad, Taif Bersyukur Masih Diterima Masyarakat
SRIPOKU.COM/YULIANI
Rumah mantan Napi Teroris jaringan Al Qaedah kelompok Palembang Taif, yang berlokasi di Lebong Siarang. 

“Bukan jihadnya yang keliru, tapi kami yang mengamalkannya pada saat itu ada hal-hal yang diabaikan. Tentu saja efeknya tidak bagus, dan saat ini saya sadar itu keliru. Selain itu tidak ada motif lain maupun hasutan dari pembawa ajaran kepada kelompok kami pada saat itu. Murni karena keinginan dan pengorbanan kami yang tulus tanpa dijanjikan materi dunia. Yang kami tahu hanyalah akhir dari jihad ini adalah surga yang disambut dengan bidadari,” jelasnya.

Pada saat ditangkap tahun 2008 lalu karena masuk dalam jaringan teroris Noordin M Top, ia pun sempat merasakan aksi yang cukup keras dari aparat saat ditangkap. Jaringan kelompok Palembang pun lantas dibawa ke Mako Brimob untuk menjalani pemeriksaan. Namun karena tidak ada perlawanan dari kelompoknya, Taif mengaku setelah itu aparat memperlakukan mereka dengan baik.

“Pada saat saya ditangkap memang isu terorisme di Indonesia sedang memuncak, ditambah dengan peristiwa bom Bali. Polisi pun mencari seluruh kelompok jaringan teroris di setiap wilayah, termasuklah kita. Saat ditangkap selama dua minggu saya tidak diizinkan berkomunikasi dengan keluarga karena keperluan penyidikan,” tegasnya.

Saat ditangkap, jumlah teroris untuk jaringan kelompok Palembang ada sekitar 10 orang. Jaringan teroris Al Qaedah ini memang pada saat itu sedang gencar memerangi Amerika. Tuduhan karena terlibat jaringan teroris pun diperkuat dengan temuan sejumlah barang bukti yang mengarah kesana (aksi teror).

“Kami dibawa ke Jakarta semua. Namun diberi pilihan, apakah mau ditahan di Jakarta atau di Palembang. Saya tentu saja milih di Palembang saja, ada 6 orang yang dipindahkan ke Lapas Pakjo saat itu. Sedangkan 4 orang lagi ditahan di Jawa. Pendekatan Densus dan polisi juga sangat baik karena perlakukan kepada tahanan biasa saja. Yang keras itu pada saat ditangkap saja,” ungkapnya.

Setelah dipindahkan ke Lapas Pakjo selama satu tahun, ia pun dipindahkan ke Lapas Merah Mata. Ia pun harus menerima vonis dari hakim dengan masa tahanan 12 tahun penjara. Namun setelah 7 tahun, ia mendapat pembebasan bersyarat. “Masa hukuman sebagian besar kelompok Palembang hampir sama, rata-rata 12 tahun. Namun saya sudah keluar sejak 2015 dan mencoba memulai hidup baru dengan kembali kepada keluarga,” ungkapnya.

Diterima Masyarakat dan Memulai Usaha

Pasca keluar dari penjara, Taif sempat mengkhawatirkan bagaimana tanggapan masyarakat sekitar akan dirinya. Namun anggapan stigma negatif itu luruh saat ia kembali dan mencoba membaur kembali. “Sebelum ditahan saya sempat buka jasa pengobatan bekam dan rukiyah. Namun orangtua menyuruh saya buka usaha. Akhirnya saya berjualan nasi goreng dan mi goreng di simpang lima dekat rumah. Istri saya juga ikut membantu,” jelasnya.

Ia menceritakan, dulu saat ditangkap anaknya yang paling kecil baru berusia 4 tahun. Selebihnya ada yang sudah SD, SMP dan SMA. Taif mengaku yang jelas ketika anaknya di sekolah tidak ada masalah saat ayahnya ditahan karena kasus teroris. Walaupun ada yang tahu kasus tersebut, namun ia bersyukur orang-orang masih bisa menjaga nama baiknya di depan anak-anaknya.

“Mereka mengerti bahwa ini anak kecil, jadi harus dijaga perasaannya. Tidak ada intimidasi terhadap anak saya sekalipun di lingkungan sekolah. Itu yang terjadi pada keluarga saya, nggak tahu kalau ikhwan lain apakah juga mengalami,” ungkap Taif.

Halaman
1234
Penulis: Yuliani
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved